Minggu, 12 Agustus 2018

Cepen "DEJA VU"

DEJA VU
Oleh: Yenti Siti Nuryaman

Dingin malam ini terasa menusuk kalbu. Aku membisu. Kedua bola mataku terus memperhatikan sekeliling tempat ku berada. Ruang di depan mataku hitam dan gelap. Tidak ada satupun cahaya yang bisa menjelaskan dimana keberadaanku. Jendela kecil berukuran 30x30 cm terletak persis diatasku. Memberi sedikit udara segar agar aku masih bisa terus menghirup udara. Aku mencoba bangkit dari posisi asal. Meraba-raba dinding dingin penuh debu. Berharap ada tombol lampu yang bisa memberiku cahaya. Namun nihil, tak satupun ku temukan. Aku tidak ingat mengapa dan kenapa aku ada di tempat seperti ini.

Ku susuri dinding demi dinding. Kosong. Sunyi. Sepi. Hingga perlahan cahaya mulai datang dari kejauhan. Meskipun tidak benderang, namun bisa sedikit membantuku melihat dimana sebenarnya aku berada. Terlihat sekelompok ilalang menari bersama hembusan angin. Membuat suasana menjadi sedikit lebih baik. Aku terus berjalan menyusuri ilalang tersebut.  Sesekali aku menoleh ke belakang dan yang terlihat hanya bangunan tua yang kosong. Langkah ku percepat sebisa mungkin, menembus kerikil demi kerikil yang menggores luka-luka kecil di kakiku. Berharap secepatnya menemukan jalan keluar.

“Tolooonnngggggg....” teriak seorang perempuan dari kejauhan.

Aku mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Langkahku terhenti ketika dirasa sudah cukup dekat dengan sumber suara. Tubuh mungilku sengaja ku sembunyikan dibalik ilalang-ilalang itu. Aku kaget setengah mati. Kedua bola mataku menangkap sebuah peristiwa yang mengerikan. Seseorang yang tak asing tengah dalam bahaya. Kedua tangannya terikat. Bola matanya basah dibanjiri tangis. Keadaannya sangat mengenaskan. Terlihat rambut nya yang sangat tak beraturan. Serta bercak-bercak darah terus mengalir di beberapa titik di tubuhnya.

Aku terus bingung. Apa yang sedang terjadi padanya? Aku ingin menolong. Tapi aku takut. Seorang pria membelakangi tubuhku. Pakaiannnya serba hitam. Yang membuatku takut, dia membawa senjata. Sebuah belati seperti sudah siap mencabik-cabik siapa saja yang ada di hadapannya.

Perempuan itu terus minta ampun. Namun, sang pria tak mempedulikannya. Belati itu ia ayunkan 80 derajat. Menghantam tubuh perempuan yang terlihat sudah lemah itu. Tak puas hanya sekali cabikan. Pria itu seperti ketagihan mencabik-cabik tubuh perempuan malang itu sembari diiringi gelak tawa. HAHAHA MATI LAH KAU! Katanya puas.

Ya Tuhan! Aku memekik. Apa yang ku lihat di depan sana begitu nyata. Perempuan itu tewas seketika. Aku melangkah mundur. Sebisa mungkin mencoba menjauh dari kejadian mengerikan itu. Sampai sebuah duri mengenai kaki ku yang tak beralaskan dan membuatku menjerit pelan. Sialnya, pria itu bisa mendengar pekikkan pelanku.

Tubuh pria itu perlahan berbalik. “Heh! Siapa itu?” teriaknya.

Gawat! Aku terdiam kaku. Kaki ku mati rasa. Aku berlari ke segala arah. Berusaha menjauh dan mencari jalan keluar. Tapi ladang ilalang ini seperti tak punya jalan keluar. Aku lupa dari mana aku datang. Aku gemetar. Berharap seseorang dapat menolong. Ya Tuhan! Aku takuuttt. Tangisku.

Aku bersembunyi dibalik ilalang yang rimbun. Sambil menangisi nasib ku kedepan. Aku tak mau berakhir seperti ini. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku tak mau mati konyol. Pikirku.

Wajahku panas. Aku putus asa. Aku lelah berlari. Aku hampir pingsan karna terus berlari tanpa tujuan. Habis sudah tenaga ku. Aku terus berdoa sambil terus menangis. Berharap pria itu tak menemukan keberadaanku.

Terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. Tangan ku gemetar. Aku takut mati. Aku belum mau mati. Ku rangkul kedua kaki ku. Lalu kutenggelamkan kepalaku kedalamnya. Aku tak sanggup melihat pria itu. Aku pasrah. Aku menyerah.

Sepasang sepatu hitam terlihat sudah didepanku. Mungkin pria itu sudah menemukanku. Aku memohon ampun sambil tetap merunduk. Namun, pria itu menarik tanganku kasar. Bulir-bulir air menyentuh kulit tanganku. Hei, dia menangis? Bingung campur takut menyelimutiku. Ku arahkan kepalaku ke wajahnya. Memastikan siapa rupanya pria mengerikan itu. Mataku terbelalak. Mulutku menganga. “Kamuuuu....!” aku kaget setengah mati.

“Kenapa? Kaget? Kamu harus mati bersama temanmu itu! Hahahahaha” ekspresinya menggambarkan kemarahan yang luar biasa.

Aku hanya bisa menyesali semuanya sambil menangis “Maaf... maafkan aku.”

Tanpa aba-aba, belati itu ia ayunkan ke arahku. Pandanganku seketika gelap. Aku tidak dapat merasakan semilir  angin. Pun tidak dapat mengingat siapa pria itu. Pandanganku teramat gelap.

Apa aku sudah mati?

Aku terbangun dengan nafas tak beraturan.

“Ternyata hanya mimpi.” Pikirku lega.

Aku bergegas dari tempat tidurku. Segera mencuci wajah, memastikan aku tidak lagi berada di dalam mimpi mengerikan itu. Ku pandangi wajahku dari pantulan cermin kamar mandi. Rasa takut itu masih terus membayangi. Mimpi yang seperti sebuah kenyataan. Jantungku masih berdebar kencang.

Semilir angin berhembus entah darimana. Padahal, yang ku tahu kamar mandi ini tak mempunyai ventilasi. Bulu kudukku seketika merinding. Terdengar sebuah suara seperti terbawa angin “Kamu harus mati.” Ku edarkan mata ke segala penjuru. Tak ada siapapun disini. Hanya aku. Keringat dingin mulai bercucuran. Aku berlari ketakutan. Namun, sesuatu menghalangi jalanku. Aku tersandung. Dan saat itulah muncul sosok bayangan putih yang melayang di udara. Sosok itu tak mengatakan apapun. Ia hanya menangis tersedu-sedu. Kain putih yang ia kenakan bersimbah darah. Perlahan, sosok itu mendekat. Menampakkan wajahnya yang penuh kesedihan dan kesakitan.

Aku menjerit ketakutan. Aku bangkit sekuat tenaga. Aku mencoba berlari sekencang mungkin. Tapi sosok itu masih terus mengikutiku. Suasana menjadi sangat mencekam ketika ia mengeluarkan suara tangisan khas hantu sejenisnya. Suasana diluar sangat sepi sekali. Aku tak tahu harus minta tolong pada siapa.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjumpai sahabatku, Arel. Sesampainya disana, rumah Arel terlihat sepi tak berpenghuni. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah.

Tiba-tiba saja, nafasku pengap. Seseorang seperti mendekap mulut dan hidungku dari belakang. Seketika itu penglihatanku menjadi gelap.

Setelah lama terpejam, akhirnya aku mulai membuka mata. Hawa dingin menusuk kalbu. Sudah malam ternyata. Ku perhatikan sekeliling ku. “Hei, aku tahu tempat ini. Ini seperti... deja vu...”

Aku seperti tengah mengulang adegan demi adegan yang pernah aku alami di mimpi. Semua ini benar nyata sekarang. Aku hanya ingin terbangun dan memastikan bahwa aku sedang bermimpi lagi. Tapi sial, ternyata ini bukan mimpi.

Ku lihat Arel dengan sangat mengenaskan dengan tangan terikat juga tubuh yang penuh darah dimana-mana. Aku bertanya-tanya “Apa yang sebenarnya terjadi pada Arel? Dan siapa pria mengerikan itu.”

Arel mati dengan mengenaskan di depan mataku. Aku ketakutan. Ketakutan ku memuncak saat pria itu sudah didepan mata. Ku pandangi dengan berani sosok pria pembunuh itu. Tapi tenyata, “Kamuuu....!” kagetku tak tertahankan.

Pria itu hanya menatap penuh amarah.

“Kenapa kamu membunuh Arel? Apa salah dia?” tanya ku dengan nada penuh ketakutan.

“Kamu masih bertanya? Setelah apa yang kamu perbuat pada Mila? IYA?!” dia berteriak.

“Mila? Itu sebuah kecelakaan. Aku dan Arel tak bermaksud membunuh Mila. Ku mohon, lepaskan aku.” tangisku tak tertahankan.

            Rey tersungkur diatas tanah. Ia mengeluarkan air mata. “Aku dan Mila sudah memutuskan akan menikah bulan depan. Tapi kalian? Kalian menghancurkan mimpi kita berdua. Puas kalian HAH?!”

            “Rey, ku mohon maafkan aku. aku dan Arel tak sengaja menabrak Mila. Itu murni sebuah kecelakaan.”

            “Kecelakaan katamu? Lalu, kenapa kalian tidak membawa Mila ke rumah sakit segera? Kalian malah mengubur Mila secara tak layak. Apa itu patut dinamakan sebuah kecelakaan?!”

            “Maafkan kami Rey, kami hanya bingung. Kami terlalu takut untuk berpikir jernih. Kumohon lepaskan aku...” aku hanya menagis penuh sesal.

            “Kamu harus mati bersama temanmu itu! Hahahahaha” ekspresinya menggambarkan kemarahan yang luar biasa.

Aku hanya bisa menyesali semuanya sambil menangis “Maaf... maafkan aku.”

Tanpa aba-aba, belati itu ia ayunkan ke arahku.

Pandanganku seketika gelap.

Aku tidak dapat merasakan semilir  angin.

Pandanganku teramat gelap.

Jiwa ku seakan ikut terbawa angin.

Ketakutanku seketika hilang.

Aku,


Melayang.

1 komentar:

  1. ih bagus banget ceritanya, seram sampe terbawa suasana, entah kenapa aku jadi makin sayang sama kakak yg buat cerpen ini, terimakasih kak udah hadir didalam benakku

    BalasHapus