Sabtu, 15 Agustus 2015

Cerpen Andai...

Andai...
            Pagi yang cerah. Semua orang terlihat sudah siap melakukan kegiatan masing-masing. Terkecuali aku, pagi ini aku merasa tidak siap menjalani apapun. Aku berjalan dengan gontai menyusuri lorong sekolah yang sangat ramai oleh siswa/i yang berlalu lalang.

Setiba ku di kelas, aku memilih langsung duduk di bangku ku yang terletak di depan meja guru dan tak mempedulikan orang-orang di sekitarku.

“Dor! Ngelamun aja. Mikirin apa lo?!” tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan berhasil membuat aku kembali tersadar dari lamunanku.

Sontak aku kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.

“Apaan sih yo. Ganggu aja!” jawabku ketus setelah mengetahui ternyata pemilik suara yang mengagetkanku itu adalah sahabat ku dari kecil, Mario.

“Yeee gitu aja ngambek. Emang ada apa sih ko pagi-pagi muka lo udah kusut aja.” Ledek Mario.

“Bukan urusan lo!”  jawabku singkat. Tak ku pedulikan ocehan Mario selanjutnya. Aku memilih pergi ke taman sekolah dengan harapan bisa menghilangkan ingatan tentang seseorang yang sudah membuatku muram pagi ini.

Tapi ternyata aku datang ketempat yang salah. Orang yang tak ingin kulihat ada di tempat yang sama, taman sekolah. Tanpa terasa air mata ku kembali jatuh. Aku tak mampu lagi menahan rasa perih ini. Lebih baik aku tidak mengenalnya daripada harus merasakan sakit yang amat dalam.

“Hey lo! Bukannya dengerin gue ngomong malah maen pergi-pergi aja.” Ucap Mario yang tiba-tiba datang.

“Hey lo ko nangis? Kenapa? Ayo cerita sama gue. Gue bakal bejek-bejek orang yang berani nyakitin lo!”

Hening. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Yang bisa kulakukan hanya menangis, menangis dan menangis. Mario memperhatikan orang-orang disekitar. Ternyata apa yang dia lihat sama dengan apa yang ku lihat tadi. Kak Kelvin, kakak kelas yang aku suka dari 1 tahun yang lalu tengah berdua-duaan dengan seorang perempuan yang tak lain adalah kakak kandungku sendiri, kak Shania. Ya, mereka berdua resmi menjadi sepasang kekasih sejak semalam kak Kelvin menyatakan cintanya di depan orangtuaku dan juga aku. Dan itu yang membuat aku muram pagi ini.

“Oh ternyata itu yang bikin lo nangis. Gue ngerti ko. Nih dengerin gue ya Sendy Ariani cewe cantik berkulit putih, yang punya perawakan tinggi, bermata bulat sebulat bakso, berpipi chuby dan berbibir mungil. Lo itu perfect. Banyak ko cowok di luar sana yang ngantri jadi pacar lo. Lo tinggal milih salah satu di antara mereka. Lo jangan sedih kalo kak Kelvin milih kakak lo. Karna ya emang sih cantikan kakak lo :p” celoteh Mario panjang lebar.

“Kurang ajar lo! Haha. Tapi lo tetep aja ga akan ngerti sama apa yang gue rasain saat ini. Kak Kelvin itu kayak langit buat gue. Dia sesuatu yang terlalu tinggi. Keindahannya Cuma bisa di nikmati dari jauh tanpa bisa gue gapai. Apalagi sekarang udah milik orang lain. Dan parahnya orang itu kakak gue sendiri men! Andai kak Kelvin milih gue. Andai...” jawab ku.

“Sen, gue tau apa yang lo rasain saat ini. Gue tau persis gimana rasanya ada di posisi lo. Asal lo tau, gue juga suka sama seseorang. Tapi sayang, cintanya udah milik orang lain.”

“Berarti kita senasib ya yo.” Jawab ku seraya tersenyum.

“Ikut gue yuk!” tiba-tiba tangan Mario menarik tangan ku dan membawaku pergi ke suatu tempat.

Sunyi. Tempat ini sepi. Tak ada orang lain di tempat ini. Hanya ada aku dan Mario.  Dan hanya ada hamparan kebun teh yang luas.

“Gimana? Masih ngerasa sedih?” tanya Mario.

“Ngapain lo bawa gue kesini? Bentar lagi bel masuk tau. Eh tapi tempat ini nyaman asli. Gue suka.” Jawab ku riang.

“Gue tau, karna itulah gue bawa lo ke tempat ini. Soalnya tempat ini ga terlalu jauh dari sekolah jadi kita gaakan telat. Dan di tempat ini lo bisa ngilangin beban yang ada di pikiran lo dan bikin lo tenang nantinya.” Jelas Mario.

“Gimana caranya?” tanya ku bingung.

“Lo teriak sekenceng-kencengnya apa yang jadi beban pikiran lo saat ini. Ungkapin apa yang pengen lo ungkapin. Percaya deh abis itu pikiran lo jadi plooong.”

Tanpa pikir panjang. Aku keluarkan semua beban yang mengganjal di hati ku.

“Kak Kelviiiiiiinnnnnnnnn..... aku suka sama kakak! Kenapa kakak milih kak Shania daripada akuuuuuuuuuu”  teriak ku.

“Nah gimana? Udah tenang?” tanya Mario.

“Udah, makasih ya yo lo emang best friend gue yang paling TOP deh” ucapku seraya memeluk Mario.

“Iya Sen, selow aja. Eh bentar lagi mau bel masuk. Ke sekolah yuk!” ajaknya sambil menarik tanganku.
**
Tak terasa semua yang ku lewati hari ini menjadi pelajaran berharga untukku. Kini aku sadar, aku harus melepaskan kak Kelvin demi kak Shania. Dan aku akan belajar untuk mencintai orang lain yang tentunya mencintaiku. Hemmm... kesadaran ini membuat hatiku nyaman. Dan membuatku terlelap di kamarku sendiri.

“Sen, bangun! Waktunya makan malem!” suara kak Shania membangunkanku.

“Iya kak, bentar lagi aku keluar” jawab ku yang masih terkantuk.

Dengan keadaan masih berbaring di tempat tidur, ku raih handphone ku yang tergeletak tak jauh dari posisi ku sekarang. Tertera tulisan panggilan tak terjawab sebanyak 22x dan sms sebanyak 15x. Ternyata semuanya dari Mario. Salah satu pesannya adalah

From : Mario
Sen, ada sesuatu yang penting yang harus gue kasih tau ke lo. Temuin gue di tempat tadi sekarang.
From : Mario
Sen, lo dimana?
From : Mario
Sen, masih dimana?
Dll

Aku terkejut, ku lihat jam ternyata sekarang jam 20.00 WIB sementara pesan itu di kirim jam 15.00. segera ku raih sweater ku dan langsung pergi ke tempat yang di maksud Mario. Dengan harapan ia masih ada disana.
**
            Ternyata benar, Mario masih menungguku. Ku dapati ia sedang duduk dan sepertinya dia kedinginan karna terkena angin malam yang cukup dingin.

            “Hai Sen akhirnya lo dateng juga. Nih ambil buat lo.” Sapa Mario yang menyadari kedatangan ku seraya memberikan sebuah kotak berwarna merah.

            “Oke makasih. Ikut gue yuk! Cari minuman anget buat lo. Gue ga tega liat lo kedinginan.” Jawab ku sambil menarik tangan Mario.
**
            Setiba di pinggir jalan, kulihat ada sebuah warung yang yang menyediakan minuman hangat di sebrang. Tanpa pikir panjang ku suruh Mario diam di tepi dan aku menyebrang untuk membeli minuman. Tanpa ku sadari ada sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi sedang menuju ke arah ku. Tiba-tiba kurasakan seseorang mendorongku ke tepi dan setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.
**
            Setelah tertidur cukup lama, akhirnya aku terbangun. Kudapati kedua orangtuaku dan kak Shania duduk di sampingku. Setelah kuamati ruangan tempat ku terbangun, baru ku ketahui bahwa aku berada di rumah sakit.

            “Kenapa aku ada di rumah sakit? Mario dimana?” tanyaku lirih.

            “Kemarin lo kecelakaan Sen. Mario... um.. mario.. dia meninggal di tempat seudah nyelamatin lo.” Jawab kak Shania.

“Gak mungkin kak gak mungkin! Mario! Kotak itu di mana kak? Kotak merah yang Mario kasih!”

“Tuh di meja.” Jawab kak Shania.

Langsung ku ambil kotak itu dan ku buka isinya. Ternyata sebuah liontin berbentuk hati. Dan secarik kertas bertuliskan “I Love You Sendy, will you be my girlfriend?” air mataku semakin banyak berjatuhan. Ternyata ini yang dia ingin ungkapkan. Andai aku cepat menemuinya. Mungkin Mario dan aku... Andai...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar