Tsundere
Oleh
: Yenti Siti Nuryaman
“Kei-Chan1!”
panggil seorang pria berkulit putih, berperawakan tinggi, berhidung mancung,
dan berparas tampan yang bernama Katsuo.
“Kei-Chan!”
“Kei-Chan!”
“Keinarra-Chan!
Ampun deh kuping lo masih berfungsi kan?” panggilnya lagi dengan nada geram
karna orang yang dipanggilnya tidak menyahut juga meskipun telah dipanggil
berkali-kali.
“Nee2?” akhirnya yang dipanggil pun angkat
bicara.
“Ampun deh ternyata lo masih suka makan kulkas ya?
Dingin banget gaada anget-angetnya dikit sama orang hahaha.” Ledek Katsuo.
Dasar ampun kepribadian ganda Keinarra ini. Ia
kembali cuek dan tak menghiraukan ledekan Katsuo.
“Oke oke gue manggil lo cuma mau ngasih tau kalo
sekarang waktunya ke lab. Anak-anak semuanya udah pergi tinggal lo doang. Gue
sebagai ketua kelas harus bertanggungjawab atas semuanya jadi gue panggil lo
buat ngasih tau.” Terang Katsuo rinci.
Gadis itu hanya celingukan menyadari bahwa seisi
kelas sudah sepi ditinggal penghuninya yang pergi ke lab. Akhirnya ia pun segera
merapikan buku-buku yang berserakan diatas meja. Setelah itu berlalu
meninggalkan Katsuo tanpa sepatah katapun.
Katsuo hanya menggeleng-geleng lalu matanya tertuju
pada secarik kertas yang tergeletak diatas meja Keinarra. Ia pun tertarik untuk
melihatnya. Dan ternyata diatas kertas itu terdapat guratan-guratan pensil yang
memiliki unsur seni yang baik. Ia pun hanya bisa terkagum-kagum seraya bergumam
“Lumayan juga.”
**
Sekolah hari ini telah usai. Membuat siswa dan siswi
yang berada disana selama seharian terpaksa pulang kerumah masing-masing. Tapi
tidak dengan Keinarra. Ia punya kegiatan lain setelah sekolah usai. Yaitu
mengunjungi pohon sakura yang berada tepat diatas bukit yang tak jauh dari
sekolahnya untuk mencari inspirasi dan ketenangan agar ia bisa menuangkan seni
ke atas kertas yang ia miliki.
Semilir angin terasa seperti tengah mengusap-usap
kulitnya yang putih nan mulus itu. Kelopak bunga sakura berjatuhan seperti
tengan menari dengan angin. Serta langit senja yang keorenan seperti tengah
berseri-seri menyambut kedatangan tamu yang nyaris hampir setiap senja
berkunjung ketempat itu.
Ternyata disisi lain tanpa sepengetahuan Keinarra,
ada seorang pria yang selalu berdiri diatap sekolah memperhatikan Keinarra
membuat garis-garis indah diatas kertas itu. Meski ia selalu penasaran kumpulan
garis-garis itu akan membentuk apa. Tapi ia tak pernah bosan jika hanya
memperhatikan dari jauh. Karna ia percaya suatu hari nanti ia akan melihat dan
terpukau melihat apa yang selama ini ingin ia lihat.
Hari berganti hari. Gadis itu masih sering
mengunjungi tempat itu sepulang sekolah setiap harinya. Sama seperti pria itu. Ia
juga tidak pernah bosan memperhatikan Keinarra hanya dari atap sekolah.
Tapi suatu hari rasa penasaran pria itu makin
menjadi. Ia merasa harus melihat apa yang selama ini ingin ia lihat sekarang
juga tanpa peduli respon Keinarra. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menemui
Keinarra. Tapi sayang, setibanya ditempat itu ia tidak bertemu Keinarra. Ternyata
terlambat. Keinarra mungkin sudah pulang sebelum ia sampai ketempat itu.
Pria itupun memutuskan untuk duduk sejenak dibawah
pohon sakura seperti yang biasa Keinarra lakukan. Punggungnya ia sandarkan pada
batang pohon sakura yang kokoh. Sesekali ia pejamkan matanya untuk merasakan
ketenangan diatas bukit tersebut. Beberapa saat kemudian ia merasakan ada
sebuah benda yang mengganjal antara saku celananya dan batang pohon. Setelah ia
mencari, akhirnya ia menemukannya. Sesuatu semacam gantungan tas namun
berbentuk panda. Ia pun memutuskan untuk menyimpannya.
Paginya, seperti biasa Katsuo menyapa teman-temannya
yang baru tiba kesekolah. Hingga giliran Keinarra yang datang.
“Ohayou3
Kei-Chan.” Sapanya ramah.
Namun lagi-lagi Keinarra hanya menoleh kemudian
berlalu tanpa sepatah katapun. Katsuo sedikit bisa menerima perlakuan dinginnya
itu. Karna Katsuo tau dan faham tentang kepribadian ganda yang dimiliki
Keinarra. Tapi kali ini Katsuo merasa ada yang berbeda dari sikap Keinarra. Ia
seperti tengah bersedih karena sesuatu. Katsuo sedikit menyadari dan menebak
apa yang membuat Keinarra bersedih. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk
memanggil Kei sebelum punggungnya hilang dari penglihatan nya.
“Kei-Chan! Matte4!”
teriak Katsuo sembari mengejar langkah Keinarra.
“Nee?” Keinarra menoleh dengan tatapan dingin.
“Apakah kamu kehilangan benda ini?” tanya Katsuo
sambil menunjukan benda yang ia maksud.
Kedua kelopak bolamata Keinarra langsung membesar
membentuk lingkaran besar seakan bolamatanya mau loncat. “Yattaaaaaaaaaaa5!” bibirnya berubah menjadi seulas
senyum yang indah nan mempesona. “Hontouni
Arigatou6 Katsuo-Kun7.”
“Ternyata lo lebih cantik kalo senyum.” Goda Katsuo
spontan.
Kei langsung mencubit tangan Katsuo karna salah
tingkah.
**
Semenjak saat itu sikap Keinarra tidak lagi dingin terhadap
Katsuo. Mereka jadi sering menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah ditempat
yang menjadi tempat favorite Kei dan juga Katsuo yaitu di bawah pohon sakura.
“Nee... Kei-chan?” panggil Katsuo membuka percakapan.
“Emmm...” sahut Keinarra sembari terus menikmati
pemandangan sekitar bukit.
“Aku selalu penasaran apa yang kamu gambar setiap
kali kamu berada disini. Tapi sekarang aku sudah tidak lagi penasaran tentang
itu. Sekarang aku penasaran tentang apa yang kamu rasakan setiap kali aku ada
disamping kamu.”
“Etto8...
kamu mau tau apa yang aku gambar setiap kali aku berada disini? Jawabannya ada
di buku ini.” Kei lalu mengeluarkan sketchbook dari dalam tasnya.
Rasa kaget sekaligus senang kini dirasakan Katsuo.
Akhirnya setelah sekian lama apa yang ingin ia lihat selama ini ada di
genggaman tangganya yang menanti untuk dibuka.
Lembar demi lembar ia buka secara seksama dan
perlahan. Alangkah terkejutnya Katsuo yang tidak menyangka bahwa lembar demi
lembar yang ada di sketchbook tersebut berisi sketsa wajah tampannya.
“Sugoi desu yo9!”
Ucap Katsuo riang. “Arigatou Kei-Chan.” Ucap nya lagi.
“Umm.” Keinarra mengangguk.
“Anu... Kei-Chan.”
“Nee?” sahut Keinarra.
“Daisuki da yo10!”
ucap Katsuo dengan wajah memerah karna gugup.
“Arigatou Katsuo-Kun. Aku juga menyukaimu. Demo11... aku belum yakin
tentang perasaanku. Jadi beri aku waktu untuk melihat apakah rasa suka ini
hanya untuk sebatas teman atau lebih.” Jelas Kei.
“Daijoubu12.
Aku akan terus menunggu.”
Untuk sesaat mereka saling bertatapan. Lalu kembali
menikmati pemandangan sekitar bukit yang tak pernah bosan mereka pandangi
dengan ditemani indahnya langit senja, kelopak bunga sakura yang berjatuhan,
serta kicauan burung camar yang terbang rendah di sekitar mereka.
-Selesai-
Catatan kaki:
|
1. Akhiran yang sering digunakan untuk perempuan yang sudah
akrab
|
4. Tunggu
|
7. Panggilan untuk pria sebaya/akrab.
|
10. Aku menyukaimu
|
|
2. Ya?
|
5. Horeyyyyy
|
8. anuu
|
11. Tapi
|
|
3. Selamat pagi
|
6. Terimakasih banyak
|
9. Bagus sekali
|
12. Tenang saja
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar