Jumat, 24 Maret 2017

Cerpen IRENE

Irene
Oleh: Yenti Siti Nuryaman

Pagi yang cerah, sama seperti pagi biasanya. Sinar mentari seakan tak pernah habis meskipun setiap hari selalu terpancar. Sama seperti pagi kemarin, Irene memulai paginya dengan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Ia termasuk orang yang memiliki kepribadian Introvert dimana hanya berorientasi ke ‘dalam’ diri mereka sendiri. Yang hanya tertarik pada dunia ide, pemikiran dan konsep sehingga jenis kepribadian seperti yang dimiliki Irene ini sangat menyukai suasana tenang untuk menyendiri dan cenderung lebih sulit bergaul. Hal itu terbukti di kehidupan Irene. Selama 1 tahun bekerja, ia hanya memiliki 1 teman yang biasa menemaninya. Selebihnya ia hanya sekedar mengetahui nama, bertukar senyum atau bahkan tak mengenal mereka sama sekali.

Hingga pada suatu pagi Irene tak sengaja berpapasan dengan seorang karyawan dari perusahaan yang sama. Seperti biasa, ia hanya melontarkan senyuman terbaiknya karena ia sendiri hanya mengetahui wajah pria itu tanpa mengetahui namanya. Beberpa langkah kemudian langkahnya terhenti karena mendengar namanya dipanggil seseorang.

“Irene!” panggil orang tersebut.

Sontak kaki Irene berputar 180o. Matanya ia edarkan  pada seluruh penjuru ruangan mencari sosok yang memanggil namanya itu. Alhasil ia hanya menemukan seorang pria bertubuh standar, berkulit agak kecoklatan dan berparas ke timur-timuran yang tengah berdiri tepat 1 meter dihadapannya. Ia pun menjawab panggilan pria itu dengan jawaban senormal mungkin “Iya?”

“Rumah kamu dimana?” tanya pria itu lagi sambil memendekkan jarak antara dirinya dan Irene.

“Di kuningan kak.” Jawab Irene

“Oh di Kuningan. Kamu alumni mana?” tanya pria itu lagi.

“Aku alumni SMK Bina Bangsa ka. Kakak?” jawab Irene sambil menanyakan pertanyaan yang sama kepada pria itu.

“Aku juga di Bina Bangsa.  Tapi aku SMA nya.” Kata pria itu.

Irene hanya manggut-manggut tanda ia mengerti. Karena berpikir tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan lagi. Irene pun pamit dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.

Barui 1 langkah Irene beranjak. Pria itu kembali menghentikan langkahnya. “Irene!”

Irene pun hanya menoleh sembari mengernyitkan alis kanannya.

“Kita belum kenalan. Namaku Tenten.” Ucap pria itu sambil melambaikan tangannya.

Irene membalas ucapan pria yang baru diketahui namanya itu hanya dengan senyuman. Kemudian ia melanjutkan langkahnya sambil menahan tawa karena menertawakan tingkah aneh pria tadi beserta namanya yang langka itu.

Hari sudah menjelang sore. Waktu menunjukkan pukul 15:00 WIB . Matahari sudah berada diposisi setengah pamit. Irene masih sibuk dngan pekerjaannya. Sampai tibalah tim IT kantor Irene masuk ke ruangannya untuk memeriksa koneksi internet di komputer Irene. Setelah pengecekan selesai, Irene kembali melanjutkan pekerjaannya. Tetapi sebelum tim IT beranjak, salah seorang tim IT menghampiri meja Irene dan bertanya “Alumni Bina Bangsa yah?”

Irene pun langsung menoleh dan menjawab “Iya” lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Mungkin salah satu tim IT itu  kecewa dengan sikap Irene yang dingin. Pria itu pun langsung pergi meninggalkan ruangan Irene begitu saja.

Dalam hati Irene bertanya-tanya “Yang tadi siapa ya? Kok tau aku alumni Bina Bangsa? Ah mungkin kakak kelas waktu SMK kali.” Tanggapan Irene cuek.

Esok harinya pada jam istirahat, seperti biasa Irene dan teman satu-satunya “Mia" membeli makanan disebuah tempat makan  sederhana di dekat kantor mereka. Setiba disana ternyata ada tim IT sedang membeli makanan juga. Menyadari itu, Irene dan dan Mia pun tersenyum kepada tim IT yang saat itu ada 3 orang. Lalu Irene dan Mia duduk disamping mereka. Beberapa saat kemudian salah satu tim IT bertanya kepada Irene “Kamu di SMK Bina Bangsa jurusan apa?”

“Aku jurusan AP kak.” Irene menoleh sambil tersenyum

“Emm pantesan waktu itu Deni cerita katanya ada alumni Bina Bangsa yang kerja disini. Ternyata itu kamu hehe.” Balas pria itu sambil tersenyum.

Mendengar nama itu disebut sontak Irene mulai penasaran. Pasalnya, Deni adalah mantan kekasih yang masih Irene suka. “Kamu kenal Deni?”

“Iya kan aku seangkatan dan 1 jurusan sama Deni.”

Dari situ Irene mulai tau bahwa bahwa ternyata ia telah salah memanggil pria itu dengan sebutan ‘Kakak’ padahal mereka seangkatan.

Setelah selesai makan, Irene dan Mia pun pamit pada tim IT yang masih berada disana. Dalam perjalanan kembali ke ruangan, Irene bertanya pada Mia “Mia, emang yang tadi itu siapa ya?”

“Namanya Aldo. Kenapa?” tanya balik Mia.

“Engga gak papa.” Jawab Irene sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Setiba di depan kantor, Mia pamit kepada Irene karena ada urusan. Irene pun masuk ke kantor sendirian. Begitu tiba di tangga. Irene melihat Tenten dibawah tangga lalu Irene tersenyum sejenak selepas itu melanjutkan langkahnya kembali. Namun lagi-lagi langkahnya dihentikan.

“Irene!” panggil Tenten.

“Iya?”

“Kesini sebentar deh.” Pinta Tenten.

Irene pun segera menghampiri Tenten karena ia berpikir mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan Tenten.

“Kamu gak kumpul kepanitiaan?” tanya Tenten.

Irene berpikir sejenak seraya berbicara dalam hati Perasaan aku gak ikut kepanitian deh kenapa harus ikul kumpul?

“Ah engga kak.” Jawab Irene asal.

Setelah itu Irene dan Tenten pun berbincang-bincang cukup lama.

Ternyata kak Tenten selain lucu asyik juga yah. Baru kali ini aku langsung akrab sama orang yang baru dikenal.” Bisik Irene dalam hati.

Keesokan harinya sewaktu Irene baru saja tiba dikantor. Mia tiba-tiba saja langsung menarik tangan Irene seraya berkata “Cieee Irene ada salam dari seseorang.”

Irene menanggapinya dengan santai Ah mungkin cuma bercanda pikirnya. “salam apa? Salam sejahtera? Hahaha” balas Irene bercanda.

“Ih serius tau. Dia karyawan sini juga. Semalem dia bilang sama aku kalo dia suka sama kamu. Cieee Irene berhasil memikat hati seseorang hahaha” ledek Mia.

“Apaan sih boong ah!” bantah Irene sambil meninggalkan Mia yang masih meledeknya.

Meskipun bersikap cuek dan bodoamat. Sebenarnya Irene sedikit penasaran perihal kebenaran perkataan Mia. Ia terus berpikir Apa mungkin kak Tenten yah? Soalnya dia yang kayak lagi deketin aku. Tapi apa mungkin? Ah udahlah siapa tau beneran boongan.

Matahari mulai menyombongkan diri lagi. Ia berdiri tepat diatas kepala manusia-manusia yang punya kegiatan masing-masing. Banyak diantara mereka yang mengeluhkan cuaca yang begitu panas. Begitu pula Irene. Hari ini dia sedang sibuk-sibuknya. Tapi tiba-tiba saja koneksi internet dikomputer dia gangguan. Akhirnya Irene memutuskan untuk menemui tim IT untuk memperbaiki koneksi internet nya.

Ditengah perjalanan ke ruangan IT, Irene berpapasan dengan Tenten. Irene mencoba memperlambat langkahnya dan berdiam sejenak di tepi jendela pura-pura memerhatikan pemandangan kota. Tanpa disadari ternyata Tenten berbalik arah dan menghampiri Irene.

“Pemandangan kota kalo diliat dari sini indah yah.” Ucap Tenten membuka percakapan.

“Apalagi kalo malem. Yang keliatan cuma gemerlap lampu-lampu kota yang berkedip-kedip seakan sedang berkomunikasi satu sama lain.” Tambah Irene.

“Tapi sayangya, malam terlalu dingin untuk dimiliki. Meskipun sebenarnya sangat  indah untuk dikagumi.” Kata Tenten sambil menoleh dan menatap mata Irene.

Irene sedikit kaget dengan perkataan Tenten. Ia berbalik menatap Tenten. Namun hanya sedetik. Setelah itu Irene memalingkan wajahnya karena salah tingkah lalu memutuskan berlalu meninggalkan Tenten yang masih menatapnya.

Dengan setengah berlari, ditemani perasaan yang campur aduk akhirnya Irene sampai di ruangan IT. Ia menyampaikan keluhan nya. Lalu membawa mereka ikut serta ke ruangan Irene untuk memperbaiki koneksi internet tersebut.

Ditengah perjalanan, secara tiba-tiba saja Aldo meraih tangan Irene seraya berkata “Aku suka sama kamu.”

Sontak Irene langsung melepaskan genggaman tangan Aldo karena terkaget.


Jadi dia orangnya? Bukan kak Tenten? Kenapa cinta tak pernah berpihak pada sang pemilik? Aku harus bagaimana Tuhan? Aku telah jatuh hati pada seseorang. Tapi dibalik itu ada orang lain yang juga menyukaiku. Haruskah aku menerima cintanya dan menghapus rasa suka ku terhadap orang lain? Ataukah harus memperjuangkan orang yang aku suka? Jika dia tidak memiliki perasaan yang sama bagaimana? Batin ku seakan berperang. Dan mulutku seakan seperti pedang yang siap menusuk kapanpun. Aku seperti tengah terpojok oleh keinginan ku memiliki seseorang ataukah mengabulkan keinginan orang lain. Aku sebenarnya tidak ingin terlalu cepat memilih. Atau aku diam saja ya? tapi jika perasaan itu lenyap begitu saja bagaimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar