Almost
Is Never Enough
“I’d
like to say we gave it a try. I’d like to blame it all on life”
Masa-masa
SMP sudah usai. Sekarang saatnya memulai tingkatan yang lebih tinggi yaitu SMA.
Aku memutuskan untuk masuk ke SMA Harapan Bangsa. Dengan alih-alih karena SMA
ini termasuk salah satu SMA terfavorite
di kotaku. Nilai minimun untuk masuk SMA ini cukup tinggi. Tak sembarang orang
bisa masuk SMA ini. Sebenarnya nilaiku tidak terlalu tinggi dan aku bisa di kategorikan
sebagai siswa bodoh. Hanya saja kali ini aku beruntung bisa masuk SMA ini.
Seperti
biasa, di tahun ajaran baru selalu diadakan Masa Orientasi Peserta Didik baru
atau biasa di sebut MOPD. Sebenarnya aku paling anti dengan hal yang satu ini.
Soalnya masa-masa MOPD tuh adalah masa-masa yang paling menyebalkan menurutku.
Karna di waktu pelaksanaan pasti ada hukuman dan semacamnya. Senior seketika
jadi monster yang paling kejam di banding dinosaurus-dinosaurus di masa
peradaban kuno. Tak jarang, banyak senior yang mencari perhatian kepada para
peserta didik baru.
Hari
ini adalah hari pertama masa orientasi. Aku di tempatkan di ruangan kelas yang
bertuliskan X 5. Hari pertama orientasi ku kacau. Aku lupa membawa salah satu
bahan yang harus di bawa. Aku pun maju kedepan dan mengakui kesalahanku. “Cuma
satu? Iya. Cuma satu yang ngaku?!” ucap salah satu senior.
Tak
lama kemudian seorang pria berambut hitam, berkulit putih dan bermata agak
sipit itu melangkah maju dan berdiri di sampingku. “Oke, akhirnya ada yang mau
ngaku juga. Sekarang kalian berdua ikut gue!”.
Aku
dan pria bermata agak sipit pun berjalan beriiringan. Kami mengikuti seorang
senior untuk keluar kelas. Ternyata kami di arahkan ke lapangan upacara. Kami
dihukum membersihkan lapangan sampai jam istirahat. Selama kami membersihkan
lapangan upacara, kami tidak sempat berkenalan dan kami hanya diam mematung
satu sama lain. Tak ada satupun di antara kami yang membuka obrolan. Harus
kuakui pria ini tampan. Tapi menurutku dia seperti berandalan. Dan itu yang
membuatku enggan membuka obrolan dengannya. 2 jam sudah kami membersihkan
lapangan. Bel istirahat pun berbunyi menandakan berakhirnya hukuman untuk kami.
Aku dengan cepat menaruh sapu di tepi lapangan dan berlari ke dalam kelas karna
ingin cepat-cepat minum.
Sesampainya
di kelas, aku berkenalan dengan 3 teman baru yakni Alexa teman sebangku ku.
Melodi si gadis berambut pirang yang duduk di belakang ku. Dan Yosep si pria
berkulit hitam yang duduk didepan Alexa. Beberapa menit kemudian bel masuk
berbunyi. Seorang guru masuk kekelas. Ternyata beliau yang akan membimbing jam
perkenalan kami. Pria yang di hukum bersamaku tadi baru masuk kelas. Dia
terlambat masuk dan langsung di persilahkan duduk di bangkunya oleh pak guru.
Ternyata pria bermata sipit ini duduk sebangku dengan Yosep. Dan ini berarti
dia duduk di depanku.
Satu
persatu murid maju dan memperkenalkan diri hingga tiba giliran pria bermata
sipit tadi. “Siang semua. Perkenalkan nama gue Muhammad Iqbaal. Panggil aja
Iqbaal. Gue masuk sini karna kemauan orangtua gue. Makasih!” ucap pria yang
baru kuketahui namanya itu. Selanjutnya, aku hanya sekedar menghafal nama anak
yang maju kedepan.
“Kamu
yang berkacamata, cepat maju!” seru pak guru padaku.
Hampir
saja jantungku copot. “Selamat siang semua! Perkenalkan namaku Anindya
Lianasari, panggil aja Liana. Aku masuk SMA ini karena aku suka sekolah ini.
Terima kasih!”.
**
“Maybe
we just weren’t right. But that’s a lie. That’s a lie.”
Tak
terasa hari pertama MOPD ku selesai. Sekarang saatnya pulang ke rumah. Aku
sengaja mempercepat langkahku untuk segera tiba di rumah karena aku merasa
sangat lelah hari ini. Beberapa menit sudah aku berdiri di depan gerbang dengan
maksud menunggu busway. Tapi dari tadi tak ada satupun busway yang masih
kosong, semuanya penuh.
“Hey?
Ko lo masih disini?” panggil seseorang yang suara nya tak asing di kupingku.
“Eh
Iqbaal, iya nih dari tadi busway gak ada yang kosong. Padahal gue pengen
cepet-cepet pulang. Pengen cepet-cepet mandi abis itu tidur. Capek banget hari
ini apalagi tadi abis di hukum. Huh hari pertama yang melelahkan.” Celetuk ku
panjang lebar.
Iqbaal
hanya tertawa kecil mendengar aku mengoceh tadi.
“Kenapa
baal? Ada yang lucu?” tanya ku heran dengan sikap dia.
“Hahaha
gapapa ko lucu aja liat lo ngomong panjang lebar kayak jalan tol gak ada
berentinya. Hahaha padahal kita baru ketemu hari ini doang.” Jawab Iqbaal
sembari sesekali tertawa.
“Ehehe
sorry baal. Gue emang kebiasaan gini dari dulu. Maaf yak”
“Yaudah
pulang bareng gue yuk, naik motor.” Tawar Iqbaal.
“Boleh
deh daripada diem di sini nunggu busway lama hehe”
Sepanjang
perjalanan pulang, aku dan Iqbaal tak henti-henti nya membicarakan semua hal
tentang hari ini. Dari mulai senior yang galak nya minta ampun. Sampai
teman-teman baru di kelas pun tak luput dari pembicaraan kami.
Beberapa
menit berlalu. Tak terasa ternyata motor yang di kendarai Iqbaal sudah tiba di rumahku.
Iqbaal pun langsung berpamitan pada ku.
“Bye,
Liana! Besok gue jemput ya!” ucap Iqbaal sembari berlalu. Aku pun hanya menatap
Iqbaal pergi sampai punggung nya hilang dari penglihatanku. Tanpa sadar, aku berjalan
memasuki rumah sambil senyum-senyum sendiri. Sejak obrolan di sepanjang
perjalanan tadi. Aku jadi tau satu hal. Ternyata Iqbaal tak seperti yang ku
pikirkan. Kukira Iqbaal itu jutek dan berandalan sehingga tak cocok berteman
denganku. Tapi, ternyata aku salah. Aku salah besar.
**
“And
we can deny it as much as we want. But it time our feelings will show”
Syukurlah,
empat hari neraka di awal tahun ajaran baru sudah berakhir. Selama empat hari
pula aku berteman dengan 4 orang sahabat yakni Iqbaal, Yosep, Alexa dan Melodi.
Sekarang adalah saat nya untuk melihat pembagian kelas yang baru. Karena
sekolah ku termasuk sekolah favorite,
jadi pembagian kelas di dasarkan kecerdasan siswa. Siswa yang pintar di tempatkan
di kelas X 1 sedangkan siswa yang kurang cerdas di tempatkan di kelas X 11.
Aku
dan 4 orang sahabat ku mencoba berlari ke arah papan pengumuman yang ada di depan
perpustakaan. Sebenarnya aku dan 4 orang sahabat ku tidak khawatir dapat kelas
yang berbeda. Dapat kelas apapun kami terima. Karna sejujurnya aku dan 4 orang
sahabatku ini bekerja sama mengerjakan test dan tak ada satu soal pun yang
isinya berbeda. Itu semua kami lakukan karna kami tak ingin di pisah hihi.
“Minggir,
permisi! Permisi!” suara ku sengaja aku buat memelas.
Aku
langsung mencari namaku di deretan siswa X 1 sampai X 9. Ternyata tidak ada.
Akhirnya sampai di deretan nama siswa kelas X 10. Akhirnya aku menemukan namaku
tertera di urutan daftar tersebut. Ya memang hanya 1 tingkat lebih atas dari
kelas X 11. Setidaknya itu menandakan bahwa otak ku tidak terlalu bodoh. Setelah
itu aku cari nama Alexa, Iqbaal, Melodi lalu Yosep.
“Sudah
kuduga! Yeay!” pekikku tak tertahankan sembari melompat. Tanpa pikir panjang
aku langsung berlari menemui 4 orang sahabat ku yang tengah berdiri di belakang
kerumunan.
“guys,”
suara ku sengaja aku buat memelas.
“Anin?
Kenapa? Kita gak satu kelas ya?” ucap Iqbaal memasang wajah sedih. Ya Anin.
Cuma dia yang memanggil namaku dengan sebutan Anin. Enah kenapa, setiap di tanya
pasti jawabannya “Pengen beda aja dari yang lain”. Apapun itu, aku biarkan saja.
Toh tidak menggangguku sama sekali.
“Ih
Liana kenapa ih? Bener bukan kita gak sekelas? Ih ko aneh? Engga mau ah kita
harus sekelas pokoknya harus!” tegas Melodi sembari menangis.
Haha
target ku terpenuhi! Akhirnya aku bisa membuat mak baper kambuh! Gumam ku dalam
hati.
“Kita
satu kelas guys!” teriakku bukan main.
“Yang
bener lo?” teriak Yosep gembira.
“Wah
berarti tadi lo ngerjain gue sama Iqbaal dong? Damn!” protes Melodi.
“Haha
sorry mak. Gue kangen kebaperan lo. Jadi gatau kenapa tadi gue iseng bikin lo
baper. Tapi berhasilkan? Yeee” ledek ku.
**
Setiba
di kelas, kami berburu tempat duduk. Tempat duduk yang kami buat sama persis
dengan yang waktu MOPD. Aku masih duduk dengan Alexa. Yosep dengan Iqbaal. Dan
Melodi masih duduk sendirian.
Seharian
ini tak ada guru yang masuk. Hanya ada wali kelas yang membagikan jadwal
pelajaran, serta pemilihan pengurus kelas. Aku dan geng ku tidak tertarik sama
sekali untuk ikut serta menjadi pengurus kelas. Bagi kami menjadi pengurus
kelas itu tidak gampang.
Bel
pulang berbunyi. Aku dan geng ku bersemangat untuk keluar kelas. Seperti biasa,
Yosep pulang naik motor, Alexa dan Melodi pulang pake mobil jemputan. Hanya aku
yang harus naik busway. Tapi semenjak Iqbaal mengantarku pulang waktu itu. Aku
jadi sering di antar jemput olehnya.
“Anin,
yuk naik!” ucap Iqbaal
“Cieee
kayaknya di antara kita bakal ada yang jadian nih!” ledek Yosep.
“Udah,
gausah pada muna. Kalo saling sayang bilang aja. Terus resmiin deh gampang kan?!”
tambah Alexa.
“Tau
tuh. Tinggal bilang ‘aku sayang kamu’ doang apa susahnya sih? Hahaha” ujar
Melodi menambahkan.
“Apaan
sih kalian? Gue sama Iqbaal Cuma sahabatan ya kan baal? Gue kan gak kayak
kalian di jemput pake mobil jemputan. Jadi ya Cuma Iqbaal yang bisa gue
tebengin” jawab ku dengan alasan yang gak karuan.
“Iya.
Just friend!” jawab Iqbaal singkat.
**
“Cause
sooner or later. We’ll wonder why we gave up. But truth is, everyone knows”
Semenjak
kejadian itu, aku seperti kehilangan sosok Iqbaal yang dulu. Sosok yang
periang. Sosok yang mampu menghadirkan setiap tawa di sepanjang hari-hariku.
Sekarang, Iqbaal seperti agak menjaga jarak dengan ku. Entah apa sebabnya?
Akupun tak tau.
“Liana!
Liana! Lianaaa!” teriak pak Taro memekakkan telinga. Sebenarnya pak Taro itu
bukan nama aslinya. Itu hanya panggilan iseng dari geng ku. Nama asli pak Taro
itu Alvaro hehe.
“Iya,
saya pak?!” jawab ku kaget.
“Cepet
kamu maju! Nyanyikan lagu favorite
kamu. Pilih alat yang kamu suka! Cepat jangan melamun terus!”
“Tapi
pak, saya gak bisa maen alat musik apapun?” jawab ku polos.
Sontak
seiisi kelas semua tertawa mendengar jawaban ku. Termasuk geng ku. Mereka
tertawa sangat lepas. Argh menyebalkan!
“Yaudah,
Iqbaal maju kedepan! Iringi Liana nyanyi pake gitar” ucap pak Taro.
“Nyanyi
apa nin?” tanya Iqbaal singkat.
“Lagu
Almost Is Never Enough aja” jawabku.
“Almost, almost is never enough. So
close to being in love. If i would have known that you wanted me. The way i
wanted you. Maybe we wouldn’t be two world apart. But right here in each others
arms. Well we almost, we almost knew what love was. But almost is never enough”
Aku
memilih lagu Ariana Grande feat Nathan Sykes karena lagu ini seperti menyatu
dengan kisah cintaku. Setiap lirik seolah menggambarkan bagaimana aku menyukai
seseorang namun aku menyembunyikannya.
“Tepuk
tangan untuk Liana dan Iqbaal! Luar biasa, Lian, Baal! Suara kamu Lian, empuk
dan enaknya bukan main. Dan kamu Baal, permainan gitarmu sungguh sangat
mengagumkan. Kalian saling melengkapi. Kalian seperti tengah menunjukan
kehidupan cinta kalian lewat lagu itu. Hebat! Bapak bangga!” puji pak Taro.
Aku
hanya bisa tersenyum mendengarnya. Rasanya biasa saja kalau ada yang memuji
suaraku. Karena dari kecil aku memang suka bernyanyi. Bahkan aku pernah
menjuarai lomba bernyanyi tingkat TK dan SD.
“Nanti
setelah pulang sekolah, tinggallah disini sebentar ada hadiah buat kalian
berdua.” Ujar pak Taro sembari mencatat nilai ku dan Iqbaal di bukunya.
Benar
saja, sepulang sekolah aku dan Iqbaal tinggal dikelas sejenak. Pak Taro
menasehatiku dan Iqbaal untuk terus mengasah bakat kami. Bahkan pak Taro
menyarankanku dan Iqbaal untuk berduet di acara pensi sekolah nanti. Aku dan
Iqbaal pun hanya mengangguk. Setelah pak Taro memberikan sebuah kotak berwarna
biru, aku dan Iqbaal langsung keluar dari kelas dan memutuskan untuk pulang.
**
“If
i could change the world overnight. There’d be no such thing as goodbye. You’ll
standing right where you were. And we’d get the chance we deserve.”
Keesokan
harinya, bu guru Jasmine masuk kekelas dengan di ikuti seorang gadis cantik
yang bisa kutebak dia anak baru.
“Selamat
pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan nama
kamu.” Ucap bu Jasmine.
“Selamat
pagi. Perkenalkan nama ku Michellia Indira. Kalian boleh manggil aku Michell /
Dira. Aku pindahan dari SMAN 6 Bogor. Aku pindah ke Jakarta karna orang tuaku
yang di pindah tugaskan di daerah sini. Rumahku di jalan mawar. Salam kenal
yah” sapa anak baru itu ramah. Selanjutnya bu Jasmine menyuruh Dira duduk di
bangku sebelah Melodi.
Harus
aku akui. Dira mempunyai paras yang sangat cantik, kulitnya putih bersih,
giginya putih rapih, dia mempunyai perawakan yang tinggi, bibirnya mungil dan
berwarna merah, matanya bulat seperti tokoh-tokoh di film anime. Selain itu dia
mempunyai sikap yang ramah, baik, dan tidak pilih-pilih teman. Membuat pria
manapun yang melihat dan mengenalnya akan jatuh cinta.
Bel
istirahat berbunyi. Aku dan geng ku berkenalan dengan Dira dan mengajaknya ikut
serta masuk geng kami. Tak butuh waktu lama untuk mengakrabkan diri dengan
Dira. Dira orangnya friendly. Dira
mudah menyesuaikan perwatakan kami yang beraneka ragam.
**
6
bulan sudah kami ber 6 bersahabat. Percaya atau tidak, selama kami bersahabat.
Kami tak pernah bertengkar. Kami seperti sebuah keluarga yang memiliki kasih
sayang satu sama lain. Rasa sayang yang tercipta antara kami semakin besar.
Begitupun rasa sayang ku pada Iqbaal semakin tumbuh besar.
Hari
ini aku memutuskan untuk mengungkapkan isi hatiku pada pria yang aku cintai
selama 6 bulan ini. Aku tak bisa memendamnya terlalu lama. Aku harus
mengungkapkannya sebelum Iqbaal di ambil orang.
Sepulang
sekolah aku memutuskan untuk menemui Iqbaal.
“Iqbaal!”
panggilku dari kejauhan.
“Anin?
Ada apa?” tanya Iqbaal dengan ekspresi kaget.
“Gue
punya sesuatu yang pengen gue sampein sama lo. Gue suka banget sama lo. Gue
udah mencintai lo selama 6 bulan. Gue udah ngubah diri gue demi lo. Tapi gue
tau sekarang bahwa hal yang paling penting yang harus gue lakuin dan seharusnya
gue lakuin dari dulu. Yaitu bilang yang sejujurnya sama lo. Kalo.. kalo gue cinta
sama lo.” Ungkap ku memberanikan diri mengeluarkan perasaan yang sudah lama ku
pendam.
Hening.
Iqbaal tak berkomentar apa-apa. Ia hanya diam mematung.
“Iqbaal...
sayang? Eh hay Liana” panggil salah seorang dari kejauhan.
“Iya
Dira? Ada apa?” jawab Iqbaal.
“Sayang,
aku tunggu di parkiran yah, bye. Bye juga Liana” ucap Dira sambil berlalu.
“Lo...
lo sama Dira. Lo sama Dira pacaran?” ucap ku terbata-bata.
Iqbaal
hanya mengangguk menandakan bahwa hal yang selama ini aku takutkan terjadi.
“Sudah
berapa lama?” tanya ku penasaran.
“Dua
minggu yang lalu.” Jawab Iqbaal singkat.
Aku
hanya bisa tersenyum sembari menahan air mata yang sedari tadi memaksa ingin
jatuh.
“Sekarang
kalian pacaran. Kalian cocok. Semoga kalian bahagia.” Hanya itu yang bisa aku
ucapkan. Aku langsung memutuskan pergi dari hadapan Iqbaal. Aku berlari sejauh
mungkin sambil mengusap airmata yang terus berjatuhan. Rasanya seperti berakhir,
tapi mulai pun belum. Seperti hilang, tapi justru tak pernah ada.
**
“Oh,
oh baby, you know, you know baby. Almost, is never enough baby. You know”
Aku
bangun tidur dengan begitu mengenaskan. Mataku menjadi bagian yang paling
horror karena bengkak mirip mata gajah. Betapa hancurnya aku setelah semalaman
suntuk menangis.
Butuh
waktu berjam-jam untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Hingga aku telat
masuk ke sekolah. Sesampainya dikelas, aku langsung duduk dan merenungi hatiku.
“Lo
kenapa Liana?” tanya Dira bingung melihat penampilan ku yang aburadul.
“Gapapa!”
jawab ku singkat.
Aku
masih tak percaya bahwa Iqbaal dan Dira berpacaran. Ini artinya cinta ku selama
ini sia-sia. Oh My God! Aku ingin
marah pada Dira tapi dia sahabatku. Aku juga malu pada Iqbaal. Namun, jangan
biarkan aku putus asa pada perasaan cintaku ini, please God!
**
Ini
hari ketiga aku tidak masuk sekolah. Aku minta orangtuaku untuk mengizinkanku
libur. Alasannya simple. Aku sakit. Awalnya orangtua ku tidak percaya aku
sakit. Tapi aku punya pendirian teguh untuk tidak masuk sekolah. Aku sedang sakit.
Ya, aku sakit hati.
Selama
3 hari ini aku mengisi hari-hari ku dengan bernyanyi di pinggir kolam ikan yang
ada di halaman belakang rumahku. Langsung saja kuambil gitar yang ada di sampingku.
Sebenarnya beberapa bulan ini aku belajar gitar. Hingga saat ini aku sudah
mulai mahir memainkannya. Aku langsung mulai menyanyi meskipun suara ku serak,
malah nyaris habis karna semalaman menangis.
“Try to deny it as much as you want.
But in time our feelings will show. Cause sooner or later. We’ll wonder why we
gave up. The truth is everyone knows.” Lantunku
asal.
“Suara
lo meskipun lagi serak boleh juga.” Suara seseorang dari belakangku
mengagetkan.
Aku
membalikkan badanku dan terkejut. Rupanya suara tadi suara Iqbaal.
“Kenapa
nin? Kaget yah?” tanya Iqbaal padaku.
Aku
hanya bisa diam. Tak percaya bahwa Iqbaal ada di hadapanku.
“Maaf
yah gue jenguk lo gak bilang-bilang. Soalnya handphone lo gabisa di hubungin. gue khawatir karna lo gamasuk
selama 3 hari.” Tuturnya lugas.
“I..iya...”
jawabku sekuat tenaga.
“Wah
lo sekarang udah bisa main gitar yah, hebat!” puji Iqbaal.
Aku
hanya bisa tersenyum mendengarnya. Karna aku tak tau harus berkata apa lagi.
Aku bingung.
“Nin,
sebenernya gue dateng kesini gak Cuma nengokin lo. Gue... duh gimana yah. Gini deh
waktu lo bilang lo suka sama gue, sebenernya gue seneng banget. Tapi, gue juga
ngerasa bersalah. Karna sebenernya gue juga suka sama lo dari dulu. Dari awal
kita kenal. Tapi, gue mutusin buat berenti dan ngehapus rasa suka gue setelah
lo bilang kita just friend. Lo inget kan? Disitu gue sakit banget. Terpukul. Mangkannya
dari situ gue agak jaga jarak sama lo. Dan sebenernya gue pacaran sama Dira Cuma
buat ngehapus rasa sayang gue ke lo. Gue ga suka sama Dira nin. Gue sukanya
sama lo.” Terang Iqbaal.
Aku
tetap duduk di pinggir kolam. Masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan
Iqbaal barusan.
“Terus
hubungan lo sama Dira gimana sekarang?” tanya ku ingin tau.
“Pas
waktu itu lo bilang kalo lo suka sama gue. Gue langsung samperin Dira. Gue putusin
dia dan jelasin semuanya. Dira ngerti. Ternyata Dira juga sama kayak gue. Dia sebenernya
suka sama Yosep nin. Dia pacaran sama gue Cuma buat ngilangin rasa sayangnya ke
Yosep. Hidup ini emang susah di tebak yah.” Jelas Iqbaal.
“Oh
oke...” jawabku singkat karna kehabisan kata.
“Anin,
kita kan udah sama-sama bilang sayang nih. Jadi, lo mau ga jadi pacar gue? Lo gak
usah ngomong nin. Gue tau suara lo abis gara-gara ngegalauin gue. Lo cukup
ngangguk dan ngegelengin kepala aja.”
Dan
aku pun mengangguk. Iqbaal langsung memelukku erat. Aku masih tak percaya bahwa
cinta yang selama ini aku pendam membuahkan hasil yang manis. Rasanya aku ingin
berteriak sekencang-kencangnya. Meluapkan kegembiraanku. Dulu, yang aku tau
cinta itu Cuma sekedar kata kiasan yang menggambarkan rasa ketertarikan antara
pria dan wanita. Tapi sekarang, yang aku tau cinta itu adalah sebuah keputusan.
Keputusan untuk tetap berjuang atau menyerah. Jika kamu memilih untuk menyerah,
berarti itu bukan cinta. Karna cinta itu seperti cita-cita, perlu perjuangan
untuk dapat meraihnya.
*End*
Catatan : Novelet ini terinspirasi dari
novelet yang berjudul “When You Love Someone” karya ka Sekar Ilalang. Dan novelet
ini terinspirasi juga dari lagu Almost Is Never Enough yang di nyanyikan oleh
Ariana Grande feat Nathan Sykes.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar