Bukan Salah Jarak
Entah
kenapa mataku sulit terpejam. Otakku sulit untuk berpikir jernih. Ragaku sulit
untuk bergerak seperti biasanya. Airmataku sulit untuk berhenti mengalir. Aku
terus berpikir besok akan seperti apa? Lalu lusa? Minggu depan? Bulan depan?
Atau bahkan tahun depan? Akankah aku masih bisa melihat senyum yang mampu
mengalihkan duniaku itu? Apakah aku masih bisa melihat sepasang mata yang tak
pernah berhenti membuatku takjub? Apakah aku masih bisa menyentuh raga yang
mampu membuatku damai? Entahlah aku ragu.
Tak terasa
waktu sudah menunjukkan pukul 03:00 pagi. Semalaman ini aku seperti zombie. Mau
tidur pun rasanya tanggung. Sebentar lagi subuh dan aku tidak ingin bangun
kesiangan karna paginya aku harus berangkat sekolah.
**
Sekolah hari
ini terasa begitu sunyi. Hanya ada dua sampai tiga orang siswi yang berlalu
lalang. Mungkin karna aku datang terlalu pagi hehe wajar saja karna sekarang
baru jam 06:15 jadinya siswa/i yang lain mungkin masih dijalan menuju ke
sekolah. Meskipun begitu, aku tak peduli. Justru ini lah suasana yang aku
sukai, sepi. Jadi aku bisa tidur beberapa menit di kelas lumayan lah hihi.
“Kita putus
ya.” ucap salah seorang pria yang sangat ku kenal.
Beberapa
detik kemudian aku terpaku. Rasanya kata-kata itu seperti menampar pipiku
berkali-kali dengan sadis. Sontak aku bertanya dengan nada parau “Kenapa?”.
“Aku sayang
orang lain.” Katanya lagi sambil tersenyum seolah dia merasa sedang tidak
mencabik-cabik hatiku.
Dengan
terbata-bata aku hanya bisa menjawab “Tt-taa-pii-i siapaaa?”
“Dia...adalah...”
Awwwwwwwwww!!!!
Cubitan
super dahsyat membuat aku tersadar bahwa aku sedang bermimpi. “Syukurlah untung
Cuma mimpi.” Ucapku sumringah.
“Agathaaaaa
daritadi gue bangunin gak bangun-bangun lo jadinya gue cubit deh akhirnya berhasil
juga hehehe.” Teriak seorang perempuan sebaya dengan ku yang tengah duduk di
bangku sebelah ku.
Sontak aku
langsung memalingkan wajahku ke arah teriakan “Oh jadi lo penyelamat gue dari
mimpi buruk tadi Vel, emm makasih yaaa.” Ucapku sambil memeluknya.
“Lo mimpi
apa pagi-pagi gini Tha?” tanya Velin penasaran.
“Gue mimpi
diputusin Rio, Vel. Dia bilang dia sayang sama orang lain cobaa.” Ekspresi ku
yang awalnya sumringah berubah 360 derajat jadi berkaca-kaca.
“Ampun deh.
Tenang aja Tha itu cuma mimpi ko. Oh iya gimana si Rio udah ada kabar?” tanya
Velin lagi.
Aku hanya
menggeleng tanda bahwa aku masih tidak mendapat kabar dari Rio kekasihku.
Kekasih beda kota. Beda daerah. Beda rumah. Tapi masih dilangit yang sama.
Alias LDR (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh. Aku telah
menjalin cinta jarak jauh ini selama hampir setahun lamanya. 7 bulan pertama
hubungan ku manis dan baik-baik saja seperti hubungan normal lainnya. Tapi
setelah itu aku merasakan sikap Rio yang berubah secara signifikan. Tapi aku
masih berpikir positif tentangnya. Meskipun banyak teman-teman ku yang
mengatakan “Lepasin! Dia udah gak baik buat lo.” , “Mau sampe kapan kayak gini
terus?” bahkan ada yang bilang “Dasar bodoh! Mau-maunya aja di giniin sama
cowok yang gak bener.”. Entah apa yang harus aku perbuat setelah ini.
Mendengarkan apa kata mereka atau malah tutup kuping? Semuanya terasa sulit.
“Yaampun
Tha, sabar yah. Nanti dia pasti ngabarin lo ko.” Ucap Velin sambil memelukku.
“Makasih ya
Vel cuma lo yang ngerti posisi gue. Oh iya sebenernya 2 hari yang lalu gue liat
kak Shika posting foto lagi liburan di Dufan ke facebook. Terus semalem Rio
posting foto juga lagi liburan di Dufan. Apa mungkin alesan Rio gak ada kabar
karna dia lagi liburan di Dufan sama kak Shika?”
“Jangan
suudzon dulu Tha. Lagian belum tentu bener kan. Mending lo cari bukti dulu deh
biar kebukti bener atau engga.” Jawab Velin.
“Iya deh
Vel nanti gue cari bukti.”
“Lo kapan
jadwal ketemu Rio lagi? Sekalian aja tuh kalo ketemu Rio pas ada kesempatan lo
periksa handphone dia siapa tau ada
bukti kan?” saran Velin yang cemerlang.
“Emm minggu
ini sih jadwalnya Vel. Bagus tuh ide lo nanti gue coba deh makasih ya Vel buat
semuanya. Gue jadi gak sabar nunggu kebenarannya.”
“Sip
sama-sama Tha.”
**
Akhirnya
hari yang dinanti pun tiba. Sekarang adalah jadwal aku bertemu dengan Rio.
Karna kami hanya memiliki waktu untuk bertemu sebanyak 1 kali dalam sebulan.
Rasanya aku ingin mengganti singkatan LDR jadi Lelah Diterpa Rindu wkwk.
Hari ini
aku dan Rio memilih menghabiskan waktu di pantai. Karna menurut kami tempat ini
sempurna untuk melepas rindu yang menumpuk sejak sebulan yang lalu. Beberapa
jam kita habiskan untuk berfoto, main pasir, minum air kelapa muda serta duduk
di tepi pantai untuk menikmati keindahan laut dan apa yang ada disekitarnya.
Sampai tiba saat Rio pamit ke toilet karna ingin buang air kecil dan menitipkan
handphone nya padaku. Artinya ini
kesempatan emas ku untuk mencari bukti. Hal pertama yang aku buka adalah
galeri. Benar saja disana aku melihat foto-foto kebersamaan kak Shika dan Rio
yang tengah berlibur di Dufan tempo hari. Tanpa ku sadari airmataku menetes
tanpa diperintah. Ternyata apa yang aku duga selama ini benar terjadi. Rio
telah berselingkuh dan mungkin ini alasan kenapa beberapa bulan belakangan ini
sikap dia berubah.
Beberapa
lama kemudian Rio kembali dengan wajah bingung melihat airmata yang mengalir
dipipiku. “Kamu kenapa? Ko nangis?”
Langsung
saja ku perlihatkan apa yang jadi penyebab airmataku mengalir.
Sedetik kemudian
suasana menjadi hening. Rio tak bersuara begitu pun aku. Dia hanya menghela
nafas sambil tertunduk seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Kita putus
ya.” ucap Rio dengan nada berat.
Beberapa
detik kemudian aku terpaku. Rasanya kata-kata itu seperti menampar pipiku
berkali-kali dengan sadis. Sontak aku bertanya dengan nada parau “Kenapa?”.
“Aku sayang
orang lain.” Katanya lagi sambil tersenyum seolah dia merasa sedang tidak
mencabik-cabik hatiku.
Dengan
terbata-bata aku hanya bisa menjawab “Tt-taa-pii-i siapaaa?”
Oh Tuhan... situasi dan percakapan ini sama seperti mimpi ku
waktu tidur di kelas beberapa hari yang lalu. Apa mungkin mimpi waktu itu
adalah petunjuk? Ucapku dalam hati.
“Dia...adalah...
orang yang kamu lihat di foto” jawab Rio dengan nada lemah.
“Ko kamu
tega? Apa dongeng kita gak cukup menarik setelah apa yang kita lalui selama
setahun ini? Dan kamu malah memilih menghidupkan dongeng baru bersama orang baru?
Apa semudah itu kamu menutup dan membuka dongeng baru? Hah!” bentak ku tak
terkontrol.
“Maaf,
jarak ini yang membuatku menyerah. Aku sudah tidak tahan memendam rindu. Aku
iri melihat orang-orang disekitarku menggandeng pasangan mereka. Sementara aku?
Hanya sebulan sekali aku bisa menggandeng pasangan ku. Aku gak sanggup lagi.” Bela
Rio.
“Ini bukan
salah jarak. Ini cuma soal kesetiaan dan pengorbanan. Kamu pikir aku tidak iri
melihat teman-temanku setiap saat jalan dengan pasangan mereka? Kamu pikir
orang-orang di sekitarku mendukung ku untuk mempertahankan sebuah hubungan yang
tidak mendatangkan kejelasan ini? Enggak! Malah sebaliknya. Aku bertahan ketika
semua orang bilang ‘lepaskan!’. Aku menunggu ketika semua orang bilang ‘sampai
kapan?’. Dan aku tersenyum ketika semua orang bilang ‘bodoh!’. Rasa yang aku
punya terlalu besar meski telah hancur berkali-kali. Aku beberapa kali sempat
menyerah. Tapi kutepis dengan segenap hatiku. Karna aku percaya suatu saat
nanti hubungan ini akan indah pada masanya. Tapi sekarang kamu malah
menghancurkan apa yang selama ini aku perjuangkan. Makasih buat semuanya.
Makasih buat perselingkuhannya. Aku pamit!”
Dengan perasaan
yang kacau dan masih menangis aku berlari meninggalkan Rio sendirian. Aku tak
percaya mimpiku untuk menunjukkan pada dunia bahwa LDR akan berhasil tanpa
orang ketiga ternyata gagal. Dan riset pada ilmuan tentang LDR ternyata benar. Beberapa
persen pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh selalu gagal. Dan salah satu
penyebabnya adalah hadirnya orang ketiga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar