Senin, 25 Juni 2018

Cerpen "Ber-un-tung"


Ber-un-tung
Oleh: Yenti Siti Nuryaman

 Kicauan burung-burung camar membuat pagi semakin hidup. Helaan angin yang berhembus menabrak helai demi helai rambut Meisaki yang sengaja dibiarkan terurai. Kain abu-abu selutut yang ia kenakan seolah ikut tersapu angin. Namun Mei seperti enggan untuk menegur ataupun memberontak. Ia tetap berjalan dengan kokoh dan dengan langkah yang semakin dipercepat.

“Ah sial! Aku terlambat lagi.” Gerutu Mei dalam hati.

            Kali ini, bukan hanya angin yang ia hiraukan. Batu-batu yang tergeletak disekitar jalan yang akan ia tempuh juga tak ia pedulikan. Ia terus melaju dengan ganasnya. Sampai tiba saat ia harus terluka karena sebuah kulit pisang yang tergeletak disela-sela batu itu.

            Gubrakkk!

            Shittt! Sakit banget!” Mei kesakitan sambil mencoba bangkit dari jatuhnya. Ia seka sisa-sisa tanah yang menempel pada tumit dan lutut yang sedikit mengeluarkan darah itu.

            Ia bangkit dengan sekuat tenaga. Kali ini langkahnya agak sempoyongan menahan sakit. Namun, ternyata tekad untuk tiba lebih cepat amat sangat berpengaruh dibanding rasa sakit yang terus-menerus menghantui.

            Setelah sekitar 15 menit ia bergelut dengan rasa sakit pada bekas luka yang beberapa waktu lalu mendera, akhirnya ia tiba di tempat yang seharusnya ia datangi 60 menit lebih awal.

            Matanya ia edarkan ke seluruh penjuru. Mencari satu dari sekian ribu manusia yang tengah berlalu-lalang. Ia bukan perempuan bodoh, jika saja handphone nya sempat ia bawa sebelum berangkat pasti ia akan segera menghubungi orang yang akan ditemuinya itu.

            “Apa dia udah pulang yah?” tanya Mei pada dirinya sendiri.

            Setelah lelah mencari sesuatu yang tak kunjung ia temukan, akhirnya Mei memutuskan untuk tetap membeli tiket masuk sebuah event Jepang yang tadinya akan ia datangi bersama rekannya itu.

            Semua berjalan diluar ekspektasi. Mei menikmati keseruan event hanya seorang diri. Sorak-sorak orang bergembira hanya seperti teriakan seekor semut yang sedang meneriaki dirinya. Sunyi, sepi. Itu yang ia rasakan.

            Wajah yang sengaja ia poles dengan make up agar terlihat lebih cantik ia bentuk tertekuk seolah tak semangat. Hingga tiba di penghujung acara. Saat Tulus menyanyikan sebuah lagu penutup berjudul “Monokrom”, Mei berdiri di barisan tengah sambil sesekali tersenyum membayangkan hal-hal indah jika saja saat ini ia ditemani rekannya itu.

            “Mei?!” sebuah suara pria menghentikan lamunannya itu. Sontak matanya langsung tertuju pada kemungkinan arah suara itu berasal.

            Dahi nya bergeming. Alisnya yang agak tebal sengaja ia naikkan dari posisi asal. Mulutnya ia biarkan sedikit terbuka.

            “Alvin?” nada suara Mei agak meninggi karena masih tidak percaya akan bertemu dengan pria itu ditempat seperti ini.

            Bukannya Alvin yang mendekat ke arah Mei, melainkan Mei yang mendekat ke arah Alvin. “Vinnnn...” ucap Mei sambil masih setengah tidak percaya.

            “Apa kabar?” tanya Alvin ketika jarak Mei dan dirinya hanya beberapa centi.

            Kedua mata Mei berbinar. Cahaya lampu-lampu yang ada di sekitar yang memantul pada bayangan mata Mei membuat matanya semakin bercahaya. Mei tidak menjawab pertanyaan Alvin. Yang ia lakukan hanya menatap mata Alvin dan membisu.

            Alvin terheran dengan tingkah Mei yang seperti itu. Sekilas ia melihat luka pada tumit dan lutut Mei yang sudah terlihat samar-samar. Diraihnya tangan Mei secara seketika dan berhasil membuat kebisuan dan lamunan Mei terpecah belah.

            “Tumit kamu kenapa? Lutut kamu juga!” tanpa basa-basi Alvin segera menghujani Mei dengan berbagai pertanyaan.

            Degh...

            “Tadi akuuu...”

            Belum sempat Mei menjawab, tiba-tiba saja tangan nya ditarik paksa oleh seseorang yang entah datang dari arah mana.

            “Mei! Kamu kemana aja? Aku khawatir. Handphone kamu kenapa gak bisa dihubungi? Aku kira kamu gak jadi dateng?” ucap pria bertubuh standar dengan kulit sedikit cokelat ke timur-timuran serta berparas lumayan itu.

            “Lielllll... yaampun daritadi aku cari kamu, handphone ku ketinggalan dirumah. Tadi aku juga kesiangan. Aku kira kamu yang gak jadi dateng, jadi aku beli tiket sendirian.”

            “Yaampunnnn, ceroboh banget sih Mei ku iniiii.” Gemas Liel-pacar Mei sambil mencubit kedua pipi Mei secara bersamaan.

            Melihat itu, Alvin segera berpamitan kepada Mei dan juga Liel.

            Mei yang baru sadar dengan kepergian Alvin segera mengejar langkah Alvin karena merasa tidak enak sudah menghiraukan keberadaannya. Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Alvin kembali melangkah pergi meninggalkan Mei dan juga Liel.
           
Setelah pertemuan tak terduga itu, Alvin dan Mei menjadi sering berkomunikasi intents. Malah tak jarang, Alvin sering menemani Mei melepas jenuh ketika Liel tak bisa menemaninya.

Keduanya seolah tengah de javu. Mengulang semua masa-masa indah yang pernah mereka rangkai tatkala masih bersama dulu. Membuat perhatian Mei teralihkan sepenuhnya pada Alvin sehingga Liel sudah tak ia anggap keberadaannya lagi.

Menyadari ada yang berubah pada diri Mei, Liel bertanya-tanya dan sebisa mungkin mencari tahu apa penyebab Mei seperti itu.

Awan cerah seolah berubah jadi mendung, suara ramai burung-burung bersahutan seolah lenyap begitusaja, semilir angin yang menyejukkan hati juga seolah terhenti. Semangatnya benar-benar hilang. Jiwa nya benar-benar melemah. Ia begitu mencintai Mei dengan setulus hati. Perempuan pertama yang membuat ia merasa jadi manusia paling beruntung. Bagaimana tidak? Perempuan secantik dan sebaik Mei mau ketika ia ajak berkencan meskipun dengan keadaan diri yang jauh dari kata sempurna.

“Mei...” desah nya pelan sambil memandang kosong ke arah lapangan bola yang terletak di depan nya.

Dari kejauhan, terlihat Mei sedang berjalan kearah Liel. Mei tersenyum, tapi senyum itu terasa asing bagi Liel.

Mei mengambil posisi duduk tepat disebelah Liel. Diraihnya tangan Mei dengan lembut. Tapi Mei seolah menjauhkan tangannya dan menjaga jarak. Membuat rasa bingung Liel kian membesar.

“Mei...” Liel membuka percakapan.

“Liel... maaf.” Sergah Mei.

“Aku udah gabisa lanjutin hubungan kita. Maaf...”

Liel tak terlalu kaget mendengar pernyataan Mei yang secara tiba-tiba itu. Ia sudah menduga hal seperti ini akan segera datang. Hanya saja, rasa tak pernah bisa sekalipun berdusta. Ia masih ingin Mei terus bersamanya. Meskipun ia tahu, segala hal tentang ia dan Mei sudah tidak lagi berarti bagi kekasih yang sudah menemani selama 2 tahun itu.

Matanya ia palingkan lagi pada arah lapangan. Berharap Mei tidak melihat bulir-bulir bening yang sudah menghias dikedua kelopak matanya itu. Diam. Tersenyum. Tabah. Hanya itu yang mampu ia persembahkan.

Melihat tidak ada respon dari Liel, Mei segera beranjak pergi meninggalkan Liel yang terdiam tanpa melontarkan salam perpisahan.

Dengan langkah yang kokoh dan berat hati, Mei menyeka sisa-sisa air mata yang tumpah dari kelopak matanya. Ia yakin keputusan ini yang terbaik untuk mereka berdua. Ia juga yakin, Alvin lebih baik daripada Liel.

Dua tahun berlalu, bangunan-bangunan kota semakin banyak berubah. Suara kicauan burung-burung kala pagi menyapa sudah jarang ia dengar. Udara yang bersih sudah terganti dengan partikel-partikel debu yang semakin merajalela.

Dengan kemeja putih dilengkapi rok hitam selutut, Mei duduk di sebuah ruang tunggu sebuah kantor untuk keperluan interview. Menit berganti menit, tiba gilirannya untuk masuk ke ruang HRD. Tok.. tok.. pintu diketuk. Suara dari balik pintu memerintahkan untuk langsung masuk. Ketika pintu dibuka, Mei sedikit tercengang. Namun ia berusaha untuk bersikap profesional dan segera duduk di hadapan sang HRD.

Pertanyaan demi pertanyaan dilayangkan kepada Mei. Dan setelah pertanyaan terakhir terjawab. Mei spontan mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi ingin dikeluarkan.

“Apa kabar, Liel?”

Sekilas Liel tersenyum, tapi masih bersikap profesional. “Baik, kamu?”

“Aku juga. Kamu bukannya bekerja di daerah Jakarta Timur?” tanya Mei.

“Satu tahun yang lalu di mutasi ke sini.” Jawab Liel masih dengan senyum.

“Kamu sudah menikah?” tanya Mei tiba-tiba.

Liel hanya tersenyum membisu dengan bola matanya ia arahkan pada cincin di jari manis sebelah kanan yang terpasang ditangannya seolah memberikan jawaban penuh atas pertanyaan Mei.

Mei terpaku. Rasa sesak seketika menguasai hati nya. “Ah ya selamat kalau begitu.”

“Alvin, apa kabar?” tanya Liel.

“Aku sudah tidak bersama Alvin. Dia tidak sebaik kamu.”

“Cintai seseorang apaadanya jika kamu ingin bahagia.” Ungkap Liel.

“Liel... maaf dulu aku jahat dan aku bodoh.”

“Sudah, yang berlalu biarlah berlalu. Justru saya ingin berterimakasih, terimakasih telah melepas dan menyadarkan saya. Berkat kamu saya bisa bertemu dengan istri saya. Terimakasih, Mei.”

Kata-kata yang diucapkan Liel seakan menusuk. Sesegera mungkin Mei pamit dan keluar dari ruangan itu. Menyeka dan sebisa mungkin menyembunyikan air mata yang hampir pecah. Ia menyesal atas apa yang dulu ia sia-siakan. Ia sadar telah meninggalkan orang baik demi apa yang ia anggap baik.

             “Adalah aku, manusia beruntung yang selalu meniadakan keberuntungan itu.” -Mei


Tidak ada komentar:

Posting Komentar