Sabtu, 11 Juli 2015

Novelet "Almost Is Never Enough"

Almost Is Never Enough

“I’d like to say we gave it a try. I’d like to blame it all on life”

            Masa-masa SMP sudah usai. Sekarang saatnya memulai tingkatan yang lebih tinggi yaitu SMA. Aku memutuskan untuk masuk ke SMA Harapan Bangsa. Dengan alih-alih karena SMA ini termasuk salah satu SMA terfavorite di kotaku. Nilai minimun untuk masuk SMA ini cukup tinggi. Tak sembarang orang bisa masuk SMA ini. Sebenarnya nilaiku tidak terlalu tinggi dan aku bisa di kategorikan sebagai siswa bodoh. Hanya saja kali ini aku beruntung bisa masuk SMA ini.

Seperti biasa, di tahun ajaran baru selalu diadakan Masa Orientasi Peserta Didik baru atau biasa di sebut MOPD. Sebenarnya aku paling anti dengan hal yang satu ini. Soalnya masa-masa MOPD tuh adalah masa-masa yang paling menyebalkan menurutku. Karna di waktu pelaksanaan pasti ada hukuman dan semacamnya. Senior seketika jadi monster yang paling kejam di banding dinosaurus-dinosaurus di masa peradaban kuno. Tak jarang, banyak senior yang mencari perhatian kepada para peserta didik baru.

Hari ini adalah hari pertama masa orientasi. Aku di tempatkan di ruangan kelas yang bertuliskan X 5. Hari pertama orientasi ku kacau. Aku lupa membawa salah satu bahan yang harus di bawa. Aku pun maju kedepan dan mengakui kesalahanku. “Cuma satu? Iya. Cuma satu yang ngaku?!” ucap salah satu senior.

Tak lama kemudian seorang pria berambut hitam, berkulit putih dan bermata agak sipit itu melangkah maju dan berdiri di sampingku. “Oke, akhirnya ada yang mau ngaku juga. Sekarang kalian berdua ikut gue!”.

Aku dan pria bermata agak sipit pun berjalan beriiringan. Kami mengikuti seorang senior untuk keluar kelas. Ternyata kami di arahkan ke lapangan upacara. Kami dihukum membersihkan lapangan sampai jam istirahat. Selama kami membersihkan lapangan upacara, kami tidak sempat berkenalan dan kami hanya diam mematung satu sama lain. Tak ada satupun di antara kami yang membuka obrolan. Harus kuakui pria ini tampan. Tapi menurutku dia seperti berandalan. Dan itu yang membuatku enggan membuka obrolan dengannya. 2 jam sudah kami membersihkan lapangan. Bel istirahat pun berbunyi menandakan berakhirnya hukuman untuk kami. Aku dengan cepat menaruh sapu di tepi lapangan dan berlari ke dalam kelas karna ingin cepat-cepat minum.

Sesampainya di kelas, aku berkenalan dengan 3 teman baru yakni Alexa teman sebangku ku. Melodi si gadis berambut pirang yang duduk di belakang ku. Dan Yosep si pria berkulit hitam yang duduk didepan Alexa. Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi. Seorang guru masuk kekelas. Ternyata beliau yang akan membimbing jam perkenalan kami. Pria yang di hukum bersamaku tadi baru masuk kelas. Dia terlambat masuk dan langsung di persilahkan duduk di bangkunya oleh pak guru. Ternyata pria bermata sipit ini duduk sebangku dengan Yosep. Dan ini berarti dia duduk di depanku.

Satu persatu murid maju dan memperkenalkan diri hingga tiba giliran pria bermata sipit tadi. “Siang semua. Perkenalkan nama gue Muhammad Iqbaal. Panggil aja Iqbaal. Gue masuk sini karna kemauan orangtua gue. Makasih!” ucap pria yang baru kuketahui namanya itu. Selanjutnya, aku hanya sekedar menghafal nama anak yang maju kedepan.

“Kamu yang berkacamata, cepat maju!” seru pak guru padaku.

Hampir saja jantungku copot. “Selamat siang semua! Perkenalkan namaku Anindya Lianasari, panggil aja Liana. Aku masuk SMA ini karena aku suka sekolah ini. Terima kasih!”.
**
“Maybe we just weren’t right. But that’s a lie. That’s a lie.”

Tak terasa hari pertama MOPD ku selesai. Sekarang saatnya pulang ke rumah. Aku sengaja mempercepat langkahku untuk segera tiba di rumah karena aku merasa sangat lelah hari ini. Beberapa menit sudah aku berdiri di depan gerbang dengan maksud menunggu busway. Tapi dari tadi tak ada satupun busway yang masih kosong, semuanya penuh.

“Hey? Ko lo masih disini?” panggil seseorang yang suara nya tak asing di kupingku.

“Eh Iqbaal, iya nih dari tadi busway gak ada yang kosong. Padahal gue pengen cepet-cepet pulang. Pengen cepet-cepet mandi abis itu tidur. Capek banget hari ini apalagi tadi abis di hukum. Huh hari pertama yang melelahkan.” Celetuk ku panjang lebar.

Iqbaal hanya tertawa kecil mendengar aku mengoceh tadi.

“Kenapa baal? Ada yang lucu?” tanya ku heran dengan sikap dia.

“Hahaha gapapa ko lucu aja liat lo ngomong panjang lebar kayak jalan tol gak ada berentinya. Hahaha padahal kita baru ketemu hari ini doang.” Jawab Iqbaal sembari sesekali tertawa.

“Ehehe sorry baal. Gue emang kebiasaan gini dari dulu. Maaf yak”

“Yaudah pulang bareng gue yuk, naik motor.” Tawar Iqbaal.

“Boleh deh daripada diem di sini nunggu busway lama hehe”

Sepanjang perjalanan pulang, aku dan Iqbaal tak henti-henti nya membicarakan semua hal tentang hari ini. Dari mulai senior yang galak nya minta ampun. Sampai teman-teman baru di kelas pun tak luput dari pembicaraan kami.

Beberapa menit berlalu. Tak terasa ternyata motor yang di kendarai Iqbaal sudah tiba di rumahku. Iqbaal pun langsung berpamitan pada ku.

“Bye, Liana! Besok gue jemput ya!” ucap Iqbaal sembari berlalu. Aku pun hanya menatap Iqbaal pergi sampai punggung nya hilang dari penglihatanku. Tanpa sadar, aku berjalan memasuki rumah sambil senyum-senyum sendiri. Sejak obrolan di sepanjang perjalanan tadi. Aku jadi tau satu hal. Ternyata Iqbaal tak seperti yang ku pikirkan. Kukira Iqbaal itu jutek dan berandalan sehingga tak cocok berteman denganku. Tapi, ternyata aku salah. Aku salah besar.
**
“And we can deny it as much as we want. But it time our feelings will show”

Syukurlah, empat hari neraka di awal tahun ajaran baru sudah berakhir. Selama empat hari pula aku berteman dengan 4 orang sahabat yakni Iqbaal, Yosep, Alexa dan Melodi. Sekarang adalah saat nya untuk melihat pembagian kelas yang baru. Karena sekolah ku termasuk sekolah favorite, jadi pembagian kelas di dasarkan kecerdasan siswa. Siswa yang pintar di tempatkan di kelas X 1 sedangkan siswa yang kurang cerdas di tempatkan di kelas X 11.

Aku dan 4 orang sahabat ku mencoba berlari ke arah papan pengumuman yang ada di depan perpustakaan. Sebenarnya aku dan 4 orang sahabat ku tidak khawatir dapat kelas yang berbeda. Dapat kelas apapun kami terima. Karna sejujurnya aku dan 4 orang sahabatku ini bekerja sama mengerjakan test dan tak ada satu soal pun yang isinya berbeda. Itu semua kami lakukan karna kami tak ingin di pisah hihi.

“Minggir, permisi! Permisi!” suara ku sengaja aku buat memelas.

Aku langsung mencari namaku di deretan siswa X 1 sampai X 9. Ternyata tidak ada. Akhirnya sampai di deretan nama siswa kelas X 10. Akhirnya aku menemukan namaku tertera di urutan daftar tersebut. Ya memang hanya 1 tingkat lebih atas dari kelas X 11. Setidaknya itu menandakan bahwa otak ku tidak terlalu bodoh. Setelah itu aku cari nama Alexa, Iqbaal, Melodi lalu Yosep.

“Sudah kuduga! Yeay!” pekikku tak tertahankan sembari melompat. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menemui 4 orang sahabat ku yang tengah berdiri di belakang kerumunan.

“guys,” suara ku sengaja aku buat memelas.

“Anin? Kenapa? Kita gak satu kelas ya?” ucap Iqbaal memasang wajah sedih. Ya Anin. Cuma dia yang memanggil namaku dengan sebutan Anin. Enah kenapa, setiap di tanya pasti jawabannya “Pengen beda aja dari yang lain”. Apapun itu, aku biarkan saja. Toh tidak menggangguku sama sekali.

“Ih Liana kenapa ih? Bener bukan kita gak sekelas? Ih ko aneh? Engga mau ah kita harus sekelas pokoknya harus!” tegas Melodi sembari menangis.

Haha target ku terpenuhi! Akhirnya aku bisa membuat mak baper kambuh! Gumam ku dalam hati.

“Kita satu kelas guys!” teriakku bukan main.

“Yang bener lo?” teriak Yosep gembira.

“Wah berarti tadi lo ngerjain gue sama Iqbaal dong? Damn!” protes Melodi.

“Haha sorry mak. Gue kangen kebaperan lo. Jadi gatau kenapa tadi gue iseng bikin lo baper. Tapi berhasilkan? Yeee” ledek ku.
**
Setiba di kelas, kami berburu tempat duduk. Tempat duduk yang kami buat sama persis dengan yang waktu MOPD. Aku masih duduk dengan Alexa. Yosep dengan Iqbaal. Dan Melodi masih duduk sendirian.

Seharian ini tak ada guru yang masuk. Hanya ada wali kelas yang membagikan jadwal pelajaran, serta pemilihan pengurus kelas. Aku dan geng ku tidak tertarik sama sekali untuk ikut serta menjadi pengurus kelas. Bagi kami menjadi pengurus kelas itu tidak gampang.

Bel pulang berbunyi. Aku dan geng ku bersemangat untuk keluar kelas. Seperti biasa, Yosep pulang naik motor, Alexa dan Melodi pulang pake mobil jemputan. Hanya aku yang harus naik busway. Tapi semenjak Iqbaal mengantarku pulang waktu itu. Aku jadi sering di antar jemput olehnya.

“Anin, yuk naik!” ucap Iqbaal

“Cieee kayaknya di antara kita bakal ada yang jadian nih!” ledek Yosep.

“Udah, gausah pada muna. Kalo saling sayang bilang aja. Terus resmiin deh gampang kan?!” tambah Alexa.

“Tau tuh. Tinggal bilang ‘aku sayang kamu’ doang apa susahnya sih? Hahaha” ujar Melodi menambahkan.

“Apaan sih kalian? Gue sama Iqbaal Cuma sahabatan ya kan baal? Gue kan gak kayak kalian di jemput pake mobil jemputan. Jadi ya Cuma Iqbaal yang bisa gue tebengin” jawab ku dengan alasan yang gak karuan.

“Iya. Just friend!” jawab Iqbaal singkat.
**
“Cause sooner or later. We’ll wonder why we gave up. But truth is, everyone knows”

Semenjak kejadian itu, aku seperti kehilangan sosok Iqbaal yang dulu. Sosok yang periang. Sosok yang mampu menghadirkan setiap tawa di sepanjang hari-hariku. Sekarang, Iqbaal seperti agak menjaga jarak dengan ku. Entah apa sebabnya? Akupun tak tau.

“Liana! Liana! Lianaaa!” teriak pak Taro memekakkan telinga. Sebenarnya pak Taro itu bukan nama aslinya. Itu hanya panggilan iseng dari geng ku. Nama asli pak Taro itu Alvaro hehe.

“Iya, saya pak?!” jawab ku kaget.

“Cepet kamu maju! Nyanyikan lagu favorite kamu. Pilih alat yang kamu suka! Cepat jangan melamun terus!”

“Tapi pak, saya gak bisa maen alat musik apapun?” jawab ku polos.

Sontak seiisi kelas semua tertawa mendengar jawaban ku. Termasuk geng ku. Mereka tertawa sangat lepas. Argh menyebalkan!

“Yaudah, Iqbaal maju kedepan! Iringi Liana nyanyi pake gitar” ucap pak Taro.

“Nyanyi apa nin?” tanya Iqbaal singkat.

“Lagu Almost Is Never Enough aja” jawabku.

“Almost, almost is never enough. So close to being in love. If i would have known that you wanted me. The way i wanted you. Maybe we wouldn’t be two world apart. But right here in each others arms. Well we almost, we almost knew what love was. But almost is never enough”

Aku memilih lagu Ariana Grande feat Nathan Sykes karena lagu ini seperti menyatu dengan kisah cintaku. Setiap lirik seolah menggambarkan bagaimana aku menyukai seseorang namun aku menyembunyikannya.

“Tepuk tangan untuk Liana dan Iqbaal! Luar biasa, Lian, Baal! Suara kamu Lian, empuk dan enaknya bukan main. Dan kamu Baal, permainan gitarmu sungguh sangat mengagumkan. Kalian saling melengkapi. Kalian seperti tengah menunjukan kehidupan cinta kalian lewat lagu itu. Hebat! Bapak bangga!” puji pak Taro.

Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Rasanya biasa saja kalau ada yang memuji suaraku. Karena dari kecil aku memang suka bernyanyi. Bahkan aku pernah menjuarai lomba bernyanyi tingkat TK dan SD.

“Nanti setelah pulang sekolah, tinggallah disini sebentar ada hadiah buat kalian berdua.” Ujar pak Taro sembari mencatat nilai ku dan Iqbaal di bukunya.

Benar saja, sepulang sekolah aku dan Iqbaal tinggal dikelas sejenak. Pak Taro menasehatiku dan Iqbaal untuk terus mengasah bakat kami. Bahkan pak Taro menyarankanku dan Iqbaal untuk berduet di acara pensi sekolah nanti. Aku dan Iqbaal pun hanya mengangguk. Setelah pak Taro memberikan sebuah kotak berwarna biru, aku dan Iqbaal langsung keluar dari kelas dan memutuskan untuk pulang.
**
“If i could change the world overnight. There’d be no such thing as goodbye. You’ll standing right where you were. And we’d get the chance we deserve.”

Keesokan harinya, bu guru Jasmine masuk kekelas dengan di ikuti seorang gadis cantik yang bisa kutebak dia anak baru.

“Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan nama kamu.” Ucap bu Jasmine.

“Selamat pagi. Perkenalkan nama ku Michellia Indira. Kalian boleh manggil aku Michell / Dira. Aku pindahan dari SMAN 6 Bogor. Aku pindah ke Jakarta karna orang tuaku yang di pindah tugaskan di daerah sini. Rumahku di jalan mawar. Salam kenal yah” sapa anak baru itu ramah. Selanjutnya bu Jasmine menyuruh Dira duduk di bangku sebelah Melodi.

Harus aku akui. Dira mempunyai paras yang sangat cantik, kulitnya putih bersih, giginya putih rapih, dia mempunyai perawakan yang tinggi, bibirnya mungil dan berwarna merah, matanya bulat seperti tokoh-tokoh di film anime. Selain itu dia mempunyai sikap yang ramah, baik, dan tidak pilih-pilih teman. Membuat pria manapun yang melihat dan mengenalnya akan jatuh cinta.

Bel istirahat berbunyi. Aku dan geng ku berkenalan dengan Dira dan mengajaknya ikut serta masuk geng kami. Tak butuh waktu lama untuk mengakrabkan diri dengan Dira. Dira orangnya friendly. Dira mudah menyesuaikan perwatakan kami yang beraneka ragam.
**
6 bulan sudah kami ber 6 bersahabat. Percaya atau tidak, selama kami bersahabat. Kami tak pernah bertengkar. Kami seperti sebuah keluarga yang memiliki kasih sayang satu sama lain. Rasa sayang yang tercipta antara kami semakin besar. Begitupun rasa sayang ku pada Iqbaal semakin tumbuh besar.

Hari ini aku memutuskan untuk mengungkapkan isi hatiku pada pria yang aku cintai selama 6 bulan ini. Aku tak bisa memendamnya terlalu lama. Aku harus mengungkapkannya sebelum Iqbaal di ambil orang.

Sepulang sekolah aku memutuskan untuk menemui Iqbaal.

“Iqbaal!” panggilku dari kejauhan.

“Anin? Ada apa?” tanya Iqbaal dengan ekspresi kaget.

“Gue punya sesuatu yang pengen gue sampein sama lo. Gue suka banget sama lo. Gue udah mencintai lo selama 6 bulan. Gue udah ngubah diri gue demi lo. Tapi gue tau sekarang bahwa hal yang paling penting yang harus gue lakuin dan seharusnya gue lakuin dari dulu. Yaitu bilang yang sejujurnya sama lo. Kalo.. kalo gue cinta sama lo.” Ungkap ku memberanikan diri mengeluarkan perasaan yang sudah lama ku pendam.

Hening. Iqbaal tak berkomentar apa-apa. Ia hanya diam mematung.

“Iqbaal... sayang? Eh hay Liana” panggil salah seorang dari kejauhan.

“Iya Dira? Ada apa?” jawab Iqbaal.

“Sayang, aku tunggu di parkiran yah, bye. Bye juga Liana” ucap Dira sambil berlalu.

“Lo... lo sama Dira. Lo sama Dira pacaran?” ucap ku terbata-bata.

Iqbaal hanya mengangguk menandakan bahwa hal yang selama ini aku takutkan terjadi.

“Sudah berapa lama?” tanya ku penasaran.

“Dua minggu yang lalu.” Jawab Iqbaal singkat.

Aku hanya bisa tersenyum sembari menahan air mata yang sedari tadi memaksa ingin jatuh.

“Sekarang kalian pacaran. Kalian cocok. Semoga kalian bahagia.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku langsung memutuskan pergi dari hadapan Iqbaal. Aku berlari sejauh mungkin sambil mengusap airmata yang terus berjatuhan. Rasanya seperti berakhir, tapi mulai pun belum. Seperti hilang, tapi justru tak pernah ada.
**
“Oh, oh baby, you know, you know baby. Almost, is never enough baby. You know”

Aku bangun tidur dengan begitu mengenaskan. Mataku menjadi bagian yang paling horror karena bengkak mirip mata gajah. Betapa hancurnya aku setelah semalaman suntuk menangis.

Butuh waktu berjam-jam untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Hingga aku telat masuk ke sekolah. Sesampainya dikelas, aku langsung duduk dan merenungi hatiku.

“Lo kenapa Liana?” tanya Dira bingung melihat penampilan ku yang aburadul.

“Gapapa!” jawab ku singkat.

Aku masih tak percaya bahwa Iqbaal dan Dira berpacaran. Ini artinya cinta ku selama ini sia-sia. Oh My God! Aku ingin marah pada Dira tapi dia sahabatku. Aku juga malu pada Iqbaal. Namun, jangan biarkan aku putus asa pada perasaan cintaku ini, please God!
**
Ini hari ketiga aku tidak masuk sekolah. Aku minta orangtuaku untuk mengizinkanku libur. Alasannya simple. Aku sakit. Awalnya orangtua ku tidak percaya aku sakit. Tapi aku punya pendirian teguh untuk tidak masuk sekolah. Aku sedang sakit. Ya, aku sakit hati.

Selama 3 hari ini aku mengisi hari-hari ku dengan bernyanyi di pinggir kolam ikan yang ada di halaman belakang rumahku. Langsung saja kuambil gitar yang ada di sampingku. Sebenarnya beberapa bulan ini aku belajar gitar. Hingga saat ini aku sudah mulai mahir memainkannya. Aku langsung mulai menyanyi meskipun suara ku serak, malah nyaris habis karna semalaman menangis.

“Try to deny it as much as you want. But in time our feelings will show. Cause sooner or later. We’ll wonder why we gave up. The truth is everyone knows.” Lantunku asal.

“Suara lo meskipun lagi serak boleh juga.” Suara seseorang dari belakangku mengagetkan.

Aku membalikkan badanku dan terkejut. Rupanya suara tadi suara Iqbaal.

“Kenapa nin? Kaget yah?” tanya Iqbaal padaku.

Aku hanya bisa diam. Tak percaya bahwa Iqbaal ada di hadapanku.

“Maaf yah gue jenguk lo gak bilang-bilang. Soalnya handphone lo gabisa di hubungin. gue khawatir karna lo gamasuk selama 3 hari.”  Tuturnya lugas.

“I..iya...” jawabku sekuat tenaga.

“Wah lo sekarang udah bisa main gitar yah, hebat!” puji Iqbaal.

Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Karna aku tak tau harus berkata apa lagi. Aku bingung.

“Nin, sebenernya gue dateng kesini gak Cuma nengokin lo. Gue... duh gimana yah. Gini deh waktu lo bilang lo suka sama gue, sebenernya gue seneng banget. Tapi, gue juga ngerasa bersalah. Karna sebenernya gue juga suka sama lo dari dulu. Dari awal kita kenal. Tapi, gue mutusin buat berenti dan ngehapus rasa suka gue setelah lo bilang kita just friend. Lo inget kan? Disitu gue sakit banget. Terpukul. Mangkannya dari situ gue agak jaga jarak sama lo. Dan sebenernya gue pacaran sama Dira Cuma buat ngehapus rasa sayang gue ke lo. Gue ga suka sama Dira nin. Gue sukanya sama lo.” Terang Iqbaal.

Aku tetap duduk di pinggir kolam. Masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Iqbaal barusan.

“Terus hubungan lo sama Dira gimana sekarang?” tanya ku ingin tau.

“Pas waktu itu lo bilang kalo lo suka sama gue. Gue langsung samperin Dira. Gue putusin dia dan jelasin semuanya. Dira ngerti. Ternyata Dira juga sama kayak gue. Dia sebenernya suka sama Yosep nin. Dia pacaran sama gue Cuma buat ngilangin rasa sayangnya ke Yosep. Hidup ini emang susah di tebak yah.” Jelas Iqbaal.

“Oh oke...” jawabku singkat karna kehabisan kata.

“Anin, kita kan udah sama-sama bilang sayang nih. Jadi, lo mau ga jadi pacar gue? Lo gak usah ngomong nin. Gue tau suara lo abis gara-gara ngegalauin gue. Lo cukup ngangguk dan ngegelengin kepala aja.”

Dan aku pun mengangguk. Iqbaal langsung memelukku erat. Aku masih tak percaya bahwa cinta yang selama ini aku pendam membuahkan hasil yang manis. Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Meluapkan kegembiraanku. Dulu, yang aku tau cinta itu Cuma sekedar kata kiasan yang menggambarkan rasa ketertarikan antara pria dan wanita. Tapi sekarang, yang aku tau cinta itu adalah sebuah keputusan. Keputusan untuk tetap berjuang atau menyerah. Jika kamu memilih untuk menyerah, berarti itu bukan cinta. Karna cinta itu seperti cita-cita, perlu perjuangan untuk dapat meraihnya.
*End*

Catatan : Novelet ini terinspirasi dari novelet yang berjudul “When You Love Someone” karya ka Sekar Ilalang. Dan novelet ini terinspirasi juga dari lagu Almost Is Never Enough yang di nyanyikan oleh Ariana Grande feat Nathan Sykes.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar