SESAK
Oleh:Yenti Siti
Nuryaman
“Bagaimana?
Gosip itu masih beredar kah?” tanya pria
itu memecah keheningan yang tercipta beberapa waktu lalu.
Bibir
Alana gemetar. Degub jantungnya semakin tak beraturan. Seakan tahu obrolan
selanjutnya akan mengarah kemana. “Ummm... udah enggak terlalu kok. Paling ada
beberapa yang masih ngeledek aku.”
Sesaat,
pria itu tertunduk. Menenggelamkan kepalanya ke bumi. Seperti tengah berpikir
dan mencari sesuatu.
Melihat
itu, Alana merasa iba. Ia takut perkataan yang ia katakan sebelumnya menjadi
penyebab Erik seperti itu. “Kamu kenapa?” tanya Alana sembari menepuk bahu Erik
pelan.
Beberapa
detik kemudian, kepala Erik bangkit. Erik menengadahkan pandangannya tepat di
bawah wajah Alana.
“Maaf
sudah membuat kamu merasa tidak nyaman.” Terang Erik.
“Tidak
apa-apa mas. Semuanya masih bisa ku atasi kok.” Jawab Alana mencoba menenangkan
Erik. Jujur saja memang sebenarnya Alana tidak merasa terganggu perihal gosip
yang tengah menerpa mereka berdua. Alana telah mempercayai Erik sepenuhnya.
Lagipula memang sudah tugas seorang istri untuk percaya kepada suaminya. Begitu
pula sebaliknya.
Memang
akhir-akhir ini rumah tangga mereka sedang diterpa kabar miring. Banyak
tetangga Alana yang mengatakan bahwa Erik telah mempunyai istri simpanan. Tapi
Alana tak menghiraukan perkataan para tetangganya itu. Ia hanya membalas
perkataan mereka dengan sebesit senyum ramah tanpa mencoba untuk membenarkan
ataupun mengelak. Meskipun sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya ia menyimpan
banyak rasa khawatir dan cemas, tapi ia mencoba sekuat mungkin untuk menghapus
itu semua.
“Jangan
diambil hati perkataan mereka itu ya. Kamu percaya mas kan?” ucap Erik
menyakinkan Alana sambil mendaratkan ciuman tulus dikening Alana. Selepas itu
berbalik Alana yang mencium telapak tangan Erik. Dipandanginya wajah istrinya
itu dengan tatapan nanar. Lalu jemari Erik berdalih mengusap-usap kepada Alana
secara beraturan.
“Jika
seandainya perkataan para tetangga itu terbukti benar adanya. Kamu mau
bagaimana?”
Sontak
hati Alana seperti ditusuk pisau tajam secara tiba-tiba. Meskipun itu hanya
seandainya, tapi entah kenapa perasaan Alana seperti mengira bahwa Erik tengah
mengatakan yang sebenarnya. Dengan perasaan tabah, Alana menjawab “Segala
ketetapan dan kehendak hanya milik Allah S.W.T mas. Manusia hanya bisa berusaha
yang terbaik. Kalo memang hal itu terjadi. Aku akan mencoba sebisa mungkin
untuk menerima. Karena aku yakin segala sesuatu itu pasti ada tujuannya. Entah
membuat kita belajar sesuatu, atau sesuatu yang belajar dari kita. Aku yakin
segala ketetapan Allah untukku itu yang terbaik. Dan aku percaya nikmat Allah
itu ada.”
Beberapa
detik kemudian air bening itu keluar secara massal
dari mata Erik. Ia tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi memaksa untuk
tumpah. Semakin bertambahnya detik, semakin bertambah pula volume air mata yang
keluar.
“Percaya
mas ya sayang. Mas sayang sama kamu. Mas bersyukur di anugerahi istri yang
cantik lahir batin seperti kamu. Bagi mas, kamu itu udara. Yang memberi
kebaikan bagi makhluk yang menerimanya. Tanpa memamerkan diri atau menuntut
apa-apa. Bahkan kamu rela menerobos masuk ke kehidupan mas yang sempit dan
kecil ini demi memenuhi kebutuhan hidup mas. Dan selalu menemani mas dimanapun
dan kapanpun. Kamu mungkin tak bisa mas genggam dengan raga. Tapi hadirmu
selalu bisa mas rasakan. Dan kamu tahu sendiri kan bahwa setiap makhluk hidup
membutuhkan udara. Begitu juga mas. Mas sangat membutuhkan kamu. Dan mas akan
berusaha menjaga kamu agar tidak tercemar. Jika suatu saat nanti mas menyakiti
kamu, mas minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Tapi satu hal
yang harus kamu percaya, bahwa sampai kapanpun mas selalu membutuhkan kamu.”
Ucap Erik sambil memeluk Alana erat seakan tak mau dipisahkan oleh apapun.
Keharmonisan
rumah tangga Alana dan Erik hanya berlangsung hingga saat itu. Semakin hari,
sikap Erik kian berubah. Ia tak lagi memperhatikan istrinya. Ia mulai
bertingkah seenaknya. Jangankan untuk memeluk Alana, untuk sekedar menatap
Alana pun Erik enggan. Erik tak lagi peduli dengan istrinya yang setiap hari
rela menunggu ia pulang hingga larut malam. Malah tak jarang Erik tak pulang
kerumah dengan alasan lembur. Tapi tetap saja Alana masih setia menunggu Erik
meskipun tahu kemungkinan Erik untuk pulang tepat waktu itu sangat minim.
Kadang
Alana sering menangis sendirian. Ia terus menanti sikap Erik kembali seperti
semula. Ia masih dengan tabahnya mencintai Erik meskipun orang yang dicintainya
sudah enggan untuk memalingkan wajahnya sedikitpun. Hati Alana berdarah, tapi
ia masih tetap saja mencintainya. Karena ia percaya semuanya akan indah pada
waktunya. Dan jika saat ini belum indah, berarti ini semua belum berakhir.
Berbulan-bulan
kemudian pikiran negatif Alana mulai berkembang. Ia mulai berpikir jika
perkataan para tetangganya dulu itu mungkin saja benar adanya. Ia sudah mulai
curiga terhadap Erik. Kepercayaan Erik yang ia simpan didalam hatinya sudah
kian memudar. Kini Alana juga berubah menjadi seseorang yang buruk. Ia
mengalihkan kesedihannya dengan cara mencari perhatian dari pria lain. Karena
Erik jarang ada di rumah, Alana kerap kali mengundang pria lain kerumah dan
bermesraan dengan pria itu.
Sampai
tiba suatu malam, Erik berencana untuk memberitahu hasil jerih payah yang
selama ini ia kerjakan dengan cara memberikan Alana kejutan yang tak disangka.
Erik mengatakan bahwa malam ini ia tidak akan pulang dengan alasan lembur lagi.
Seperti biasa, Alana mengiyakan.
Tapi
nasib buruk menimpa mereka berdua. Saat Erik pulang kerumah, Erik mendapati
Alana tengah bermesraan dengan pria lain. Seketika itu juga Erik langsung
menangis tak percaya. Sosok istri yang selama ini ia banggakan dan syukuri tega
menghancurkan kepercayaan yang ia berikan begitu saja.
Alana
pun sama kagetnya dengan Erik. Ia tak menyangka akan tertangkap mata sedang
bermain dibelakang Erik. Alana pun gelagapan tak tahu harus berbuat apalagi.
Dengan
emosi yang tersisa, Erik mengusir paksa pria itu keluar dari rumah mereka. Lalu
ia meraih tangan Alana dan membawanya ke sofa untuk menanyakan kebenarannya.
“Apa
yang sedang kamu lakukan tadi? Apa selama ini kamu begitu ketika mas sedang
tidak pulang kerumah? Apa sebegitu mudah nya setan menguasai kamu? Istighfar
sayang! Mas gak pernah ngajarin kamu kayak tadi! Mas bener-bener kecewa sama
kamu!” bentak Erik tak tertahankan lagi.
Bukannya
mencairkan suasana, Alana malah terpancing emosinya dan berbalik menyalahkan
Erik. “Mas lupa? Selama ini aku nunggu mas sampai larut malam. Malah terkadang
mas tidak pulang. Aku kesepian mas. Tapi mas malah enak-enakan dengan perempuan
simpanan mas itu! Sekarang aku yakin dan percaya bahwa perkataan tetangga itu
benar. Mas punya istri simpanan kan?! Ayo ngaku!” bentak Alana.
“Astaghfirullahhaladzim!
Sejak kapan kamu jadi istri yang kasar? Kamu lebih percaya mereka dibanding
suamimu ini? Jika benar begitu, apa kamu bisa memberi mas bukti kalo mas punya
istri simpanan? Coba buktikan!”
Seketika
Alana bingung. Ia tidak punya bukti apa-apa kalau suaminya itu benar mendua.
Malah, ia yang sudah terbukti melakukan tuduhannya yang ia layangkan kepada
suaminya itu.
“Bagaimana
rumah tangga ini bisa berjalan jika salah satu dari kita sudah menghancurkan
kepercayaan yang sama-sama tertanam diawal? Kamu udah bikin mas bener-bener
kecewa dan gak habis pikir.” Tukas Erik menahan emosi yang sedari tadi meluap-luap.
“Mas
yang udah duluan ngancurin kepercayaan aku! Mas seolah-olah terus memojokkan
aku tanpa berkaca. Kemana mas selama ini? Apa mas tahu kalau istrinya sering
menangis sendirian? Enggak kan!”
Sontak
mata Erik terbelalak. Ia benar-benar tak tahu jika usaha Erik untuk
membahagiakan sang istri malah membuat istrinya tersiksa dan melampiaskan
kesedihannya dengan cara yang salah. “Kamu berubah. Kamu bukan lagi udara yang
memberikan mas hidup. Kamu telah berubah jadi udara yang membuat mas sesak.
Kalau begini, perlahan-lahan kamu membuat paru-paru mas tak sehat dan membuat
mas mati. Mas minta maaf jika selama ini mas membuat kamu sedih. Mas cuma ingin
kamu tahu jika selama ini mas tidak
pernah berpaling dari kamu. Cinta dan sayang mas masih tetap milik kamu. Maaf
mas tidak pernah terus terang. Sebenarnya selama ini mas tengah berusaha
mewujudkan impian kita berdua. Mas mati-matian ambil lembur tiap hari demi
mendapatkan uang tambahan. Dan mas melakukan pekerjaan sampingan sebagai tukang
ojeg. Dan mungkin itu yang membuat para tetangga mengira mas memiliki istri
simpanan. Selama ini mas berusaha keras untuk mendapatkan ini!” jelas Erik
sambil meletakkan dua buah kertas di atas meja. Lalu Erik berlalu begitu saja meninggalkan Alana karena sudah
sangat kecewa.
Dengan
perlahan, Alana meraih dua buah kertas yang tergeletak di atas meja. Ia
terkaget ketika mengetahui bahwa kertas itu ternyata Visa Umroh. Air matanya
mulai mengalir dengan banyaknya. Ia merasa sangat amat menyesal telah melakukan
kesalahan yang fatal dan menghancurkan kepercayaan suaminya. Yang bisa ia
lakukan hanya terisak sejadi-jadinya. Andai waktu dapat di putar kembali,
mungkin udara yang sejuk akan tetap berada di dalam rumah tangga mereka. Dan
mungkin ia akan tetap jadi udara yang menjanjikan kehidupan untuk suami yang
sangat menyayanginya itu.
*Selesai*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar