Irene
Oleh: Yenti Siti Nuryaman
Pagi
yang cerah, sama seperti pagi biasanya. Sinar mentari seakan tak pernah habis
meskipun setiap hari selalu terpancar. Sama seperti pagi kemarin, Irene memulai
paginya dengan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Ia termasuk
orang yang memiliki kepribadian Introvert dimana hanya berorientasi ke ‘dalam’
diri mereka sendiri. Yang hanya tertarik pada dunia ide, pemikiran dan konsep
sehingga jenis kepribadian seperti yang dimiliki Irene ini sangat menyukai suasana tenang untuk menyendiri dan cenderung lebih sulit bergaul. Hal itu terbukti di
kehidupan Irene. Selama 1 tahun bekerja, ia hanya memiliki 1 teman yang biasa
menemaninya. Selebihnya ia hanya sekedar mengetahui nama, bertukar senyum atau
bahkan tak mengenal mereka sama sekali.
Hingga
pada suatu pagi Irene tak sengaja berpapasan dengan seorang karyawan dari
perusahaan yang sama. Seperti biasa, ia hanya melontarkan senyuman terbaiknya
karena ia sendiri hanya mengetahui wajah pria itu tanpa mengetahui namanya. Beberpa langkah kemudian langkahnya terhenti karena mendengar namanya dipanggil
seseorang.
“Irene!”
panggil orang tersebut.
Sontak
kaki Irene berputar 180o. Matanya ia edarkan pada seluruh penjuru ruangan mencari sosok
yang memanggil namanya itu. Alhasil ia hanya menemukan seorang pria bertubuh
standar, berkulit agak kecoklatan dan berparas ke timur-timuran yang tengah
berdiri tepat 1 meter dihadapannya. Ia pun menjawab panggilan pria itu dengan
jawaban senormal mungkin “Iya?”
“Rumah
kamu dimana?” tanya pria itu lagi sambil memendekkan jarak antara dirinya dan
Irene.
“Di
kuningan kak.” Jawab Irene
“Oh
di Kuningan. Kamu alumni mana?” tanya pria itu lagi.
“Aku
alumni SMK Bina Bangsa ka. Kakak?” jawab Irene sambil menanyakan pertanyaan
yang sama kepada pria itu.
“Aku
juga di Bina Bangsa. Tapi aku SMA nya.”
Kata pria itu.
Irene
hanya manggut-manggut tanda ia mengerti. Karena berpikir tidak ada hal penting
yang perlu dibicarakan lagi. Irene pun pamit dan melanjutkan langkahnya yang
sempat terhenti tadi.
Barui
1 langkah Irene beranjak. Pria itu kembali menghentikan langkahnya. “Irene!”
Irene
pun hanya menoleh sembari mengernyitkan alis kanannya.
“Kita
belum kenalan. Namaku Tenten.” Ucap pria itu sambil melambaikan tangannya.
Irene
membalas ucapan pria yang baru diketahui namanya itu hanya dengan senyuman.
Kemudian ia melanjutkan langkahnya sambil menahan tawa karena menertawakan
tingkah aneh pria tadi beserta namanya yang langka itu.
Hari
sudah menjelang sore. Waktu menunjukkan pukul 15:00 WIB . Matahari sudah berada
diposisi setengah pamit. Irene masih sibuk dngan pekerjaannya. Sampai tibalah
tim IT kantor Irene masuk ke ruangannya untuk memeriksa koneksi internet di
komputer Irene. Setelah pengecekan selesai, Irene kembali melanjutkan
pekerjaannya. Tetapi sebelum tim IT beranjak, salah seorang tim IT menghampiri
meja Irene dan bertanya “Alumni Bina Bangsa yah?”
Irene
pun langsung menoleh dan menjawab “Iya” lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
Mungkin salah satu tim IT itu kecewa
dengan sikap Irene yang dingin. Pria itu pun langsung pergi meninggalkan
ruangan Irene begitu saja.
Dalam
hati Irene bertanya-tanya “Yang tadi siapa ya? Kok tau aku alumni Bina Bangsa?
Ah mungkin kakak kelas waktu SMK kali.” Tanggapan Irene cuek.
Esok
harinya pada jam istirahat, seperti biasa Irene dan teman satu-satunya “Mia" membeli makanan disebuah tempat makan
sederhana di dekat kantor mereka. Setiba disana ternyata ada tim IT
sedang membeli makanan juga. Menyadari itu, Irene dan dan Mia pun tersenyum
kepada tim IT yang saat itu ada 3 orang. Lalu Irene dan Mia duduk disamping mereka.
Beberapa saat kemudian salah satu tim IT bertanya kepada Irene “Kamu di SMK
Bina Bangsa jurusan apa?”
“Aku
jurusan AP kak.” Irene menoleh sambil tersenyum
“Emm
pantesan waktu itu Deni cerita katanya ada alumni Bina Bangsa yang kerja
disini. Ternyata itu kamu hehe.” Balas pria itu sambil tersenyum.
Mendengar
nama itu disebut sontak Irene mulai penasaran. Pasalnya, Deni adalah mantan
kekasih yang masih Irene suka. “Kamu kenal Deni?”
“Iya
kan aku seangkatan dan 1 jurusan sama Deni.”
Dari
situ Irene mulai tau bahwa bahwa ternyata ia telah salah memanggil pria itu
dengan sebutan ‘Kakak’ padahal mereka seangkatan.
Setelah
selesai makan, Irene dan Mia pun pamit pada tim IT yang masih berada disana.
Dalam perjalanan kembali ke ruangan, Irene bertanya pada Mia “Mia, emang
yang tadi itu siapa ya?”
“Namanya
Aldo. Kenapa?” tanya balik Mia.
“Engga
gak papa.” Jawab Irene sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Setiba
di depan kantor, Mia pamit kepada Irene karena ada urusan. Irene pun masuk ke
kantor sendirian. Begitu tiba di tangga. Irene melihat Tenten dibawah tangga
lalu Irene tersenyum sejenak selepas itu melanjutkan langkahnya kembali. Namun
lagi-lagi langkahnya dihentikan.
“Irene!”
panggil Tenten.
“Iya?”
“Kesini
sebentar deh.” Pinta Tenten.
Irene
pun segera menghampiri Tenten karena ia berpikir mungkin ada hal penting yang
ingin disampaikan Tenten.
“Kamu
gak kumpul kepanitiaan?” tanya Tenten.
Irene
berpikir sejenak seraya berbicara dalam hati Perasaan aku gak ikut kepanitian deh kenapa harus ikul kumpul?
“Ah
engga kak.” Jawab Irene asal.
Setelah
itu Irene dan Tenten pun berbincang-bincang cukup lama.
“Ternyata
kak Tenten selain lucu asyik juga yah. Baru kali ini aku langsung akrab sama
orang yang baru dikenal.” Bisik Irene dalam hati.
Keesokan
harinya sewaktu Irene baru saja tiba dikantor. Mia tiba-tiba saja langsung
menarik tangan Irene seraya berkata “Cieee Irene ada salam dari seseorang.”
Irene
menanggapinya dengan santai Ah mungkin cuma bercanda pikirnya. “salam apa? Salam sejahtera? Hahaha” balas Irene
bercanda.
“Ih
serius tau. Dia karyawan sini juga. Semalem dia bilang sama aku kalo dia suka
sama kamu. Cieee Irene berhasil memikat hati seseorang hahaha” ledek Mia.
“Apaan
sih boong ah!” bantah Irene sambil meninggalkan Mia yang masih meledeknya.
Meskipun
bersikap cuek dan bodoamat. Sebenarnya Irene sedikit penasaran perihal
kebenaran perkataan Mia. Ia terus berpikir Apa mungkin kak Tenten yah? Soalnya dia yang kayak lagi deketin aku.
Tapi apa mungkin? Ah udahlah siapa tau beneran boongan.
Matahari
mulai menyombongkan diri lagi. Ia berdiri tepat diatas kepala manusia-manusia
yang punya kegiatan masing-masing. Banyak diantara mereka yang mengeluhkan
cuaca yang begitu panas. Begitu pula Irene. Hari ini dia sedang sibuk-sibuknya.
Tapi tiba-tiba saja koneksi internet dikomputer dia gangguan. Akhirnya Irene
memutuskan untuk menemui tim IT untuk memperbaiki koneksi internet nya.
Ditengah
perjalanan ke ruangan IT, Irene berpapasan dengan Tenten. Irene mencoba
memperlambat langkahnya dan berdiam sejenak di tepi jendela pura-pura
memerhatikan pemandangan kota. Tanpa disadari ternyata Tenten berbalik arah dan
menghampiri Irene.
“Pemandangan
kota kalo diliat dari sini indah yah.” Ucap Tenten membuka percakapan.
“Apalagi
kalo malem. Yang keliatan cuma gemerlap lampu-lampu kota yang berkedip-kedip
seakan sedang berkomunikasi satu sama lain.” Tambah Irene.
“Tapi
sayangya, malam terlalu dingin untuk dimiliki. Meskipun sebenarnya sangat indah untuk dikagumi.” Kata Tenten sambil
menoleh dan menatap mata Irene.
Irene
sedikit kaget dengan perkataan Tenten. Ia berbalik menatap Tenten. Namun hanya
sedetik. Setelah itu Irene memalingkan wajahnya karena salah tingkah lalu
memutuskan berlalu meninggalkan Tenten yang masih menatapnya.
Dengan
setengah berlari, ditemani perasaan yang campur aduk akhirnya Irene sampai di
ruangan IT. Ia menyampaikan keluhan nya. Lalu membawa mereka ikut serta ke
ruangan Irene untuk memperbaiki koneksi internet tersebut.
Ditengah
perjalanan, secara tiba-tiba saja Aldo meraih tangan Irene seraya berkata
“Aku suka sama kamu.”
Sontak
Irene langsung melepaskan genggaman tangan Aldo karena terkaget.
Jadi dia orangnya? Bukan kak
Tenten? Kenapa cinta tak pernah berpihak pada sang pemilik? Aku harus bagaimana
Tuhan? Aku telah jatuh hati pada seseorang. Tapi dibalik itu ada orang lain
yang juga menyukaiku. Haruskah aku menerima cintanya dan menghapus rasa suka ku
terhadap orang lain? Ataukah harus memperjuangkan orang yang aku suka? Jika dia
tidak memiliki perasaan yang sama bagaimana? Batin ku seakan berperang. Dan
mulutku seakan seperti pedang yang siap menusuk kapanpun. Aku seperti tengah terpojok
oleh keinginan ku memiliki seseorang ataukah mengabulkan keinginan orang lain.
Aku sebenarnya tidak ingin terlalu cepat memilih. Atau aku diam saja ya? tapi
jika perasaan itu lenyap begitu saja bagaimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar