DEJA VU
Oleh:
Yenti Siti Nuryaman
Dingin malam ini terasa
menusuk kalbu. Aku membisu. Kedua bola mataku terus memperhatikan sekeliling
tempat ku berada. Ruang di depan mataku hitam dan gelap. Tidak ada satupun
cahaya yang bisa menjelaskan dimana keberadaanku. Jendela kecil berukuran 30x30
cm terletak persis diatasku. Memberi sedikit udara segar agar aku masih bisa
terus menghirup udara. Aku mencoba bangkit dari posisi asal. Meraba-raba
dinding dingin penuh debu. Berharap ada tombol lampu yang bisa memberiku
cahaya. Namun nihil, tak satupun ku temukan. Aku tidak ingat mengapa dan kenapa
aku ada di tempat seperti ini.
Ku susuri dinding demi
dinding. Kosong. Sunyi. Sepi. Hingga perlahan cahaya mulai datang dari
kejauhan. Meskipun tidak benderang, namun bisa sedikit membantuku melihat
dimana sebenarnya aku berada. Terlihat sekelompok ilalang menari bersama
hembusan angin. Membuat suasana menjadi sedikit lebih baik. Aku terus berjalan
menyusuri ilalang tersebut. Sesekali aku
menoleh ke belakang dan yang terlihat hanya bangunan tua yang kosong. Langkah ku
percepat sebisa mungkin, menembus kerikil demi kerikil yang menggores luka-luka
kecil di kakiku. Berharap secepatnya menemukan jalan keluar.
“Tolooonnngggggg....”
teriak seorang perempuan dari kejauhan.
Aku mencoba mencari
tahu apa yang sedang terjadi. Langkahku terhenti ketika dirasa sudah cukup
dekat dengan sumber suara. Tubuh mungilku sengaja ku sembunyikan dibalik
ilalang-ilalang itu. Aku kaget setengah mati. Kedua bola mataku menangkap
sebuah peristiwa yang mengerikan. Seseorang yang tak asing tengah dalam bahaya.
Kedua tangannya terikat. Bola matanya basah dibanjiri tangis. Keadaannya sangat
mengenaskan. Terlihat rambut nya yang sangat tak beraturan. Serta bercak-bercak
darah terus mengalir di beberapa titik di tubuhnya.
Aku terus bingung. Apa
yang sedang terjadi padanya? Aku ingin menolong. Tapi aku takut. Seorang pria
membelakangi tubuhku. Pakaiannnya serba hitam. Yang membuatku takut, dia
membawa senjata. Sebuah belati seperti sudah siap mencabik-cabik siapa saja
yang ada di hadapannya.
Perempuan itu terus
minta ampun. Namun, sang pria tak mempedulikannya. Belati itu ia ayunkan 80
derajat. Menghantam tubuh perempuan yang terlihat sudah lemah itu. Tak puas
hanya sekali cabikan. Pria itu seperti ketagihan mencabik-cabik tubuh perempuan
malang itu sembari diiringi gelak tawa. HAHAHA MATI LAH KAU! Katanya puas.
Ya Tuhan! Aku memekik. Apa
yang ku lihat di depan sana begitu nyata. Perempuan itu tewas seketika. Aku melangkah
mundur. Sebisa mungkin mencoba menjauh dari kejadian mengerikan itu. Sampai sebuah
duri mengenai kaki ku yang tak beralaskan dan membuatku menjerit pelan. Sialnya,
pria itu bisa mendengar pekikkan pelanku.
Tubuh pria itu perlahan
berbalik. “Heh! Siapa itu?” teriaknya.
Gawat! Aku terdiam
kaku. Kaki ku mati rasa. Aku berlari ke segala arah. Berusaha menjauh dan
mencari jalan keluar. Tapi ladang ilalang ini seperti tak punya jalan keluar. Aku
lupa dari mana aku datang. Aku gemetar. Berharap seseorang dapat menolong. Ya
Tuhan! Aku takuuttt. Tangisku.
Aku bersembunyi dibalik
ilalang yang rimbun. Sambil menangisi nasib ku kedepan. Aku tak mau berakhir
seperti ini. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku tak mau mati konyol. Pikirku.
Wajahku panas. Aku putus
asa. Aku lelah berlari. Aku hampir pingsan karna terus berlari tanpa tujuan. Habis
sudah tenaga ku. Aku terus berdoa sambil terus menangis. Berharap pria itu tak
menemukan keberadaanku.
Terdengar langkah kaki
yang semakin mendekat. Tangan ku gemetar. Aku takut mati. Aku belum mau mati. Ku
rangkul kedua kaki ku. Lalu kutenggelamkan kepalaku kedalamnya. Aku tak sanggup
melihat pria itu. Aku pasrah. Aku menyerah.
Sepasang sepatu hitam
terlihat sudah didepanku. Mungkin pria itu sudah menemukanku. Aku memohon ampun
sambil tetap merunduk. Namun, pria itu menarik tanganku kasar. Bulir-bulir air
menyentuh kulit tanganku. Hei, dia
menangis? Bingung campur takut menyelimutiku. Ku arahkan kepalaku ke
wajahnya. Memastikan siapa rupanya pria mengerikan itu. Mataku terbelalak. Mulutku
menganga. “Kamuuuu....!” aku kaget setengah mati.
“Kenapa? Kaget? Kamu harus
mati bersama temanmu itu! Hahahahaha” ekspresinya menggambarkan kemarahan yang
luar biasa.
Aku hanya bisa
menyesali semuanya sambil menangis “Maaf... maafkan aku.”
Tanpa aba-aba, belati
itu ia ayunkan ke arahku. Pandanganku seketika gelap. Aku tidak dapat merasakan
semilir angin. Pun tidak dapat mengingat
siapa pria itu. Pandanganku teramat gelap.
Apa aku sudah mati?
Aku terbangun dengan
nafas tak beraturan.
“Ternyata hanya mimpi.”
Pikirku lega.
Aku bergegas dari
tempat tidurku. Segera mencuci wajah, memastikan aku tidak lagi berada di dalam
mimpi mengerikan itu. Ku pandangi wajahku dari pantulan cermin kamar mandi. Rasa
takut itu masih terus membayangi. Mimpi yang seperti sebuah kenyataan. Jantungku
masih berdebar kencang.
Semilir angin berhembus
entah darimana. Padahal, yang ku tahu kamar mandi ini tak mempunyai ventilasi. Bulu
kudukku seketika merinding. Terdengar sebuah suara seperti terbawa angin “Kamu harus mati.” Ku edarkan mata ke
segala penjuru. Tak ada siapapun disini. Hanya aku. Keringat dingin mulai
bercucuran. Aku berlari ketakutan. Namun, sesuatu menghalangi jalanku. Aku tersandung.
Dan saat itulah muncul sosok bayangan putih yang melayang di udara. Sosok itu
tak mengatakan apapun. Ia hanya menangis tersedu-sedu. Kain putih yang ia
kenakan bersimbah darah. Perlahan, sosok itu mendekat. Menampakkan wajahnya
yang penuh kesedihan dan kesakitan.
Aku menjerit ketakutan.
Aku bangkit sekuat tenaga. Aku mencoba berlari sekencang mungkin. Tapi sosok
itu masih terus mengikutiku. Suasana menjadi sangat mencekam ketika ia
mengeluarkan suara tangisan khas hantu sejenisnya. Suasana diluar sangat sepi
sekali. Aku tak tahu harus minta tolong pada siapa.
Sampai akhirnya aku
memutuskan untuk menjumpai sahabatku, Arel. Sesampainya disana, rumah Arel
terlihat sepi tak berpenghuni. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah.
Tiba-tiba saja, nafasku
pengap. Seseorang seperti mendekap mulut dan hidungku dari belakang. Seketika itu
penglihatanku menjadi gelap.
Setelah lama terpejam,
akhirnya aku mulai membuka mata. Hawa dingin menusuk kalbu. Sudah malam
ternyata. Ku perhatikan sekeliling ku. “Hei,
aku tahu tempat ini. Ini seperti... deja vu...”
Aku seperti tengah
mengulang adegan demi adegan yang pernah aku alami di mimpi. Semua ini benar
nyata sekarang. Aku hanya ingin terbangun dan memastikan bahwa aku sedang
bermimpi lagi. Tapi sial, ternyata ini bukan mimpi.
Ku lihat Arel dengan
sangat mengenaskan dengan tangan terikat juga tubuh yang penuh darah
dimana-mana. Aku bertanya-tanya “Apa yang sebenarnya terjadi pada Arel? Dan siapa
pria mengerikan itu.”
Arel mati dengan
mengenaskan di depan mataku. Aku ketakutan. Ketakutan ku memuncak saat pria itu
sudah didepan mata. Ku pandangi dengan berani sosok pria pembunuh itu. Tapi tenyata,
“Kamuuu....!” kagetku tak tertahankan.
Pria itu hanya menatap
penuh amarah.
“Kenapa kamu membunuh
Arel? Apa salah dia?” tanya ku dengan nada penuh ketakutan.
“Kamu masih bertanya? Setelah
apa yang kamu perbuat pada Mila? IYA?!” dia berteriak.
“Mila? Itu sebuah
kecelakaan. Aku dan Arel tak bermaksud membunuh Mila. Ku mohon, lepaskan aku.”
tangisku tak tertahankan.
Rey
tersungkur diatas tanah. Ia mengeluarkan air mata. “Aku dan Mila sudah
memutuskan akan menikah bulan depan. Tapi kalian? Kalian menghancurkan mimpi
kita berdua. Puas kalian HAH?!”
“Rey,
ku mohon maafkan aku. aku dan Arel tak sengaja menabrak Mila. Itu murni sebuah kecelakaan.”
“Kecelakaan
katamu? Lalu, kenapa kalian tidak membawa Mila ke rumah sakit segera? Kalian malah
mengubur Mila secara tak layak. Apa itu patut dinamakan sebuah kecelakaan?!”
“Maafkan
kami Rey, kami hanya bingung. Kami terlalu takut untuk berpikir jernih. Kumohon
lepaskan aku...” aku hanya menagis penuh sesal.
“Kamu
harus mati bersama temanmu itu! Hahahahaha” ekspresinya menggambarkan kemarahan
yang luar biasa.
Aku hanya bisa
menyesali semuanya sambil menangis “Maaf... maafkan aku.”
Tanpa aba-aba, belati
itu ia ayunkan ke arahku.
Pandanganku seketika
gelap.
Aku tidak dapat
merasakan semilir angin.
Pandanganku teramat
gelap.
Jiwa ku seakan ikut
terbawa angin.
Ketakutanku seketika
hilang.
Aku,
Melayang.
ih bagus banget ceritanya, seram sampe terbawa suasana, entah kenapa aku jadi makin sayang sama kakak yg buat cerpen ini, terimakasih kak udah hadir didalam benakku
BalasHapus