Senin, 02 Januari 2017

Cerpen "Cinta Dalam Hati"

Cinta Dalam Hati
Oleh: Yenti Siti Nuryaman

“Mungkin ini memang jalan takdirku. Mengagumi tanpa dicintai.” Itulah kutipan lirik lagu yang dinyanyikan oleh group band asal Indonesia yang bernama Ungu. Setiap kalimat dalam lirik tersebut seperti tengah menggambarkan kisahku. Ya, kisah cintaku. Kisah yang hanya bisa dirasakan dalam hati. Bukan aku tak mau memulai. Hanya saja, aku tidak mau membuat dia tersakiti lagi. Kita pernah saling memiliki. Kita pernah saling menyukai. Kita juga pernah saling berjuang. Tapi aku rasa aku yang sudah terlalu sering menyakitinya. Sudah cukup baginya untuk terluka. Lagipula sekarang ia sudah memiliki kebahagiaan yang baru. Yang kuharap dapat menebus kesalahan yang pernah aku perbuat dulu.

            Untuk sekarang, aku lebih ingin mengejar apa yang menjadi impianku ketimbang mengejar apa yang tak akan pernah bisa kuraih. Aku tau di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Tapi aku juga tidak ingin menghalalkan segala cara hanya untuk membuat rasa ingin memilikinya terpenuhi. Saling memiliki hanya akan membuat kita saling menyakiti satu sama lain lagi. Dengan begitu mungkin aku atau dia akan mulai membenci satu sama lain. Aku sama sekali tak ingin hal itu terjadi. Cukup aku yang merasa tersakiti saat ini. Meskipun aku tau bahwa terus mencintainya hanya akan membuat hati ini semakin rapuh.

             Aku hanya ingin terus menjadi bunga yang memberikan keharuman meskipun kepada tangan yang menghancurkannya. Aku hanya ingin membuat dia tersenyum meskipun harus aku yang lagi lagi tersakiti. Usia ku memang belum  bisa dikatakan dewasa. Tapi aku mempunyai rasa melebihi orang dewasa. Aku mempunyai cinta yang tulus. Meskipun aku tidak tau cinta yang tulus itu seperti apa. Tapi aku yakin dengan sepenuh hati bahwa ini benar-benar serius. Aku bahkan tidak peduli orang lain berkata apa. Karena yang aku pedulikan hanya bagaimana cara membuat dia bahagia meskipun bukan aku yang ada disampingnya ketika itu.

            “Rey!” panggilku dengan lantang.

            Orang yang ku panggil hanya menoleh tanpa suara sambil mengernyitkan alis tanda ingin tau ada apa ia dipanggil.

            “Emm anu... terimakasih karena mau mendengarkan keluh-kesahku.” Ucapku sambil menyajikan senyum semanis mungkin.

            Lagi-lagi dia hanya tersenyum tanpa suara lalu berlalu begitu saja. Tapi senyum yang hanya berlangsung beberapa detik itu berhasil membuat degup jantungku berdegup tak beraturan. “Oh Tuhan... aku sungguh mencintainya” itulah kalimat yang hanya bisa aku teriakan dalam hati.

            “Rey!” panggil seseorang. Tapi kali ini bukan aku yang memanggil.

            Dengan cepat Rey langsung berlari menghampiri gadis itu. Ya, gadis yang ia pilih untuk menjadi kekasihnya saat ini. Gadis yang menurutku manis,  mungkin karena usia gadis itu terpaut 2 tahun lebih muda dari usia aku dan Rey.

            Sesampainya dihadapan gadis itu Rey langsung mengelus-elus kepalanya dengan lembut dan gadis itu membalasnya dengan senyuman yang manis. Setelah itu, mereka berlalu begitu saja dan perlahan-lahan menghilang dari pandanganku.

            Detik berikutnya tanpa kusadari air mataku menetes begitu saja. Entah apa yang aku tangisi. Mungkin lagi-lagi hatiku merasa sakit melihat mereka bersama. Tapi aku mencoba untuk tetap kuat dan sebisa mungkin menjaga hubungan pertemananku dan Rey agar tetap utuh. Hanya menjadi teman juga tidak apa untukku. Setidaknya aku masih bisa berbagi cerita dengannya. Meskipun aku tau tindakan ini sama sekali salah. Terkadang aku merasa menjadi perempuan jahat. Karena telah mencintai seseorang yang sudah jelas-jelas memilih orang lain. Tapi apa boleh buat? Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Karena hanya hati yang tau siapa yang pantas untuk dicintai.

            Beberapa hari berikutnya hubunganku dan Rey masih berjalan baik. Kita masih berteman selayaknya teman biasa dan menghapus kenyataan bahwa kita pernah saling jatuh hati. Tapi mungkin hanya Rey yang melakukan hal itu dengan benar. Sementara aku? Sampai detik inipun aku masih jatuh hati padanya dan tak akan pernah bisa menghapus perasaan itu begitu saja.

            “Rey!” panggilku.

            “Iya Hana?” jawabnya lirih.

            Sedetik kemudian aku menundukkan kepalaku karena tak sanggup menatap matanya. “Maaf... “ hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulutku.

            “Maaf untuk apa?” tanyanya penasaran.

            “Maaf karena telah lancang mencintaimu sampai detik ini.” Ingin aku ungkapkan kalimat tadi. Tapi rasanya terlalu sulit untuk diungkapkan. Lagi-lagi aku hanya bisa mengungkapkannya dalam hati. Rasanya lidahku menolak untuk berkata demikian. Mungkin lidahku tak ingin menyesal untuk kesekian kalinya.

            “Maaf telah merepotkanmu selama ini.” Akhirnya hanya itulah kalimat yang bisa aku ucapkan.

            “Tak apa. Aku tak pernah merasa direpotkan.” Ucap Rey dengan ramah.

**

2 tahun kemudian

Perlahan, ku ambil sebuah kotak berwarna abu yang dihiasi pita berwarna pink diatasnya. Ku ambil satu persatu barang yang ada dalam kotak tersebut. Entah kenapa rasanya hatiku menjadi pilu. Air mataku jatuh dengan banyaknya. Aku teringat kembali kenangan-kenangan saat aku dan Rey bersama dulu. Dan barang-barang yang sedang aku pandangi ini adalah barang-barang pemberian Rey. Semua barang-barang ini adalah harta berharga untukku. Aku menyukai setiap apapun pemberian Rey dan tak pernah berniat untuk membuangnya. Sampai pada giliran kertas  berwarna cokelat bergambar dua buah burung merpati yang sedang berdampingan disertai namaku dibawahnya. Dengan berat hati ku balik kertas itu dan mencoba membaca ulang tulisan yang ada dibaliknya. Disana tertulis nama Reyhan Andrian lalu dibawahnya ada nama kedua orangtua Rey serta ada kata ‘dengan’ lalu tertulis pula nama gadis itu beserta kedua orangtuanya.

            Ya! Itu adalah surat undangan pernikahan Rey dan gadis itu. Mereka telah menikah setahun yang lalu. Hatiku sangat hancur menerima undangan tersebut secara tiba-tiba. Karena sebelumnya Rey tidak pernah bercerita apapun soal pernikahannya. Pikiranku mendadak kosong ketika itu. Mulutku menolak untuk makan selama beberapa hari. Yang bisa kulakukan hanya menangis sejadi-jadinya. Sampai pada hari pernikahannya tiba, aku mencoba mengumpulkan kekuatan ku kembali. Aku tetap datang dengan menyajikan senyuman terbaik. Kupandangi Rey yang sangat tampannya mengenakan jas berwarna abu berdampingan dengan gadis itu. Mereka menyambut hangat setiap tamu yang datang. Dan aku? Aku hanya mencoba ikhlas sekalipun hati menolak.

            Selanjutnya, ku ambil sebuah boneka panda di dalam kotak tersebut. Boneka itu adalah boneka yang Rey berikan saat ulang tahunku yang ke 16 dulu. Kupeluk boneka itu dengan eratnya sambil berkata “Sebab, pergimu yang terjauh adalah jatuh cinta kepada yang selain aku.” Bagaimana mungkin aku masih mencintainya padahal dia sudah tidak mungkin ku raih? Mungkin lagi-lagi memang takdirku. Mengagumi secara diam. Dan mengagumi tanpa dicintai.


*Selesai*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar