Langit
Langit itu biru.
Terkadang juga langit berwarna putih. Langit memberikan sejuta mimpi untuk
orang-orang yang mengaguminya. Langit menjadi sesuatu yang harus digapai oleh
para pemimpi. Aku suka langit. Aku menyukai keindahannya. Aku mencintai
keagungannya. Meskipun aku tau, pada waktu tertentu warna sang langit tidak
lagi biru atau putih. Dia berubah menjadi orange ketika sang senja datang. Dan
menjadi hitam ketika sang malam mulai melakukan tugasnya menggantikan sang
siang. Sampai saat itu, aku masih mencintai langit. Bagiku orange atau hitam
tak masalah selagi langit masih berseri. Tapi, sekarang langitku berubah
menjadi hitam bercampur abu. Pekat, ia tidak seperti biasanya. Sekarang ia
begitu menyeramkan ditambah suara gemuruh yang sesekali terdengar. Perlahan,
langit mulai menjatuhkan butiran air dengan banyak dan mulai menyakitiku. Aku
ingin berlindung. Air yang dijatuhkan langit telah menyakitiku. Sekarang aku
bingung, harus tetap mencintai langit atau malah membencinya. Langit telah
berubah. Langit seolah sedang menguji rasa cintaku padanya. Aku teriak, aku
marah, aku memberontak. Tapi langit masih tetap menyakitiku. Aku rindu langit
yang dulu. Yang mampu memberi sejuta mimpi pada setiap hariku. Wahai langit,
semoga kau tidak bernasib sama seperti koala malang itu. Semoga.
“Gue doain semoga lo cepet-cepet
nemu langit yang baru deh yang bisa ngasih lo sejuta mimpi kayak dulu. Gue
kangen lo yang dulu. Yang selalu ceria.” Ucap seseorang yang mengagetkanku.
Buru-buru aku langsung menutup laptopku dan mencari sumber suara.
“Aduh, lo itu ya ngagetin gue
mulu perasaan hahaha.” Balasku.
Dengan cepat, telapak tangan
orang tersebut malah mendarat di kepalaku seraya menggerak-gerakannya. Lebih
tepatnya mengusap-usap kepalaku sambil berkata “Yuki sayang, udah deh gak usah
ngalihin topik terus. Gue tau lo masih diperbudak sama langit itu kan. Lo masih
rela hati lo disakitin demi ngeliat langit yang lo cintai seneng? Itu namanya
curang ki. Kalo kalian sama-sama sayang, salah satu dari kalian gak akan tega
buat nyakitin satu sama lain iya kan? Dia itu terlalu seenaknya tau gak. Kapan
lo sadar Yuki sayang.”
“Aduh, lo ngomong apa sih Ta.
Ngaco deh. Lagian yang lo omongin itu gak bener tau gak. Dia Cuma lagi ngetest
gue doang ko. Setelah ini, gue yakin dia bakal kembali kayak dulu lagi.” Bahtah
ku sambil memindahkan tangannya dari kepalaku.
Kali ini tangan nakal nya mulai
beralih mencubit kedua pipiku secara bersamaan. “Cuma ngetest? Lo yakin? Lo
juga kan tau sendiri dia sering telponan, chattan, bahkan jalan sama cewek lain
kan? Apalagi yang lo harepin dari cowok kayak gitu? Sama aja lo bodoh tau gak!
Lo mau-maunya di bodohin!”
“Iya iya gue tau ko. Tapi kan dia
juga udah jujur sama gue kalo dia sering telponan, chattan atau jalan sama
cewek kan. Dia juga jujur kalo sering ada cewek yang minta jadi yang kedua
cuman dia tolak karna dia sayang sama gue Ta.”
“Aduh ini anak lama-lama gue
gigit lo gemes abisnya susah banget sadarnya hahaha. Gini ya Yuki Honoka
sayang. dimana-mana cewek gak mungkin baper kalo cowoknya terlalu ngasih
harapan kan. Nah berarti si Aria nya aja yang kegatelan sama cewek sampe
akhirnya cewek-cewek bayak yang minta jadi nomor dua dihubungan lo.” Bahtah
Cinta meyakinkan.
“Tapi Ta...” belum sempat aku
melanjutkan pembicaraanku. Cinta langsung menarik tanganku. “Ahh udah deh
sekarang lo ganti baju. Terus kita pergi ke bioskop. Tujuan gue kesini tuh mau
ngajak lo nonton Koala Kumal. Bukan dengerin pembelaan lo tentang si Aria. Yaaa
siapa tau abis nonton film ini lo jadi sadar kan hahaha.”
“Tapi bayarin ya Ta hehe” ucapku
dengan nada manja.
“Siap lah, cepet lo ganti baju.
Jangan lama. Gue tunggu di ruang tamu ya.”
**
Siang ini ruas jalan kota Bogor
dipadati oleh banyaknya kendaraan roda empat dan roda dua yang mempunyai tujuan
yang sama. Yaitu sampai ketempat yang dituju dengan cepat dan aman. Namun
sayang, kini macet dimana-mana. Keinginan para pengendara tidak dapat terpenuhi
untuk saat ini. Apalagi tengah diberlakukannya sistem satu jalur. Maklum,
sekarang libur akhir pekan.
Setelah kurang lebih satu jam aku
dan sahabatku, Cinta. Harus berhadapan dengan bisingnya suara klakson kendaraan
yang tidak sabar. Akhirnya kami pin sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Tanpa fikir panjang, aku dan Cinta langsung menaiki Lift ke lantai 3 berharap
agar film nya belum dimulai.
GF-1-2 jeng jengggg... begitu
pintu Lift terbuka di lantai 2 ternyata aku bertemu dengan langitku, Aria. Dia
tengah membawa petir(lagi). Spontan Cinta langsung membisikkanku “Udah,
pergokin aja Ki. Putusin sekarang.”
“Hei...” sapaku hangat kepada
Aria.
“Hei Yuki, mau kemana?” balas
Aria santai.
“Mau nonton, kamu?”
“Aku juga. Hehe ko kamu gak
bilang mau nonton juga sih kan kita bisa nonton bareng.” Ucap Aria sambil
menggenggam tangganku.
Kebetulan Lift yang kami naiki
sudah sampai di lantai 3. Aku, Cinta, Aria dan yang lainnya langsung keluar dan
berjalan menuju bioskop.
“Ini dadakan. Tadi Cinta kerumah
ngajakin. Lagian handphone kamu gak aktif dari tadi siang. Kenapa? Oh ya itu
siapa?” aku langsung melepaskan genggaman Aria dan beralih menggandeng Cinta.
“Oh itu anu handphone aku lowbat
jadinya gak aktif deh hehe maaf yah. Oh ini temen aku namanya Ria. Dia Cuma
temen ko. Tapi dia juga bilang suka sama aku. Dia mau dijadiin yang kedua. Tapi
aku tetep gak mau. Aku tetep milih kamu ko. Gapapa kan aku jalan sama dia?”
Bisik Aria.
“Oh gitu iya gapapa ko silahkan.
Oh iya aku duluan yah.” Setelah itu aku langsung menarik tangan Cinta dan
mencoba berlari sekuat tenaga guna menyembunyikan luka hati ku.
Cinta menghentikan langkahku dan
langsung memelukku “Lo kenapa lagi Ki? Dia yang minta dijadiin yang kedua lagi
ya? Setelah lo mergokin dia kayak gini, Lo masih mau bertahan Ki? Lo yakin
langit lo bakal biru lagi?”
“Hati gue sakit Ta. Sampe kapan
dia jadi pekat? Sampe kapan dia ngetest gue? Gue sakit Ta. Gue cape.” Isak ku
tak terbendung lagi.
“Udah, udah hapus air mata lo.
Jangan sampe air mata lo kebuang sia-sia. Udah, yu beli tiket.”
**
2 jam lamanya aku dan Cinta di
bioskop. Begitupun Aria dan Ria. Mereka satu studio dengan ku. Terlihat jelas
kedekatan mereka. Aku hanya menggeleng tak habis fikir. Langitku telah
benar-benar berubah dan mungkin tak akan kembali menjadi biru.
Setelah film selesai, aku
menghampiri Aria dan membawanya pergi karna ada hal yang harus aku tegaskan.
Aku mengehela nafas perlahan dan
“Aku mau putus! Kamu bukan langit yang aku harapkan lagi.” Sedetik kemudian aku
memutuskan untuk melihat ekspresi Aria. Namun sayang, langitku benar-benar
telah berubah. Sontak aku langsung memutuskan untuk berlari menjauh dari Aria
tanpa menghiraukan apa yang akan dikatakan Aria.
Brukkk... tanpa kusadari aku
telah menabrak seseorang. “Ma.. maaf mas. Saya gak sengaja.” Spontan aku
langsung meminta maaf.
“Yuki! Kamu Yuki kan? Yuki
Honoka?” pria itu melihatku dengan sorot mata bingung dan memastikan apa orang
yang menabraknya adalah benar orang yang dikenalnya.
“Iya saya Yuki. Mas siapa ya? Ko
bisa tau nama saya? Jawabku bingung.
“Aku Oka. Temen SMP kamu. kamu
inget?”
Oh Tuhan apakah dia
benar Oka? Oka yang pernah aku cintai? Apakah dia langitku yang baru Tuhan... Apa
dia akan jadi langitku selanjutnya? Kau sungguh kirim dia untukku Tuhan? Jika
iya, izinkan aku menjadikan langit ini yang terakhir. Dan biarkan dia biru
selamanya. Biarkan aku tua dan mati bersama langit ini.
“Yuki? Hei... ko bengong?” tanya
Oka kebingungan.
“Eh iya Oka apa? Engga ko gak
bengong hihi.” Jawabku sumringah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar