Ashilla
Oleh: Yenti
Siti Nuryaman
“Mungkin ini alasannya kenapa kamu
gak boleh jatuh cinta sama aku.”
Aku Ray, bernama lengkap Rayhard
Delnoa. Aku tumbuh seperti remaja kebanyakan. Yaaa... tampangku bisa dibilang
lumayan, apalagi aku dianugerahi hidung mancung yang membuat sebagian warga
Indonesia iri karna kabarnya penduduk Indonesia sebagian besar berhidung pesek.
Entahlah? Keluarga ku terbilang kaya raya. Harta kami berlimpah, rumah kami
mewah, mobil kami beberapa buah. Hanya saja, aku miskin dalam hal lain. Yaitu miskin
kasih sayang. Ayah dan ibuku pebisnis yang sukses sehingga menjadikan mereka
sibuk setiap detiknya dan karna mereka sudah berbeda visi dan misi lagi jadi
mereka memutuskan berpisah ketika aku masih berumur 7 tahun. Aku memilih
tinggal dengan Ibuku. Sementara Ayah ku kabarnya menikah lagi tak lama setelah
perceraian. Meskipun begitu, kegiatan Ibuku tak berubah sama sekali. Ia masih
tetap sibuk setiap harinya. Jika kebanyakan
para pekerja menganggap kantor adalah rumah kedua setelah rumah sesungguhnya,
maka lain halnya dengan ibuku. Ia malah menjadikan rumah kita adalah rumah
kedua setelah kantor. Ibu jarang pulang, aku hanya bisa melihat Ibu kurang
lebih dua kali dalam seminggu. Sehingga membuat jarak diantara kami semakin
lebar. Tapi, aku tak lagi peduli. Aku sudah terbiasa hidup sendiri tanpa perlu
teman, bahkan pacar. Aku terlalu malas untuk terlibat dalam cinta atau
persahabatan konyol yang berujung pengkhianatan. Sampai tiba saat... aku jatuh
cinta.
Hatiku untuk pertama kali dicuri oleh
gadis sederhana dengan kelembutan hati dan keramahan sikapnya. Entah kenapa dia
yang terpilih dari sekian banyak gadis cantik dan baik yang mendekatiku. Yang
jelas, ini pertama kalinya aku memutuskan untuk terlibat dalam hidup seseorang.
Pertama kalinya aku menyerah atas alasan cinta. Dan pertama kalinya aku ingin
mengubah haluan hidupku.
“Ashilla, aku suka kamu.” Ungkap ku
padanya memberanikan diri ditengah rintik saat hari menuju penghabisan. Berharap
suara ku terdengar meskipun harus bersaing dengan bising nya ibu kota. Serta menguatkan
diri meskipun tahu aku akan ditolak saat itu juga.
“Kamu lucu, tapi maaf aku tidak akan
semudah perempuan-perempuan yang berbaris minta kamu pacari.” Jawab dia sadis
tetapi sambil memberikan senyum indah diujung kalimatnya.
Aku tercengang, kaget aku dibuatnya. Ini
pertama kalinya dia mengeluarkan kata yang tajam sampai menusuk hati. Tapi anehnya
aku sedikit lega, pasalnya dengan begitu aku tahu bahwa dia perempuan baik-baik
yang tidak dengan mudah menerima sembarang pria untuk jadi pacarnya dengan
dalih sebagai koleksi.
“Kamu lebih lucu, aku jadi makin
suka.” Ucap ku seraya tersenyum sumringah sambil memusatkan penglihatanku pada
paras nya yang ayu.
“Ray, berhenti bercanda. Tujuan kita
kesini untuk tugas observasi kan?” Ashilla memalingkan wajahnya sambil
menyibukkan jari nya pada sebuah buku yang terus-menerus dibolak-balik lembar
per-lembarnya.
“Suatu saat nanti kamu harus mau yah
jadi pacar aku.” Goda ku padanya.
“Tau ah!” singkat Ashilla.
Sekilas aku melihat ada rona merah dikedua
pipinya sebelum kemudian ia beranjak pergi dari hadapanku dengan tampang sebal.
**
“Shilla!” teriakku pada seseorang yang jaraknya hanya
berkisar beberapa meter saja.
“Hei,” sapa balik Ashilla ramah masih
dengan senyuman andalannya.
“Tuhan seolah tahu, aku perlu lihat
kamu tiap hari.” Goda ku tak tertahankan.
“Apasih Ray, bercanda mulu. Ada perlu
apa?” tanya Shilla.
“Enggak, Cuma mau nyapa aja hehe.” Jawabku
asal. Padahal harusnya “Karna aku kangen
hehe.” Tapi aku tak mampu mengeluarkan kata itu karna aku terlalu malu.
“Emm gitu, yaudah aku duluan yah bye.”
Lambaian tangan Shilla seolah menghipnotis ku. Dalam beberapa detik setelahnya,
mataku terdiam diposisi lurus dengan posisi Shilla. Melihat kepergian nya
sampai punggung nya hilang dari jangkauan penglihatanku. Ah ditinggal lagi. Gerutu ku dalam hati.
**
Langit keorenan. Ah aku suka itu. Matahari sudah berada di posisi setengah pamit. Itu
tandanya seluruh keindahan alam semesta tergambar dengan nyata dengan waktu
yang singkat. Entah kenapa aku paling suka menunggu dan menatap senja. Senja bagiku
bukan hanya orange, tapi teduh dan
damai. Seolah apa yang terjadi hari ini akan lenyap bersamaan dengan
tenggelamnya sang mentari. Dan mengisyaratkan untuk beristirahat sejenak bersama
dengan tebaran bintang yang berkedip-kedip sambil menunggu hari esok yang
ditandai dengan munculnya sinar mentari baru sebagai pertanda dimulainya
pelajaran baru.
Senja yang ku nikmati kali ini
berbeda. Meskipun dengan langit yang sama. Tapi, ada pelengkap jiwa yang
menambah kenikmatan senja kali ini. Aku dan Shilla menghabiskan senja bersama
di atas bukit tepi sungai yang menjadi tempat favorite kami. Secara tiba-tiba
saja aku membelah senja dengan perkataan yang mungkin tidak tepat. Tapi apa
boleh buat? Aku sudah tidak tahan karna terus menerus menahan rindu dan luka
sendirian.
“Shil, kira-kira kapan kamu bales perasaan aku?” tanya ku
asal.
“Apasih Ray, jangan mulai deh.” Cuek Shilla.
“Emang kenapa sih ko kamu gak mau
coba buat suka sama aku? Apa kedekatan kita selama ini masih kurang? Apa perhatian
yang aku beri selama ini masih buat kamu gak sadar kalo aku sungguh-sungguh
suka kamu.” Tanya ku dengan nada sedikit tinggi.
“Karna aku terlalu pengecut buat
ambil resiko! Dan kamu gak akan pernah bisa ngerti!” seketika saja tangis
Ashilla pecah. Ia berlari begitu saja tanpa penjelasan meninggalkan luka dan
tanya yang begitu besar.
**
Semenjak kejadian itu, Ashilla seolah
menghindar dariku. Ia tak pernah lagi mau membalas pesan singkat yang terus
menerus ku kirim. Bahkan ia kerap kali memilih jalan lain agar tak berpapasan
dengan ku. Aku merasa sangat kehilangan. Rindu dan luka yang ia tinggalkan
semakin membesar.
Sampai tiba saat Ibuku yang jatuh
cinta lagi pada duda satu anak yang tak lain akan menjadi saudara ku. Beruntungnya,
cintanya tidak sepihak sepertiku. Ia dan kekasihnya memutuskan untuk menikah. Dan
hari ini tepat hari lamarannya. Jantungku berdegub kencang. Aku akan punya ayah
baru. Aku akan punya saudara baru. Aku akan punya keluarga baru.
*ting tong
Bel rumah ku berbunyi, menandakan
bahwa pihak pelamar yang tak lain adalah calon Ayah baru ku sudah datang. Aku sesegera
mungkin membuka pintu dan menyambut hangat mereka.
Tetapi tiba-tiba langitku seketika
runtuh. Senja ku seketika terampas. Bahagia ku seolah tidak akan pernah muncul
lagi. Selama prosesi lamaran berlangsung aku hanya diam mematung tak percaya. Rasa
sesak didada terasa sangat nyata.
“Hei,” aku memutuskan untuk menyapa
calon adikku.
Dia menoleh sambil membalas sapaan ku
dengan ramah, “Hei”
“Apa kabar?” tersirat kepedihan dan
luka lama yang tersentuh kembali saat aku bertanya.
“Lucu yah, ternyata aku rindu.” Jawab
gadis itu seolah tak menghiraukan luka yang dengan susah payah ku kubur.
Aku hanya terdiam tak sanggup
meneruskan perbincangan. Akhirnya aku memutuskan untuk beranjak karna tak kuasa
menahan pedih.
“Mungkin ini alasannya kenapa kamu
gak boleh jatuh cinta sama aku.” Tiba-tiba saja perkataannya menghentikan
langkahku. Aku hanya bisa menoleh memberikan senyuman terbaik sambil menahan
sakit yang lagi-lagi terasa.
Ashilla yang aku cintai, Ashilla yang
berhasil membuka hati ku untuk yang pertama kalinya. Ashilla yang ku harap jadi
cinta terakhir. Ashilla yang ku harap akan menjadi jodohku. Ternyata dia akan
jadi adik tiriku. Adik yang harus aku jaga. Adik yang hanya boleh dicintai
sebatas “Adik”. Adik yang tidak bisa menjadi jodohku.
Semua tentangmu masih jadi topik
utama di pikiran ku, Ashilla.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar