Ber-un-tung
Oleh: Yenti Siti Nuryaman
Kicauan burung-burung camar membuat pagi
semakin hidup. Helaan angin yang berhembus menabrak helai demi helai rambut Meisaki
yang sengaja dibiarkan terurai. Kain abu-abu selutut yang ia kenakan seolah
ikut tersapu angin. Namun Mei seperti enggan untuk menegur ataupun memberontak.
Ia tetap berjalan dengan kokoh dan dengan langkah yang semakin dipercepat.
“Ah
sial! Aku terlambat lagi.” Gerutu Mei
dalam hati.
Kali ini, bukan hanya angin yang ia hiraukan. Batu-batu yang
tergeletak disekitar jalan yang akan ia tempuh juga tak ia pedulikan. Ia terus
melaju dengan ganasnya. Sampai tiba saat ia harus terluka karena sebuah kulit
pisang yang tergeletak disela-sela batu itu.
Gubrakkk!
“Shittt! Sakit
banget!” Mei kesakitan sambil mencoba bangkit dari jatuhnya. Ia seka sisa-sisa
tanah yang menempel pada tumit dan lutut yang sedikit mengeluarkan darah itu.
Ia bangkit dengan sekuat tenaga. Kali ini langkahnya agak
sempoyongan menahan sakit. Namun, ternyata tekad untuk tiba lebih cepat amat
sangat berpengaruh dibanding rasa sakit yang terus-menerus menghantui.
Setelah sekitar 15 menit ia bergelut dengan rasa sakit
pada bekas luka yang beberapa waktu lalu mendera, akhirnya ia tiba di tempat
yang seharusnya ia datangi 60 menit lebih awal.
Matanya ia edarkan ke seluruh penjuru. Mencari satu dari
sekian ribu manusia yang tengah berlalu-lalang. Ia bukan perempuan bodoh, jika
saja handphone nya sempat ia bawa
sebelum berangkat pasti ia akan segera menghubungi orang yang akan ditemuinya
itu.
“Apa dia udah pulang yah?” tanya Mei pada dirinya
sendiri.
Setelah lelah mencari sesuatu yang tak kunjung ia
temukan, akhirnya Mei memutuskan untuk tetap membeli tiket masuk sebuah event Jepang yang tadinya akan ia
datangi bersama rekannya itu.
Semua berjalan diluar ekspektasi.
Mei menikmati keseruan event hanya
seorang diri. Sorak-sorak orang bergembira hanya seperti teriakan seekor semut
yang sedang meneriaki dirinya. Sunyi, sepi. Itu yang ia rasakan.
Wajah yang sengaja ia poles dengan make up agar terlihat
lebih cantik ia bentuk tertekuk seolah tak semangat. Hingga tiba di penghujung
acara. Saat Tulus menyanyikan sebuah lagu penutup berjudul “Monokrom”, Mei
berdiri di barisan tengah sambil sesekali tersenyum membayangkan hal-hal indah
jika saja saat ini ia ditemani rekannya itu.
“Mei?!” sebuah suara pria menghentikan lamunannya itu.
Sontak matanya langsung tertuju pada kemungkinan arah suara itu berasal.
Dahi nya bergeming. Alisnya yang agak tebal sengaja ia
naikkan dari posisi asal. Mulutnya ia biarkan sedikit terbuka.
“Alvin?” nada suara Mei agak meninggi karena masih tidak
percaya akan bertemu dengan pria itu ditempat seperti ini.
Bukannya Alvin yang mendekat ke arah Mei, melainkan Mei
yang mendekat ke arah Alvin. “Vinnnn...” ucap Mei sambil masih setengah tidak
percaya.
“Apa kabar?” tanya Alvin ketika jarak Mei dan dirinya
hanya beberapa centi.
Kedua mata Mei berbinar. Cahaya lampu-lampu yang ada di
sekitar yang memantul pada bayangan mata Mei membuat matanya semakin bercahaya.
Mei tidak menjawab pertanyaan Alvin. Yang ia lakukan hanya menatap mata Alvin
dan membisu.
Alvin terheran dengan tingkah Mei yang seperti itu. Sekilas
ia melihat luka pada tumit dan lutut Mei yang sudah terlihat samar-samar.
Diraihnya tangan Mei secara seketika dan berhasil membuat kebisuan dan lamunan
Mei terpecah belah.
“Tumit kamu kenapa? Lutut kamu juga!” tanpa basa-basi
Alvin segera menghujani Mei dengan berbagai pertanyaan.
Degh...
“Tadi akuuu...”
Belum sempat Mei menjawab, tiba-tiba saja tangan nya
ditarik paksa oleh seseorang yang entah datang dari arah mana.
“Mei! Kamu kemana aja? Aku khawatir. Handphone kamu kenapa gak bisa dihubungi? Aku kira kamu gak jadi
dateng?” ucap pria bertubuh standar dengan kulit sedikit cokelat ke timur-timuran
serta berparas lumayan itu.
“Lielllll... yaampun daritadi aku cari kamu, handphone ku ketinggalan dirumah. Tadi
aku juga kesiangan. Aku kira kamu yang gak jadi dateng, jadi aku beli tiket
sendirian.”
“Yaampunnnn, ceroboh banget sih Mei ku iniiii.” Gemas
Liel-pacar Mei sambil mencubit kedua pipi Mei secara bersamaan.
Melihat itu, Alvin segera berpamitan kepada Mei dan juga
Liel.
Mei yang baru sadar dengan kepergian Alvin segera
mengejar langkah Alvin karena merasa tidak enak sudah menghiraukan keberadaannya.
Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Alvin kembali melangkah
pergi meninggalkan Mei dan juga Liel.
Setelah
pertemuan tak terduga itu, Alvin dan Mei menjadi sering berkomunikasi intents. Malah tak jarang, Alvin sering
menemani Mei melepas jenuh ketika Liel tak bisa menemaninya.
Keduanya
seolah tengah de javu. Mengulang semua masa-masa indah yang pernah mereka
rangkai tatkala masih bersama dulu. Membuat perhatian Mei teralihkan sepenuhnya
pada Alvin sehingga Liel sudah tak ia anggap keberadaannya lagi.
Menyadari
ada yang berubah pada diri Mei, Liel bertanya-tanya dan sebisa mungkin mencari
tahu apa penyebab Mei seperti itu.
Awan
cerah seolah berubah jadi mendung, suara ramai burung-burung bersahutan seolah
lenyap begitusaja, semilir angin yang menyejukkan hati juga seolah terhenti.
Semangatnya benar-benar hilang. Jiwa nya benar-benar melemah. Ia begitu
mencintai Mei dengan setulus hati. Perempuan pertama yang membuat ia merasa
jadi manusia paling beruntung. Bagaimana tidak? Perempuan secantik dan sebaik
Mei mau ketika ia ajak berkencan meskipun dengan keadaan diri yang jauh dari
kata sempurna.
“Mei...”
desah nya pelan sambil memandang kosong ke arah lapangan bola yang terletak di
depan nya.
Dari
kejauhan, terlihat Mei sedang berjalan kearah Liel. Mei tersenyum, tapi senyum
itu terasa asing bagi Liel.
Mei
mengambil posisi duduk tepat disebelah Liel. Diraihnya tangan Mei dengan
lembut. Tapi Mei seolah menjauhkan tangannya dan menjaga jarak. Membuat rasa
bingung Liel kian membesar.
“Mei...”
Liel membuka percakapan.
“Liel...
maaf.” Sergah Mei.
“Aku
udah gabisa lanjutin hubungan kita. Maaf...”
Liel
tak terlalu kaget mendengar pernyataan Mei yang secara tiba-tiba itu. Ia sudah
menduga hal seperti ini akan segera datang. Hanya saja, rasa tak pernah bisa
sekalipun berdusta. Ia masih ingin Mei terus bersamanya. Meskipun ia tahu,
segala hal tentang ia dan Mei sudah tidak lagi berarti bagi kekasih yang sudah
menemani selama 2 tahun itu.
Matanya
ia palingkan lagi pada arah lapangan. Berharap Mei tidak melihat bulir-bulir
bening yang sudah menghias dikedua kelopak matanya itu. Diam. Tersenyum. Tabah.
Hanya itu yang mampu ia persembahkan.
Melihat
tidak ada respon dari Liel, Mei segera beranjak pergi meninggalkan Liel yang
terdiam tanpa melontarkan salam perpisahan.
Dengan
langkah yang kokoh dan berat hati, Mei menyeka sisa-sisa air mata yang tumpah
dari kelopak matanya. Ia yakin keputusan ini yang terbaik untuk mereka berdua.
Ia juga yakin, Alvin lebih baik daripada Liel.
Dua
tahun berlalu, bangunan-bangunan kota semakin banyak berubah. Suara kicauan
burung-burung kala pagi menyapa sudah jarang ia dengar. Udara yang bersih sudah
terganti dengan partikel-partikel debu yang semakin merajalela.
Dengan
kemeja putih dilengkapi rok hitam selutut, Mei duduk di sebuah ruang tunggu
sebuah kantor untuk keperluan interview.
Menit berganti menit, tiba gilirannya untuk masuk ke ruang HRD. Tok.. tok..
pintu diketuk. Suara dari balik pintu memerintahkan untuk langsung masuk.
Ketika pintu dibuka, Mei sedikit tercengang. Namun ia berusaha untuk bersikap
profesional dan segera duduk di hadapan sang HRD.
Pertanyaan
demi pertanyaan dilayangkan kepada Mei. Dan setelah pertanyaan terakhir
terjawab. Mei spontan mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi ingin
dikeluarkan.
“Apa
kabar, Liel?”
Sekilas
Liel tersenyum, tapi masih bersikap profesional. “Baik, kamu?”
“Aku
juga. Kamu bukannya bekerja di daerah Jakarta Timur?” tanya Mei.
“Satu
tahun yang lalu di mutasi ke sini.” Jawab Liel masih dengan senyum.
“Kamu
sudah menikah?” tanya Mei tiba-tiba.
Liel
hanya tersenyum membisu dengan bola matanya ia arahkan pada cincin di jari
manis sebelah kanan yang terpasang ditangannya seolah memberikan jawaban penuh
atas pertanyaan Mei.
Mei
terpaku. Rasa sesak seketika menguasai hati nya. “Ah ya selamat kalau begitu.”
“Alvin,
apa kabar?” tanya Liel.
“Aku
sudah tidak bersama Alvin. Dia tidak sebaik kamu.”
“Cintai
seseorang apaadanya jika kamu ingin bahagia.” Ungkap Liel.
“Liel...
maaf dulu aku jahat dan aku bodoh.”
“Sudah,
yang berlalu biarlah berlalu. Justru saya ingin berterimakasih, terimakasih
telah melepas dan menyadarkan saya. Berkat kamu saya bisa bertemu dengan istri
saya. Terimakasih, Mei.”
Kata-kata
yang diucapkan Liel seakan menusuk. Sesegera mungkin Mei pamit dan keluar dari
ruangan itu. Menyeka dan sebisa mungkin menyembunyikan air mata yang hampir
pecah. Ia menyesal atas apa yang dulu ia sia-siakan. Ia sadar telah
meninggalkan orang baik demi apa yang ia anggap baik.
“Adalah aku,
manusia beruntung yang selalu meniadakan keberuntungan itu.” -Mei