Suki
Oleh: Yenti Siti Nuryaman
Dia adalah Raziel Raddian. Dia tidak memiliki kepercayaan
diri terhadap pandangan orang lain kepadanya. Pria yang suka sendirian dan
kesepian. Tapi sebaliknya, dia adalah tipe pria yang bersikap keren.
“Selamat pagi Raziel!” sapa dua orang gadis yang sengaja
berlari kearahnya hanya untuk mengucapkan selamat pagi(?)
“Pagi.” Balasnya cool.
Gadis-gadis tersebut pun tersenyum dengan ceria sambil
berlari-lari saking senangnya.
Bukan hal aneh memang, kejadian seperti ini sangat sering
terjadi. karena tak bisa dipungkiri bahwa Raziel adalah pria yang keren, pandai
olahraga dan nilai nya pun sangat tinggi. Jadi tak heran jika para gadis
mengaguminya.
“Zielll...!!!” teriak seorang gadis berambut hitam pekat
bermata bulat bak anime-anime jepang. Ya! Hanya dia yang memanggil Raziel
dengan panggilan ‘Ziel’ alasannya sih karena itu panggilan sayang mereka karena
sudah bersama sejak kelas 2 SD. Eh tapi sampai saat ini hubungan mereka hanya
sebatas “Sahabat kecil” tidak lebih.
Sontak Raziel pun menengok ke arah sumber suara “Emi!”
Gadis itu bernama lengkap Emily Hatori. Ayahnya adalah asli
berkebangsaan Jepang, sedangkan ibunya berkebangsaan Indonesia. Jadi tak heran
kalau nama belakang Emily ditambahkan nama keluarga ayahnya yaitu keluarga Hatori.
Sedari dulu Emi selalu beranggapan jika Raziel adalah hero, maka dirinya adalah heroine. Itu semua karena alasan yang
melekat pada diri mereka yaitu “Sahabat kecil”. Lebih dari yang lain, sedari
dulu Emi selalu disamping Raziel. Selalu ada disaat Raziel membutuhkan
pertolongan seseorang.
“Ziel, tak peduli apa kata orang lain. Aku akan selalu ada
untukmu.” Itulah kata-kata yang selalu Emi ucapkan pada Raziel.
**
Semakin beranjak dewasa, kedekatan mereka sering membuat
orang lain salah faham. Mereka kadang iri dan mengira bahwa Raziel dan Emi
berpacaran. Tapi situasi itu justru dimanfaatkan oleh Emi demi melindungi
Raziel dari godaan para gadis yang jatuh cinta hanya karena tampang dan
kepopuleran Raziel saja.
Suatu hari, saat Emi dan Raziel sedang beristirahat sejenak
di bukit yang terletak disamping jembatan. Mereka tak sengaja melihat seorang
gadis yang tengah memanjat jembatan seperti tengah mencoba melompat dan
mengakhiri hidupnya saat itu juga.
Sontak Raziel dan Emi berlari secepat mungkin untuk
menghindari hal itu terjadi. dengan perasaan setengah takut, Raziel mencoba
meraih tangan gadis tersebut dan memeluknya erat guna menenangkan gadis
tersebut.
Gadis tersebut berontak dan mencoba melepas pelukan Raziel.
Tapi Raziel malah memeluknya lebih erat dan berkata “Jangan lakukan hal bodoh
seperti ini! Karena hanya hidupmu yang akan berakhir. Tapi kesedihanmu akan
kekal bahkan bertambah parah!”
“Lepaskan! Kamu tidak tau apa-apa tentang hidupku! Aku sudah
cukup muak menjalani hidup ini!” teriak gadis itu sambil terisak.
“Eh, perasaan apa ini?
Kenapa dada ku terasa sesak melihat Ziel memeluk seorang gadis? Dan... kenapa
air mataku jatuh tanpa diperintah?” batin Emi didalam hatinya.
“Aku memang tidak tau menau soal masalah mu. Tapi aku tidak
akan membiarkan seseorang melakukan hal bodoh seperti ini. Tindakanmu
mengingatkan aku perihal ibuku yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama.
Aku benci orang bodoh yang egois seperti kalian.” Beberapa detik kemudian air
mata Raziel pun ikut jatuh tanpa diperintah.
Gadis itu merasa bersalah karena telah membuat pria yang
menolongnya mengingat kembali akan kenangan pahit ibunya lalu ia mencoba
melepaskan pelukan Raziel perlahan dan berkata “Maaf, aku tidak bermaksud
seperti itu.”
“Tak apa. Bukan salahmu jika melakukan hal seperti ini. Dan
bukan salahmu juga karena telah mengingatkanku akan kejadian dimasalalu. Aku
menyayangi ibuku. Aku menyesal karena tidak bisa menyelamatkan jiwanya. Dan
penyesalan itu masih terus berlanjut bahkan sampai hari ini. Jadi aku tidak
ingin membuat orang terdekatmu merasakan hal yang sama.” Jelas Raziel sambil
tersenyum.
“Terimakasih telah menyelamatkan dan menyadarkan aku. Aku
sangat berhutang budi pada kalian berdua.”
“Tak apa ko. Itu sudah menjadi kewajiban kami untuk menolong.”
Ucap Emi angkat bicara.
“Oh ya maaf sudah membiarkan pacar mu memelukku. Kamu pasti
cemburu.”
“Tidak, aku dan Emi tidak seperti yang kamu maksud. Kita
hanya berteman. Iya kan Em?” jelas Raziel.
Entah kenapa jawaban Raziel barusan seperti telah menghentikan
syaraf-syaraf tubuh Emi. Seketika tubuhnya menjadi kaku dan sulit untuk
bergerak. Kata-kata yang keluar dipikirannya hanya “Kenapa?”
Sadar bahwa gadis yang diajaknya bicara ini terdiam, Raziel
pun menepuk bahu Emi sambil berkata “Emi? Kamu baik-baik saja kan?”
“Eh tentu. Aku dan Ziel berteman sejak kecil. Iya kan Ziel?”
jawab Emi dengan senyum yang terpaksa.
“Oh syukurlah kalau begitu. Oh iya perkenalkan aku Vennil,
rumahku tak jauh dari sini. Jadi, jika kalian berkenan kalian boleh mampir sebagai
ucapan terimakasihku.” Tawar gadis yang baru diketahui namanya itu.
“Eh, apanya yang
syukurlah?” Batin Emi sinis.
“Ah terimakasih atas tawarannya tapi maaf bukannya aku tidak
mau. Tapi hari sudah mulai gelap dan kita harus pulang tepat waktu. Mungkin lain
kali?” tolak Raziel lembut.
“Emm... oke tak apa. Kalau begitu sampai jumpa! Sekali lagi
terimakasih ya.”
**
Beberapa bulan setelah kejadian itu. Emi, Raziel dan Vennil
jadi sering menghabiskan waktu bersama. Entah untuk berbagi cerita ataupun
sekedar bermain di taman.
“Zieeelll! Pulang bareng yahhh.” Teriak Emi.
“Emmm maaf mi. Hari ini aku ada janji. Jadi tidak bisa pulang
bersamamu? Tak apa kan?” jelas Raziel sedikit menyesalkan.
“Um, tak apa ko. Kan masih ada hari esok.” Balas Emi dengan
menyajikan senyuman manisnya.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu yah. Byee.”
“Hat...” belum sempat Emi meneruskan perkataannya, Raziel seketika
menghilang dari hadapan Emi dan yang tersisa hanya penampakkan punggungnya saja.
“Kenapa? Siapa yang
sangat ingin ia temui sampai tidak bisa pulang bersamaku seperti biasanya? Dan
kenapa lagi-lagi dada ini sesak? Kenapa sikap dia begitu dingin sampai tidak
mempedulikan perasaanku? Kenapa Zieeelll?” batinnya dalam hati.
Karena tidak pulang bersama Ziel, Emi pun memutuskan untuk
mengunjungi bukit di samping jembatan yang sering ia dan Ziel kunjungi untuk
sekedar beristirahat dan mengeluarkan keluh kesah.
Selang beberapa jam kemudian ada sebuah pesan masuk dari
Raziel yang menanyakan keberadaan Emi. Tak lama Raziel pun datang sambil
mengatur nafasnya karena habis berlari. Dan entah kenapa wajahnya terlihat
sangat bahagia seperti ada yang ingin ia bagi.
“Kamu habis darimana? Kenapa kamu berlari? Dan apa yang
membuatmu terlihat sangat bahagia Ziel?” tanya Emi penasaran.
Tanpa basa-basi Raziel pun memeluk Emi erat. Sekilas, Emi
senang karena ini pertama kalinya Raziel memeluknya dan penasaran juga apa yang
membuat Raziel sebahagia ini?
“Aku suka kamu. Dan aku ingin kamu jadi pacarku.” Ucap
Raziel.
“Eh?” jawab Emi bingung sekaligus senang.
“Aku bilang begitu pada Vennil Em. Akhirnya aku berhasil
menyatakan perasaanku padanya. Dan ternyata Vennil juga menyukaiku. Aku bahagia
sekali.” Lanjut Raziel.
Entah kenapa dada Emily terasa lebih sesak dari biasanya. Air
matanya pun lagi-lagi jatuh tanpa diperintah. “Kenapa? Kenapa Vennil?” jawab
Emi sambil terisak.
Mengetahui ada yang aneh dari Emi akhirnya Raziel melepaskan
pelukannya dan mendapati mata Emi tengah dibanjiri air mata. “Kamu kenapa? Apa
yang membuatmu menangis Emily?” tanya Raziel panik.
“Kenapa Vennil? Kenapa bukan aku? Apa kebersamaan kita selama
ini sama sekali tidak membuat kamu jatuh hati? Kenapa harus Vennil yang baru
beberapa bulan kamu kenal? Aku suka kamu. sangat suka. Bahkan lebih dari yang
kamu pikirkan. Selama ini aku mencintaimu Ziel. Tidakkah kamu sadari itu?”
teriak Emily tak tertahankan lagi.
Akhirnya dengan perasaan kacau, Emily pun berlari
meninggalkan Raziel tanpa sepatah kata lagi. Rasanya hatinya benar-benar
hancur. Dan siapapun tak akan mampu memperbaikinya.
Semenjak pengakuan itu, Emily dan Raziel tidak pernah pulang
bersama lagi. Bahkan ketika saling berpapasan sekalipun, mereka bertingkah
seolah tidak pernah mengenal satu sama lain.
“Aku tidak mau menetap jika yang bisa kulakukan hanya
menatap!” itulah kata-kata yang sempat Emily katakan secara perlahan ketika
tengah berpapasan dengan Raziel.
Mendengar itu, Raziel hanya bisa menunduk seolah tak percaya
bahwa gadis yang selama ini selalu bersamanya mempunyai rasa sebesar itu
terhadapnya.
*End*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar