Aku dan Jarak
Jarak? Aku
menyebutnya bukan penghalang. Melainkan penghubung. Sesuatu seperti penguat
atau bahkan bisa jadi suatu penghambat. Semua itu tergantung bagaimana jarak
berpihak. Aku menjalani hubungan jarak jauh ini selama hampir setahun. Selama
itu juga rasa cinta aku dan Tristan di
uji. Seperti kisah-kisah LDR yang lain. Rasa bosan, jenuh, rindu, sakit, iri
terus menghantui di setiap detiknya. Tapi aku tidak menjadikannya beban, karna
aku tau jarak ini akan menipis suatu saat nanti.
Aku tidak
pernah tau berapa lama hubungan ini akan bertahan. Berapa lama jarak akan
berpihak. Dan berapa lama cinta menjadi alasan kami masih bersatu. Yang jelas,
aku mencintainya lebih dari apapun. Aku menyayanginya lebih dari siapapun. Dan
aku tidak ingin kehilangannya. Salah memang. Mencintai dan menyayangi seseorang
secara berlebih. Tapi hanya itu yang mampu kulakukan. Hanya kesetiaan yang
mampu ku suguhkan. Hanya perhatian yang mampu kuberikan. Dan terus membuat dia
senyaman mungkin berada disisiku yang mampu ku usahakan.
Aku tidak
secantik perempuan diluar sana. Aku belum begitu menyukai make up. Aku baru bisa memakai lipstick.
Itupun belum terlalu mahir. Uangku tidak banyak. Tubuhku tidak se-bagus
perempuan lain. Dan sikap ku belum seanggun putri kerajaan. Tapi aku selalu
mencoba semaksimal mungkin untuk terlihat pantas di matanya. Entah karna ingin
dipuji atau karna ingin tatapannya hanya menjadi milikku seorang.
Tatapan itu
berhasil kumiliki secara tunggal selama beberapa bulan. Namun sayang, suatu
saat tatapan itu telah berpaling. Perempuan cantik dengan kulit mulus nan
sempurna serta pandai memakai make up
telah mengambil tatapan itu dari ku. Dan disaat itu juga jarak telah
mengkhianatiku. Jarak yang terlalu jauh membuat Tristan sulit menemuiku dan
tergoyahkan keyakinannya. Sementara jarak yang dimiliki perempuan itu sangat
dekat sehingga membuat Tristan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk
menyukainya. Rasanya sakit, setelah apa yang aku usahakan selama ini harus
berakhir karna hadirnya berlian mewah yang menarik hati Tristan.
Saat awal
kutau pengkhianatan cinta yang Tristan lakukan, aku hanya bisa sekuat mungkin
untuk tegar dan menerima kenyataan. Meskipun sebenarnya setiap malam jam
tidurku selalu terganggu karna memikirkan hal ini. Sepanjang malam hatiku
selalu bertanya-tanya. Apa yang harus aku lakukan agar Tristan berhenti
menyakitiku? Apa salah ku sampai Tristan tega menghancurkan semua yang sudah
kami bangun dengan susah payah? Apa yang terjadi jika aku menyerah, akankah
Tristan menyadari kesalahan nya dan mengembalikan keadaan seperti semula? Semua
itu terus menerus beradu dalam otakku yang ukurannya tidak seberapa.
Sampai tiba
suatu pagi, Tristan membangunkan aku dari tidur dan mengucapkan selamat pagi
dengan manisnya. Aaahhh... aku tidak bisa berhenti jatuh cinta padanya. Rasa
sakit yang aku derita semalam seolah hilang terganti oleh rasa bahagia yang
Tristan ciptakan pagi ini. Dia adalah satu-satunya orang yang mampu membuat aku
jatuh cinta berkali-kali dengan rasa cinta yang lebih besar dari sebelumnya.
Dia membuatku tak berhenti tersenyum sepanjang pagi. Dia juga membuatku tak
berhenti bersyukur pada Allah S.W.T atas nikmat dan kebahagiaan ini.
Siang
harinya tubuhku terasa lelah, entah karena pekerjaan rumah yang aku kerjakan
hari ini terlalu berat atau mungkin karna pikiranku yang semalaman berpikir
karna hal itu? Entahlah. Aku pun terlelap dan mulai masuk ke dalam alam bawah
sadar ku. Beberapa jam aku terlelap hingga suatu detik ada sesuatu yang
membangunkan tidur siang ku. Sesuatu seperti suara peringatan ada pesan masuk.
Setelah ku lihat ternyata itu dari Tristan. Alangkah terkejutnya aku ketika
mendapati pesan tersebut yang menyatakan bahwa Tristan ingin mengakhiri
semuanya, semua dongeng kita. Demi dongeng baru. Ya! Perempuan itu yang
lagi-lagi menggoyahkan keyakinan Tristan terhadap hubungan ini. Tristan lebih
memilih menghidupkan dongeng baru daripada menjaga dongeng lama. Tragis. Aku
hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Tubuhku menjadi berkali lipat lelahnya dari
sebelum aku terlelap.
Dari langit
berwarna orange sampai langit berubah
menjadi gelap aku tidak henti-hentinya menangis. Rasanya terlalu sakit untuk
diterjemahkan. Terlalu sulit untuk diungkapkan. Dan terlalu sukar untuk dipahami.
Hubungan ini benar-benar berakhir. Dongeng ini benar-benar hancur. Ketegaran ku
selama ini sama sekali tidak membuahkan hasil. Aku kecewa. Aku marah. Perasaanku
saat itu hancur. Jiwa ku benar-benar lemah. Ya, ini karna efek rasa sayang yang
berlebih yang kumiliki. Aku berharap ada keajaiban agar aku bisa kembali tersenyum
seperti sedia kala.
Detik demi
detik berlalu. Sudah hampir larut dan aku terlelap lagi dengan keadaan yang
mengenaskan dengan mata sembab dipenuhi air mata serta tissue yang berceceran dimana-mana. Tak lama aku terlelap, ada
sesuatu yang membangunkan aku lagi. Kali ini sebuah nada peringatan bahwa ada telephone masuk. Aahhh... ternyata dari
Tristan. Sedetik kemudian tangisku berubah menjadi senyum. Dan berharap bahwa
ini adalah sebuah keajaiban yang membawa Tristan kembali padaku.
Benar saja,
keajaiban datang lebih cepat. Tristan mengakui kesalahannya dan meminta maaf
padaku. Dalam hati aku berbicara ‘Oh
Tristan aku tidak pernah membenci kamu. aku hanya benci pada diriku sendiri.
Benci karena tidak bisa mengalahkan jarak.’ Hari ini benar-benar ajaib.
Tristan membangunkan aku tigakali dalam hari yang sama. Yang pertama
membangunkan dengan kebahagiaan. Yang kedua membangunkan dengan kehancuran. Dan
yang ketiga membangunkan dengan mengatakan itu sebuah mimpi.
Aku tau dia
telah menghancurkan kesempatan pertama yang kuberi. Kesempatan yang
mendatangkan kelimpahan. Dimana rasa percaya dan rasa sayang masih utuh. Tapi
aku mencoba untuk memberinya kesempatan kedua serta mencoba sekuat hati
mengembalikan rasa percaya dan rasa sayang itu kembali utuh seperti semula.
Minggu
berganti minggu hubunganku dan Tristan kembali memburuk setelah perempuan itu
hadir kembali. Ternyata perempuan itu masih tinggal dihati Tristan. Perempuan
itu masih disana. Tapi aku baru menyadarinya sekarang. Hati ku kembali hancur.
Kesempatan kedua yang kuberi rasanya hampa. Dan aku benar-benar mati rasa.
Emosi yang
menggebu-gebu membuat ku mengambil keputusan yang tidak tepat. Aku memutuskan
untuk mengakhiri semuanya. Saat itu aku yakin akan keputusanku dan berpikir ini
yang terbaik. Awalnya Tristan mengelak dengan alasan menyayangiku. Tapi aku
masih tetap pada pendirianku. Mulai saat itu, semuanya benar-benar berakhir.
Beberapa
hari setelah dongeng ku berakhir. Aku mendapat sebuah alasan kuat untuk yakin
bahwa keputusan ku waktu itu adalah yang terbaik. Sekarang aku lebih paham
siapa Tristan. Dan mulai saat itu aku sadar bahwa aku hanya bagian kecil dari
hati Tristan. Sebagian besarnya ada pada perempuan itu. Dia tidak pernah
benar-benar menginginkan kesempatan kedua dariku. Dia hanya memilihku ketika
perempuan itu enggan untuk memilihnya. Tapi sekarang, mungkin perempuan itu
memiliki rasa yang sama sehingga dia dan Tristan disatukan oleh yang mereka
sebut ‘Cinta’.
Aku tau
sesuatu yang berawal tidak baik akan berakhir tidak baik juga. Semua itu
terbukti dengan lamanya hubungan Tristan dan perempuan itu. Mereka bahkan tidak
bisa bertahan lebih lama karna terseret ego masing-masing. Menurutku itu bukan
cinta, mereka hanya terkecoh kesenangan sesaat. Tapi aku tidak peduli. Itu
sudah bukan menjadi urusanku.
Setelah
itu, Tristan kembali hadir kedalam hidupku. Dia mencoba menanyakan kembali
tentang dongeng kita. Tapi aku tidak bisa. Aku sudah yakin akan keputusanku.
Dan aku akan tetap pada pendirianku. Saat dia kembali, dia begitu manis seperti
saat kita masih bersama. Tapi sayang, itu tidak membuatku jatuh cinta lagi.
Rasa kecewa yang aku miliki terlalu besar bila dibanding rasa sayang yang
pernah aku miliki untuknya.
Benar saja,
suatu hari aku mendapati kenyataan yang begitu memilukan. Ternyata sewaktu
Tristan menanyakan kembali dongeng kita. Dia telah lebih dulu mengambil dongeng
lama yang pernah ia ciptakan bersama seseorang. Bukan, bukan aku. Bukan juga
perempuan itu. Tapi perempuan lain yang pernah mengisi hati Tristan sebelum
aku.
Aku tak
habis pikir, bagaimana mungkin ia bisa sebegitu manisnya dan kembali menanyakan
dongeng kita jika ia sudah mengambil dongeng lain? Bukankah itu sepenuhnya
salah? Jika ia benar-benar ingin menghidupkan kembali dongeng kita seharusnya
ia tidak mengambil dongeng lain. Karna itu hanya akan memperburuk keadaan dan
menyakiti semua pihak. Menyakiti aku, menyakiti dirinya sendiri dan juga
menyakiti perempuan itu. Tidakkah dia berpikir seperti itu?
Aahhhh...
perjalanan ini sungguh melelahkan untuk kutempuh. Sekarang aku memilih untuk
beristirahat dan mempersiapkan hatiku untuk cinta yang tepat agar tidak lagi
terjebak dalam cinta yang salah. Kali ini aku kembali tersenyum seperti
sediakala. Bukan, bukan karna Tristan lagi. Tapi karna aku sadar bahwa aku
telah terlepas dari cinta yang salah dan telah sepenuhnya bahagia. Bahagia
karna hidupku akan lebih bermakna setelah ini. Kali ini aku menyerah. Dan aku
mengakui bahwa aku telah kalah dari jarak. Kali ini jarak menang. Dan aku
kalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar