Sabtu, 03 September 2016

Cerpen Aku dan Jarak

Aku dan Jarak

            Jarak? Aku menyebutnya bukan penghalang. Melainkan penghubung. Sesuatu seperti penguat atau bahkan bisa jadi suatu penghambat. Semua itu tergantung bagaimana jarak berpihak. Aku menjalani hubungan jarak jauh ini selama hampir setahun. Selama itu juga rasa cinta aku dan Tristan  di uji. Seperti kisah-kisah LDR yang lain. Rasa bosan, jenuh, rindu, sakit, iri terus menghantui di setiap detiknya. Tapi aku tidak menjadikannya beban, karna aku tau jarak ini akan menipis suatu saat nanti.

            Aku tidak pernah tau berapa lama hubungan ini akan bertahan. Berapa lama jarak akan berpihak. Dan berapa lama cinta menjadi alasan kami masih bersatu. Yang jelas, aku mencintainya lebih dari apapun. Aku menyayanginya lebih dari siapapun. Dan aku tidak ingin kehilangannya. Salah memang. Mencintai dan menyayangi seseorang secara berlebih. Tapi hanya itu yang mampu kulakukan. Hanya kesetiaan yang mampu ku suguhkan. Hanya perhatian yang mampu kuberikan. Dan terus membuat dia senyaman mungkin berada disisiku yang mampu ku usahakan.

            Aku tidak secantik perempuan diluar sana. Aku belum begitu menyukai make up. Aku baru bisa memakai lipstick. Itupun belum terlalu mahir. Uangku tidak banyak. Tubuhku tidak se-bagus perempuan lain. Dan sikap ku belum seanggun putri kerajaan. Tapi aku selalu mencoba semaksimal mungkin untuk terlihat pantas di matanya. Entah karna ingin dipuji atau karna ingin tatapannya hanya menjadi milikku seorang.

            Tatapan itu berhasil kumiliki secara tunggal selama beberapa bulan. Namun sayang, suatu saat tatapan itu telah berpaling. Perempuan cantik dengan kulit mulus nan sempurna serta pandai memakai make up telah mengambil tatapan itu dari ku. Dan disaat itu juga jarak telah mengkhianatiku. Jarak yang terlalu jauh membuat Tristan sulit menemuiku dan tergoyahkan keyakinannya. Sementara jarak yang dimiliki perempuan itu sangat dekat sehingga membuat Tristan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyukainya. Rasanya sakit, setelah apa yang aku usahakan selama ini harus berakhir karna hadirnya berlian mewah yang menarik hati Tristan.

            Saat awal kutau pengkhianatan cinta yang Tristan lakukan, aku hanya bisa sekuat mungkin untuk tegar dan menerima kenyataan. Meskipun sebenarnya setiap malam jam tidurku selalu terganggu karna memikirkan hal ini. Sepanjang malam hatiku selalu bertanya-tanya. Apa yang harus aku lakukan agar Tristan berhenti menyakitiku? Apa salah ku sampai Tristan tega menghancurkan semua yang sudah kami bangun dengan susah payah? Apa yang terjadi jika aku menyerah, akankah Tristan menyadari kesalahan nya dan mengembalikan keadaan seperti semula? Semua itu terus menerus beradu dalam otakku yang ukurannya tidak seberapa.

            Sampai tiba suatu pagi, Tristan membangunkan aku dari tidur dan mengucapkan selamat pagi dengan manisnya. Aaahhh... aku tidak bisa berhenti jatuh cinta padanya. Rasa sakit yang aku derita semalam seolah hilang terganti oleh rasa bahagia yang Tristan ciptakan pagi ini. Dia adalah satu-satunya orang yang mampu membuat aku jatuh cinta berkali-kali dengan rasa cinta yang lebih besar dari sebelumnya. Dia membuatku tak berhenti tersenyum sepanjang pagi. Dia juga membuatku tak berhenti bersyukur pada Allah S.W.T atas nikmat dan kebahagiaan ini.

            Siang harinya tubuhku terasa lelah, entah karena pekerjaan rumah yang aku kerjakan hari ini terlalu berat atau mungkin karna pikiranku yang semalaman berpikir karna hal itu? Entahlah. Aku pun terlelap dan mulai masuk ke dalam alam bawah sadar ku. Beberapa jam aku terlelap hingga suatu detik ada sesuatu yang membangunkan tidur siang ku. Sesuatu seperti suara peringatan ada pesan masuk. Setelah ku lihat ternyata itu dari Tristan. Alangkah terkejutnya aku ketika mendapati pesan tersebut yang menyatakan bahwa Tristan ingin mengakhiri semuanya, semua dongeng kita. Demi dongeng baru. Ya! Perempuan itu yang lagi-lagi menggoyahkan keyakinan Tristan terhadap hubungan ini. Tristan lebih memilih menghidupkan dongeng baru daripada menjaga dongeng lama. Tragis. Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Tubuhku menjadi berkali lipat lelahnya dari sebelum aku terlelap.

            Dari langit berwarna orange sampai langit berubah menjadi gelap aku tidak henti-hentinya menangis. Rasanya terlalu sakit untuk diterjemahkan. Terlalu sulit untuk diungkapkan. Dan terlalu sukar untuk dipahami. Hubungan ini benar-benar berakhir. Dongeng ini benar-benar hancur. Ketegaran ku selama ini sama sekali tidak membuahkan hasil. Aku kecewa. Aku marah. Perasaanku saat itu hancur. Jiwa ku benar-benar lemah. Ya, ini karna efek rasa sayang yang berlebih yang kumiliki. Aku berharap ada keajaiban agar aku bisa kembali tersenyum seperti sedia kala.

            Detik demi detik berlalu. Sudah hampir larut dan aku terlelap lagi dengan keadaan yang mengenaskan dengan mata sembab dipenuhi air mata serta tissue yang berceceran dimana-mana. Tak lama aku terlelap, ada sesuatu yang membangunkan aku lagi. Kali ini sebuah nada peringatan bahwa ada telephone masuk. Aahhh... ternyata dari Tristan. Sedetik kemudian tangisku berubah menjadi senyum. Dan berharap bahwa ini adalah sebuah keajaiban yang membawa Tristan kembali padaku.

            Benar saja, keajaiban datang lebih cepat. Tristan mengakui kesalahannya dan meminta maaf padaku. Dalam hati aku berbicara ‘Oh Tristan aku tidak pernah membenci kamu. aku hanya benci pada diriku sendiri. Benci karena tidak bisa mengalahkan jarak.’ Hari ini benar-benar ajaib. Tristan membangunkan aku tigakali dalam hari yang sama. Yang pertama membangunkan dengan kebahagiaan. Yang kedua membangunkan dengan kehancuran. Dan yang ketiga membangunkan dengan mengatakan itu sebuah mimpi.

            Aku tau dia telah menghancurkan kesempatan pertama yang kuberi. Kesempatan yang mendatangkan kelimpahan. Dimana rasa percaya dan rasa sayang masih utuh. Tapi aku mencoba untuk memberinya kesempatan kedua serta mencoba sekuat hati mengembalikan rasa percaya dan rasa sayang itu kembali utuh seperti semula.

            Minggu berganti minggu hubunganku dan Tristan kembali memburuk setelah perempuan itu hadir kembali. Ternyata perempuan itu masih tinggal dihati Tristan. Perempuan itu masih disana. Tapi aku baru menyadarinya sekarang. Hati ku kembali hancur. Kesempatan kedua yang kuberi rasanya hampa. Dan aku benar-benar mati rasa.

            Emosi yang menggebu-gebu membuat ku mengambil keputusan yang tidak tepat. Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Saat itu aku yakin akan keputusanku dan berpikir ini yang terbaik. Awalnya Tristan mengelak dengan alasan menyayangiku. Tapi aku masih tetap pada pendirianku. Mulai saat itu, semuanya benar-benar berakhir.

            Beberapa hari setelah dongeng ku berakhir. Aku mendapat sebuah alasan kuat untuk yakin bahwa keputusan ku waktu itu adalah yang terbaik. Sekarang aku lebih paham siapa Tristan. Dan mulai saat itu aku sadar bahwa aku hanya bagian kecil dari hati Tristan. Sebagian besarnya ada pada perempuan itu. Dia tidak pernah benar-benar menginginkan kesempatan kedua dariku. Dia hanya memilihku ketika perempuan itu enggan untuk memilihnya. Tapi sekarang, mungkin perempuan itu memiliki rasa yang sama sehingga dia dan Tristan disatukan oleh yang mereka sebut ‘Cinta’.

            Aku tau sesuatu yang berawal tidak baik akan berakhir tidak baik juga. Semua itu terbukti dengan lamanya hubungan Tristan dan perempuan itu. Mereka bahkan tidak bisa bertahan lebih lama karna terseret ego masing-masing. Menurutku itu bukan cinta, mereka hanya terkecoh kesenangan sesaat. Tapi aku tidak peduli. Itu sudah bukan menjadi urusanku.

            Setelah itu, Tristan kembali hadir kedalam hidupku. Dia mencoba menanyakan kembali tentang dongeng kita. Tapi aku tidak bisa. Aku sudah yakin akan keputusanku. Dan aku akan tetap pada pendirianku. Saat dia kembali, dia begitu manis seperti saat kita masih bersama. Tapi sayang, itu tidak membuatku jatuh cinta lagi. Rasa kecewa yang aku miliki terlalu besar bila dibanding rasa sayang yang pernah aku miliki untuknya.

            Benar saja, suatu hari aku mendapati kenyataan yang begitu memilukan. Ternyata sewaktu Tristan menanyakan kembali dongeng kita. Dia telah lebih dulu mengambil dongeng lama yang pernah ia ciptakan bersama seseorang. Bukan, bukan aku. Bukan juga perempuan itu. Tapi perempuan lain yang pernah mengisi hati Tristan sebelum aku.

            Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin ia bisa sebegitu manisnya dan kembali menanyakan dongeng kita jika ia sudah mengambil dongeng lain? Bukankah itu sepenuhnya salah? Jika ia benar-benar ingin menghidupkan kembali dongeng kita seharusnya ia tidak mengambil dongeng lain. Karna itu hanya akan memperburuk keadaan dan menyakiti semua pihak. Menyakiti aku, menyakiti dirinya sendiri dan juga menyakiti perempuan itu. Tidakkah dia berpikir seperti itu?


            Aahhhh... perjalanan ini sungguh melelahkan untuk kutempuh. Sekarang aku memilih untuk beristirahat dan mempersiapkan hatiku untuk cinta yang tepat agar tidak lagi terjebak dalam cinta yang salah. Kali ini aku kembali tersenyum seperti sediakala. Bukan, bukan karna Tristan lagi. Tapi karna aku sadar bahwa aku telah terlepas dari cinta yang salah dan telah sepenuhnya bahagia. Bahagia karna hidupku akan lebih bermakna setelah ini. Kali ini aku menyerah. Dan aku mengakui bahwa aku telah kalah dari jarak. Kali ini jarak menang. Dan aku kalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar