Cinta
Dalam Hati
Oleh:
Yenti Siti Nuryaman
“Mungkin ini memang
jalan takdirku. Mengagumi tanpa dicintai.” Itulah kutipan lirik lagu yang
dinyanyikan oleh group band asal Indonesia yang bernama Ungu. Setiap kalimat
dalam lirik tersebut seperti tengah menggambarkan kisahku. Ya, kisah cintaku.
Kisah yang hanya bisa dirasakan dalam hati. Bukan aku tak mau memulai. Hanya
saja, aku tidak mau membuat dia tersakiti lagi. Kita pernah saling memiliki.
Kita pernah saling menyukai. Kita juga pernah saling berjuang. Tapi aku rasa
aku yang sudah terlalu sering menyakitinya. Sudah cukup baginya untuk terluka.
Lagipula sekarang ia sudah memiliki kebahagiaan yang baru. Yang kuharap dapat
menebus kesalahan yang pernah aku perbuat dulu.
Untuk
sekarang, aku lebih ingin mengejar apa yang menjadi impianku ketimbang mengejar
apa yang tak akan pernah bisa kuraih. Aku tau di dunia ini tidak ada yang tidak
mungkin. Tapi aku juga tidak ingin menghalalkan segala cara hanya untuk membuat
rasa ingin memilikinya terpenuhi. Saling memiliki hanya akan membuat kita
saling menyakiti satu sama lain lagi. Dengan begitu mungkin aku atau dia akan
mulai membenci satu sama lain. Aku sama sekali tak ingin hal itu terjadi. Cukup
aku yang merasa tersakiti saat ini. Meskipun aku tau bahwa terus mencintainya
hanya akan membuat hati ini semakin rapuh.
Aku hanya ingin terus menjadi bunga yang
memberikan keharuman meskipun kepada tangan yang menghancurkannya. Aku hanya
ingin membuat dia tersenyum meskipun harus aku yang lagi lagi tersakiti. Usia
ku memang belum bisa dikatakan dewasa.
Tapi aku mempunyai rasa melebihi orang dewasa. Aku mempunyai cinta yang tulus.
Meskipun aku tidak tau cinta yang tulus itu seperti apa. Tapi aku yakin dengan
sepenuh hati bahwa ini benar-benar serius. Aku bahkan tidak peduli orang lain
berkata apa. Karena yang aku pedulikan hanya bagaimana cara membuat dia bahagia
meskipun bukan aku yang ada disampingnya ketika itu.
“Rey!”
panggilku dengan lantang.
Orang
yang ku panggil hanya menoleh tanpa suara sambil mengernyitkan alis tanda ingin
tau ada apa ia dipanggil.
“Emm
anu... terimakasih karena mau mendengarkan keluh-kesahku.” Ucapku sambil
menyajikan senyum semanis mungkin.
Lagi-lagi
dia hanya tersenyum tanpa suara lalu berlalu begitu saja. Tapi senyum yang
hanya berlangsung beberapa detik itu berhasil membuat degup jantungku berdegup
tak beraturan. “Oh Tuhan... aku sungguh
mencintainya” itulah kalimat yang hanya bisa aku teriakan dalam hati.
“Rey!”
panggil seseorang. Tapi kali ini bukan aku yang memanggil.
Dengan
cepat Rey langsung berlari menghampiri gadis itu. Ya, gadis yang ia pilih untuk
menjadi kekasihnya saat ini. Gadis yang menurutku manis, mungkin karena usia gadis itu terpaut 2 tahun
lebih muda dari usia aku dan Rey.
Sesampainya
dihadapan gadis itu Rey langsung mengelus-elus kepalanya dengan lembut dan
gadis itu membalasnya dengan senyuman yang manis. Setelah itu, mereka berlalu
begitu saja dan perlahan-lahan menghilang dari pandanganku.
Detik
berikutnya tanpa kusadari air mataku menetes begitu saja. Entah apa yang aku
tangisi. Mungkin lagi-lagi hatiku merasa sakit melihat mereka bersama. Tapi aku
mencoba untuk tetap kuat dan sebisa mungkin menjaga hubungan pertemananku dan
Rey agar tetap utuh. Hanya menjadi teman juga tidak apa untukku. Setidaknya aku
masih bisa berbagi cerita dengannya. Meskipun aku tau tindakan ini sama sekali
salah. Terkadang aku merasa menjadi perempuan jahat. Karena telah mencintai
seseorang yang sudah jelas-jelas memilih orang lain. Tapi apa boleh buat? Kita
tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Karena hanya hati yang tau
siapa yang pantas untuk dicintai.
Beberapa
hari berikutnya hubunganku dan Rey masih berjalan baik. Kita masih berteman
selayaknya teman biasa dan menghapus kenyataan bahwa kita pernah saling jatuh hati.
Tapi mungkin hanya Rey yang melakukan hal itu dengan benar. Sementara aku?
Sampai detik inipun aku masih jatuh hati padanya dan tak akan pernah bisa
menghapus perasaan itu begitu saja.
“Rey!”
panggilku.
“Iya
Hana?” jawabnya lirih.
Sedetik
kemudian aku menundukkan kepalaku karena tak sanggup menatap matanya. “Maaf...
“ hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulutku.
“Maaf
untuk apa?” tanyanya penasaran.
“Maaf karena telah lancang mencintaimu
sampai detik ini.” Ingin aku ungkapkan kalimat tadi. Tapi rasanya terlalu
sulit untuk diungkapkan. Lagi-lagi aku hanya bisa mengungkapkannya dalam hati.
Rasanya lidahku menolak untuk berkata demikian. Mungkin lidahku tak ingin
menyesal untuk kesekian kalinya.
“Maaf
telah merepotkanmu selama ini.” Akhirnya hanya itulah kalimat yang bisa aku
ucapkan.
“Tak
apa. Aku tak pernah merasa direpotkan.” Ucap Rey dengan ramah.
**
2
tahun kemudian
Perlahan, ku ambil
sebuah kotak berwarna abu yang dihiasi pita berwarna pink diatasnya. Ku ambil
satu persatu barang yang ada dalam kotak tersebut. Entah kenapa rasanya hatiku
menjadi pilu. Air mataku jatuh dengan banyaknya. Aku teringat kembali
kenangan-kenangan saat aku dan Rey bersama dulu. Dan barang-barang yang sedang
aku pandangi ini adalah barang-barang pemberian Rey. Semua barang-barang ini
adalah harta berharga untukku. Aku menyukai setiap apapun pemberian Rey dan tak
pernah berniat untuk membuangnya. Sampai pada giliran kertas berwarna cokelat bergambar dua buah burung
merpati yang sedang berdampingan disertai namaku dibawahnya. Dengan berat hati
ku balik kertas itu dan mencoba membaca ulang tulisan yang ada dibaliknya.
Disana tertulis nama Reyhan Andrian lalu dibawahnya ada nama kedua orangtua Rey
serta ada kata ‘dengan’ lalu tertulis pula nama gadis itu beserta kedua
orangtuanya.
Ya!
Itu adalah surat undangan pernikahan Rey dan gadis itu. Mereka telah menikah
setahun yang lalu. Hatiku sangat hancur menerima undangan tersebut secara
tiba-tiba. Karena sebelumnya Rey tidak pernah bercerita apapun soal pernikahannya.
Pikiranku mendadak kosong ketika itu. Mulutku menolak untuk makan selama
beberapa hari. Yang bisa kulakukan hanya menangis sejadi-jadinya. Sampai pada
hari pernikahannya tiba, aku mencoba mengumpulkan kekuatan ku kembali. Aku
tetap datang dengan menyajikan senyuman terbaik. Kupandangi Rey yang sangat
tampannya mengenakan jas berwarna abu berdampingan dengan gadis itu. Mereka
menyambut hangat setiap tamu yang datang. Dan aku? Aku hanya mencoba ikhlas
sekalipun hati menolak.
Selanjutnya,
ku ambil sebuah boneka panda di dalam kotak tersebut. Boneka itu adalah boneka
yang Rey berikan saat ulang tahunku yang ke 16 dulu. Kupeluk boneka itu dengan
eratnya sambil berkata “Sebab, pergimu
yang terjauh adalah jatuh cinta kepada yang selain aku.” Bagaimana mungkin
aku masih mencintainya padahal dia sudah tidak mungkin ku raih? Mungkin
lagi-lagi memang takdirku. Mengagumi secara diam. Dan mengagumi tanpa dicintai.
*Selesai*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar