Rabu, 10 Agustus 2016

Cerpen Bukan Salah Jarak

Bukan Salah Jarak
            Entah kenapa mataku sulit terpejam. Otakku sulit untuk berpikir jernih. Ragaku sulit untuk bergerak seperti biasanya. Airmataku sulit untuk berhenti mengalir. Aku terus berpikir besok akan seperti apa? Lalu lusa? Minggu depan? Bulan depan? Atau bahkan tahun depan? Akankah aku masih bisa melihat senyum yang mampu mengalihkan duniaku itu? Apakah aku masih bisa melihat sepasang mata yang tak pernah berhenti membuatku takjub? Apakah aku masih bisa menyentuh raga yang mampu membuatku damai? Entahlah aku ragu.
            Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03:00 pagi. Semalaman ini aku seperti zombie. Mau tidur pun rasanya tanggung. Sebentar lagi subuh dan aku tidak ingin bangun kesiangan karna paginya aku harus berangkat sekolah.
**
            Sekolah hari ini terasa begitu sunyi. Hanya ada dua sampai tiga orang siswi yang berlalu lalang. Mungkin karna aku datang terlalu pagi hehe wajar saja karna sekarang baru jam 06:15 jadinya siswa/i yang lain mungkin masih dijalan menuju ke sekolah. Meskipun begitu, aku tak peduli. Justru ini lah suasana yang aku sukai, sepi. Jadi aku bisa tidur beberapa menit di kelas lumayan lah hihi.
            “Kita putus ya.” ucap salah seorang pria yang sangat ku kenal.
            Beberapa detik kemudian aku terpaku. Rasanya kata-kata itu seperti menampar pipiku berkali-kali dengan sadis. Sontak aku bertanya dengan nada parau “Kenapa?”.
            “Aku sayang orang lain.” Katanya lagi sambil tersenyum seolah dia merasa sedang tidak mencabik-cabik hatiku.
            Dengan terbata-bata aku hanya bisa menjawab “Tt-taa-pii-i siapaaa?”
            “Dia...adalah...”
            Awwwwwwwwww!!!!
            Cubitan super dahsyat membuat aku tersadar bahwa aku sedang bermimpi. “Syukurlah untung Cuma mimpi.” Ucapku sumringah.
            “Agathaaaaa daritadi gue bangunin gak bangun-bangun lo jadinya gue cubit deh akhirnya berhasil juga hehehe.” Teriak seorang perempuan sebaya dengan ku yang tengah duduk di bangku sebelah ku.
            Sontak aku langsung memalingkan wajahku ke arah teriakan “Oh jadi lo penyelamat gue dari mimpi buruk tadi Vel, emm makasih yaaa.” Ucapku sambil memeluknya.
            “Lo mimpi apa pagi-pagi gini Tha?” tanya Velin penasaran.
            “Gue mimpi diputusin Rio, Vel. Dia bilang dia sayang sama orang lain cobaa.” Ekspresi ku yang awalnya sumringah berubah 360 derajat jadi berkaca-kaca.
            “Ampun deh. Tenang aja Tha itu cuma mimpi ko. Oh iya gimana si Rio udah ada kabar?” tanya Velin lagi.
            Aku hanya menggeleng tanda bahwa aku masih tidak mendapat kabar dari Rio kekasihku. Kekasih beda kota. Beda daerah. Beda rumah. Tapi masih dilangit yang sama. Alias LDR (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh. Aku telah menjalin cinta jarak jauh ini selama hampir setahun lamanya. 7 bulan pertama hubungan ku manis dan baik-baik saja seperti hubungan normal lainnya. Tapi setelah itu aku merasakan sikap Rio yang berubah secara signifikan. Tapi aku masih berpikir positif tentangnya. Meskipun banyak teman-teman ku yang mengatakan “Lepasin! Dia udah gak baik buat lo.” , “Mau sampe kapan kayak gini terus?” bahkan ada yang bilang “Dasar bodoh! Mau-maunya aja di giniin sama cowok yang gak bener.”. Entah apa yang harus aku perbuat setelah ini. Mendengarkan apa kata mereka atau malah tutup kuping? Semuanya terasa sulit.
            “Yaampun Tha, sabar yah. Nanti dia pasti ngabarin lo ko.” Ucap Velin sambil memelukku.
            “Makasih ya Vel cuma lo yang ngerti posisi gue. Oh iya sebenernya 2 hari yang lalu gue liat kak Shika posting foto lagi liburan di Dufan ke facebook. Terus semalem Rio posting foto juga lagi liburan di Dufan. Apa mungkin alesan Rio gak ada kabar karna dia lagi liburan di Dufan sama kak Shika?”
            “Jangan suudzon dulu Tha. Lagian belum tentu bener kan. Mending lo cari bukti dulu deh biar kebukti bener atau engga.” Jawab Velin.
            “Iya deh Vel nanti gue cari bukti.”
            “Lo kapan jadwal ketemu Rio lagi? Sekalian aja tuh kalo ketemu Rio pas ada kesempatan lo periksa handphone dia siapa tau ada bukti kan?” saran Velin yang cemerlang.
            “Emm minggu ini sih jadwalnya Vel. Bagus tuh ide lo nanti gue coba deh makasih ya Vel buat semuanya. Gue jadi gak sabar nunggu kebenarannya.”
            “Sip sama-sama Tha.”
**
            Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Sekarang adalah jadwal aku bertemu dengan Rio. Karna kami hanya memiliki waktu untuk bertemu sebanyak 1 kali dalam sebulan. Rasanya aku ingin mengganti singkatan LDR jadi Lelah Diterpa Rindu wkwk.
            Hari ini aku dan Rio memilih menghabiskan waktu di pantai. Karna menurut kami tempat ini sempurna untuk melepas rindu yang menumpuk sejak sebulan yang lalu. Beberapa jam kita habiskan untuk berfoto, main pasir, minum air kelapa muda serta duduk di tepi pantai untuk menikmati keindahan laut dan apa yang ada disekitarnya. Sampai tiba saat Rio pamit ke toilet karna ingin buang air kecil dan menitipkan handphone nya padaku. Artinya ini kesempatan emas ku untuk mencari bukti. Hal pertama yang aku buka adalah galeri. Benar saja disana aku melihat foto-foto kebersamaan kak Shika dan Rio yang tengah berlibur di Dufan tempo hari. Tanpa ku sadari airmataku menetes tanpa diperintah. Ternyata apa yang aku duga selama ini benar terjadi. Rio telah berselingkuh dan mungkin ini alasan kenapa beberapa bulan belakangan ini sikap dia berubah.
            Beberapa lama kemudian Rio kembali dengan wajah bingung melihat airmata yang mengalir dipipiku. “Kamu kenapa? Ko nangis?”
            Langsung saja ku perlihatkan apa yang jadi penyebab airmataku mengalir.
            Sedetik kemudian suasana menjadi hening. Rio tak bersuara begitu pun aku. Dia hanya menghela nafas sambil tertunduk seperti tengah memikirkan sesuatu.
            “Kita putus ya.” ucap Rio dengan nada berat.
            Beberapa detik kemudian aku terpaku. Rasanya kata-kata itu seperti menampar pipiku berkali-kali dengan sadis. Sontak aku bertanya dengan nada parau “Kenapa?”.
            “Aku sayang orang lain.” Katanya lagi sambil tersenyum seolah dia merasa sedang tidak mencabik-cabik hatiku.
            Dengan terbata-bata aku hanya bisa menjawab “Tt-taa-pii-i siapaaa?”
Oh Tuhan... situasi dan percakapan ini sama seperti mimpi ku waktu tidur di kelas beberapa hari yang lalu. Apa mungkin mimpi waktu itu adalah petunjuk? Ucapku dalam hati.
            “Dia...adalah... orang yang kamu lihat di foto” jawab Rio dengan nada lemah.
            “Ko kamu tega? Apa dongeng kita gak cukup menarik setelah apa yang kita lalui selama setahun ini? Dan kamu malah memilih menghidupkan dongeng baru bersama orang baru? Apa semudah itu kamu menutup dan membuka dongeng baru? Hah!” bentak ku tak terkontrol.
            “Maaf, jarak ini yang membuatku menyerah. Aku sudah tidak tahan memendam rindu. Aku iri melihat orang-orang disekitarku menggandeng pasangan mereka. Sementara aku? Hanya sebulan sekali aku bisa menggandeng pasangan ku. Aku gak sanggup lagi.” Bela Rio.
            “Ini bukan salah jarak. Ini cuma soal kesetiaan dan pengorbanan. Kamu pikir aku tidak iri melihat teman-temanku setiap saat jalan dengan pasangan mereka? Kamu pikir orang-orang di sekitarku mendukung ku untuk mempertahankan sebuah hubungan yang tidak mendatangkan kejelasan ini? Enggak! Malah sebaliknya. Aku bertahan ketika semua orang bilang ‘lepaskan!’. Aku menunggu ketika semua orang bilang ‘sampai kapan?’. Dan aku tersenyum ketika semua orang bilang ‘bodoh!’. Rasa yang aku punya terlalu besar meski telah hancur berkali-kali. Aku beberapa kali sempat menyerah. Tapi kutepis dengan segenap hatiku. Karna aku percaya suatu saat nanti hubungan ini akan indah pada masanya. Tapi sekarang kamu malah menghancurkan apa yang selama ini aku perjuangkan. Makasih buat semuanya. Makasih buat perselingkuhannya. Aku pamit!”

Dengan perasaan yang kacau dan masih menangis aku berlari meninggalkan Rio sendirian. Aku tak percaya mimpiku untuk menunjukkan pada dunia bahwa LDR akan berhasil tanpa orang ketiga ternyata gagal. Dan riset pada ilmuan tentang LDR ternyata benar. Beberapa persen pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh selalu gagal. Dan salah satu penyebabnya adalah hadirnya orang ketiga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar