Senin, 24 April 2017

Cerpen "Sesak"

SESAK
Oleh:Yenti Siti Nuryaman

“Bagaimana? Gosip itu masih beredar  kah?” tanya pria itu memecah keheningan yang tercipta beberapa waktu lalu.
Bibir Alana gemetar. Degub jantungnya semakin tak beraturan. Seakan tahu obrolan selanjutnya akan mengarah kemana. “Ummm... udah enggak terlalu kok. Paling ada beberapa yang masih ngeledek aku.”
Sesaat, pria itu tertunduk. Menenggelamkan kepalanya ke bumi. Seperti tengah berpikir dan mencari sesuatu.
Melihat itu, Alana merasa iba. Ia takut perkataan yang ia katakan sebelumnya menjadi penyebab Erik seperti itu. “Kamu kenapa?” tanya Alana sembari menepuk bahu Erik pelan.
Beberapa detik kemudian, kepala Erik bangkit. Erik menengadahkan pandangannya tepat di bawah wajah Alana.
“Maaf sudah membuat kamu merasa tidak nyaman.” Terang Erik.
“Tidak apa-apa mas. Semuanya masih bisa ku atasi kok.” Jawab Alana mencoba menenangkan Erik. Jujur saja memang sebenarnya Alana tidak merasa terganggu perihal gosip yang tengah menerpa mereka berdua. Alana telah mempercayai Erik sepenuhnya. Lagipula memang sudah tugas seorang istri untuk percaya kepada suaminya. Begitu pula sebaliknya.
Memang akhir-akhir ini rumah tangga mereka sedang diterpa kabar miring. Banyak tetangga Alana yang mengatakan bahwa Erik telah mempunyai istri simpanan. Tapi Alana tak menghiraukan perkataan para tetangganya itu. Ia hanya membalas perkataan mereka dengan sebesit senyum ramah tanpa mencoba untuk membenarkan ataupun mengelak. Meskipun sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya ia menyimpan banyak rasa khawatir dan cemas, tapi ia mencoba sekuat mungkin untuk menghapus itu semua.
“Jangan diambil hati perkataan mereka itu ya. Kamu percaya mas kan?” ucap Erik menyakinkan Alana sambil mendaratkan ciuman tulus dikening Alana. Selepas itu berbalik Alana yang mencium telapak tangan Erik. Dipandanginya wajah istrinya itu dengan tatapan nanar. Lalu jemari Erik berdalih mengusap-usap kepada Alana secara beraturan.
“Jika seandainya perkataan para tetangga itu terbukti benar adanya. Kamu mau bagaimana?”
Sontak hati Alana seperti ditusuk pisau tajam secara tiba-tiba. Meskipun itu hanya seandainya, tapi entah kenapa perasaan Alana seperti mengira bahwa Erik tengah mengatakan yang sebenarnya. Dengan perasaan tabah, Alana menjawab “Segala ketetapan dan kehendak hanya milik Allah S.W.T mas. Manusia hanya bisa berusaha yang terbaik. Kalo memang hal itu terjadi. Aku akan mencoba sebisa mungkin untuk menerima. Karena aku yakin segala sesuatu itu pasti ada tujuannya. Entah membuat kita belajar sesuatu, atau sesuatu yang belajar dari kita. Aku yakin segala ketetapan Allah untukku itu yang terbaik. Dan aku percaya nikmat Allah itu ada.”
Beberapa detik kemudian air bening itu keluar secara massal dari mata Erik. Ia tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi memaksa untuk tumpah. Semakin bertambahnya detik, semakin bertambah pula volume air mata yang keluar.
“Percaya mas ya sayang. Mas sayang sama kamu. Mas bersyukur di anugerahi istri yang cantik lahir batin seperti kamu. Bagi mas, kamu itu udara. Yang memberi kebaikan bagi makhluk yang menerimanya. Tanpa memamerkan diri atau menuntut apa-apa. Bahkan kamu rela menerobos masuk ke kehidupan mas yang sempit dan kecil ini demi memenuhi kebutuhan hidup mas. Dan selalu menemani mas dimanapun dan kapanpun. Kamu mungkin tak bisa mas genggam dengan raga. Tapi hadirmu selalu bisa mas rasakan. Dan kamu tahu sendiri kan bahwa setiap makhluk hidup membutuhkan udara. Begitu juga mas. Mas sangat membutuhkan kamu. Dan mas akan berusaha menjaga kamu agar tidak tercemar. Jika suatu saat nanti mas menyakiti kamu, mas minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Tapi satu hal yang harus kamu percaya, bahwa sampai kapanpun mas selalu membutuhkan kamu.” Ucap Erik sambil memeluk Alana erat seakan tak mau dipisahkan oleh apapun.
Keharmonisan rumah tangga Alana dan Erik hanya berlangsung hingga saat itu. Semakin hari, sikap Erik kian berubah. Ia tak lagi memperhatikan istrinya. Ia mulai bertingkah seenaknya. Jangankan untuk memeluk Alana, untuk sekedar menatap Alana pun Erik enggan. Erik tak lagi peduli dengan istrinya yang setiap hari rela menunggu ia pulang hingga larut malam. Malah tak jarang Erik tak pulang kerumah dengan alasan lembur. Tapi tetap saja Alana masih setia menunggu Erik meskipun tahu kemungkinan Erik untuk pulang tepat waktu itu sangat minim.
Kadang Alana sering menangis sendirian. Ia terus menanti sikap Erik kembali seperti semula. Ia masih dengan tabahnya mencintai Erik meskipun orang yang dicintainya sudah enggan untuk memalingkan wajahnya sedikitpun. Hati Alana berdarah, tapi ia masih tetap saja mencintainya. Karena ia percaya semuanya akan indah pada waktunya. Dan jika saat ini belum indah, berarti ini semua belum berakhir.
Berbulan-bulan kemudian pikiran negatif Alana mulai berkembang. Ia mulai berpikir jika perkataan para tetangganya dulu itu mungkin saja benar adanya. Ia sudah mulai curiga terhadap Erik. Kepercayaan Erik yang ia simpan didalam hatinya sudah kian memudar. Kini Alana juga berubah menjadi seseorang yang buruk. Ia mengalihkan kesedihannya dengan cara mencari perhatian dari pria lain. Karena Erik jarang ada di rumah, Alana kerap kali mengundang pria lain kerumah dan bermesraan dengan pria itu.
Sampai tiba suatu malam, Erik berencana untuk memberitahu hasil jerih payah yang selama ini ia kerjakan dengan cara memberikan Alana kejutan yang tak disangka. Erik mengatakan bahwa malam ini ia tidak akan pulang dengan alasan lembur lagi. Seperti biasa, Alana mengiyakan.
Tapi nasib buruk menimpa mereka berdua. Saat Erik pulang kerumah, Erik mendapati Alana tengah bermesraan dengan pria lain. Seketika itu juga Erik langsung menangis tak percaya. Sosok istri yang selama ini ia banggakan dan syukuri tega menghancurkan kepercayaan yang ia berikan begitu saja.
Alana pun sama kagetnya dengan Erik. Ia tak menyangka akan tertangkap mata sedang bermain dibelakang Erik. Alana pun gelagapan tak tahu harus berbuat apalagi.
Dengan emosi yang tersisa, Erik mengusir paksa pria itu keluar dari rumah mereka. Lalu ia meraih tangan Alana dan membawanya ke sofa untuk menanyakan kebenarannya.
“Apa yang sedang kamu lakukan tadi? Apa selama ini kamu begitu ketika mas sedang tidak pulang kerumah? Apa sebegitu mudah nya setan menguasai kamu? Istighfar sayang! Mas gak pernah ngajarin kamu kayak tadi! Mas bener-bener kecewa sama kamu!” bentak Erik tak tertahankan lagi.
Bukannya mencairkan suasana, Alana malah terpancing emosinya dan berbalik menyalahkan Erik. “Mas lupa? Selama ini aku nunggu mas sampai larut malam. Malah terkadang mas tidak pulang. Aku kesepian mas. Tapi mas malah enak-enakan dengan perempuan simpanan mas itu! Sekarang aku yakin dan percaya bahwa perkataan tetangga itu benar. Mas punya istri simpanan kan?! Ayo ngaku!” bentak Alana.
“Astaghfirullahhaladzim! Sejak kapan kamu jadi istri yang kasar? Kamu lebih percaya mereka dibanding suamimu ini? Jika benar begitu, apa kamu bisa memberi mas bukti kalo mas punya istri simpanan? Coba buktikan!”
Seketika Alana bingung. Ia tidak punya bukti apa-apa kalau suaminya itu benar mendua. Malah, ia yang sudah terbukti melakukan tuduhannya yang ia layangkan kepada suaminya itu.
“Bagaimana rumah tangga ini bisa berjalan jika salah satu dari kita sudah menghancurkan kepercayaan yang sama-sama tertanam diawal? Kamu udah bikin mas bener-bener kecewa dan gak habis pikir.” Tukas Erik menahan emosi yang sedari tadi meluap-luap.
“Mas yang udah duluan ngancurin kepercayaan aku! Mas seolah-olah terus memojokkan aku tanpa berkaca. Kemana mas selama ini? Apa mas tahu kalau istrinya sering menangis sendirian? Enggak kan!”
Sontak mata Erik terbelalak. Ia benar-benar tak tahu jika usaha Erik untuk membahagiakan sang istri malah membuat istrinya tersiksa dan melampiaskan kesedihannya dengan cara yang salah. “Kamu berubah. Kamu bukan lagi udara yang memberikan mas hidup. Kamu telah berubah jadi udara yang membuat mas sesak. Kalau begini, perlahan-lahan kamu membuat paru-paru mas tak sehat dan membuat mas mati. Mas minta maaf jika selama ini mas membuat kamu sedih. Mas cuma ingin kamu tahu jika  selama ini mas tidak pernah berpaling dari kamu. Cinta dan sayang mas masih tetap milik kamu. Maaf mas tidak pernah terus terang. Sebenarnya selama ini mas tengah berusaha mewujudkan impian kita berdua. Mas mati-matian ambil lembur tiap hari demi mendapatkan uang tambahan. Dan mas melakukan pekerjaan sampingan sebagai tukang ojeg. Dan mungkin itu yang membuat para tetangga mengira mas memiliki istri simpanan. Selama ini mas berusaha keras untuk mendapatkan ini!” jelas Erik sambil meletakkan dua buah kertas di atas meja. Lalu Erik berlalu begitu saja meninggalkan Alana karena sudah sangat kecewa.
Dengan perlahan, Alana meraih dua buah kertas yang tergeletak di atas meja. Ia terkaget ketika mengetahui bahwa kertas itu ternyata Visa Umroh. Air matanya mulai mengalir dengan banyaknya. Ia merasa sangat amat menyesal telah melakukan kesalahan yang fatal dan menghancurkan kepercayaan suaminya. Yang bisa ia lakukan hanya terisak sejadi-jadinya. Andai waktu dapat di putar kembali, mungkin udara yang sejuk akan tetap berada di dalam rumah tangga mereka. Dan mungkin ia akan tetap jadi udara yang menjanjikan kehidupan untuk suami yang sangat menyayanginya itu.

*Selesai*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar