Kamis, 13 September 2018

Flash Fiction "Tahu Diri"


TAHU DIRI
Oleh: Yenti Siti Nuryaman

Matahari sedang memanggang ubun-ubun. Menertawakan aku yang tengah bersandiwara. Semilir angin seolah sedang menyombongkan diri dengan menerjang helai demi helai rambut yang sudah ku tata dengan rapi.


Ku hela nafas sejenak. Membuang rasa gundah yang sedari dulu mengganjal. Ku langkahkan kaki meski berat. “Aku harus terlihat bahagia.” Pikirku.

          Seketika, memori demi memori berhamburan keluar seolah minta dikenang. Namun, ku tepis dengan rasa HARUS TAHU DIRI. Tiba saat jarak kami hanya beberapa centi saja, “Selamat ya.” ucapku. Ia hanya tersenyum seolah lupa antara aku dan dia dulu. Membuatku ingin berteriak menyuarakan isi hati. Namun terlambat, ia sudah bersanding dengan perempuan pilihannya.

Minggu, 12 Agustus 2018

Cepen "DEJA VU"

DEJA VU
Oleh: Yenti Siti Nuryaman

Dingin malam ini terasa menusuk kalbu. Aku membisu. Kedua bola mataku terus memperhatikan sekeliling tempat ku berada. Ruang di depan mataku hitam dan gelap. Tidak ada satupun cahaya yang bisa menjelaskan dimana keberadaanku. Jendela kecil berukuran 30x30 cm terletak persis diatasku. Memberi sedikit udara segar agar aku masih bisa terus menghirup udara. Aku mencoba bangkit dari posisi asal. Meraba-raba dinding dingin penuh debu. Berharap ada tombol lampu yang bisa memberiku cahaya. Namun nihil, tak satupun ku temukan. Aku tidak ingat mengapa dan kenapa aku ada di tempat seperti ini.

Ku susuri dinding demi dinding. Kosong. Sunyi. Sepi. Hingga perlahan cahaya mulai datang dari kejauhan. Meskipun tidak benderang, namun bisa sedikit membantuku melihat dimana sebenarnya aku berada. Terlihat sekelompok ilalang menari bersama hembusan angin. Membuat suasana menjadi sedikit lebih baik. Aku terus berjalan menyusuri ilalang tersebut.  Sesekali aku menoleh ke belakang dan yang terlihat hanya bangunan tua yang kosong. Langkah ku percepat sebisa mungkin, menembus kerikil demi kerikil yang menggores luka-luka kecil di kakiku. Berharap secepatnya menemukan jalan keluar.

“Tolooonnngggggg....” teriak seorang perempuan dari kejauhan.

Aku mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Langkahku terhenti ketika dirasa sudah cukup dekat dengan sumber suara. Tubuh mungilku sengaja ku sembunyikan dibalik ilalang-ilalang itu. Aku kaget setengah mati. Kedua bola mataku menangkap sebuah peristiwa yang mengerikan. Seseorang yang tak asing tengah dalam bahaya. Kedua tangannya terikat. Bola matanya basah dibanjiri tangis. Keadaannya sangat mengenaskan. Terlihat rambut nya yang sangat tak beraturan. Serta bercak-bercak darah terus mengalir di beberapa titik di tubuhnya.

Aku terus bingung. Apa yang sedang terjadi padanya? Aku ingin menolong. Tapi aku takut. Seorang pria membelakangi tubuhku. Pakaiannnya serba hitam. Yang membuatku takut, dia membawa senjata. Sebuah belati seperti sudah siap mencabik-cabik siapa saja yang ada di hadapannya.

Perempuan itu terus minta ampun. Namun, sang pria tak mempedulikannya. Belati itu ia ayunkan 80 derajat. Menghantam tubuh perempuan yang terlihat sudah lemah itu. Tak puas hanya sekali cabikan. Pria itu seperti ketagihan mencabik-cabik tubuh perempuan malang itu sembari diiringi gelak tawa. HAHAHA MATI LAH KAU! Katanya puas.

Ya Tuhan! Aku memekik. Apa yang ku lihat di depan sana begitu nyata. Perempuan itu tewas seketika. Aku melangkah mundur. Sebisa mungkin mencoba menjauh dari kejadian mengerikan itu. Sampai sebuah duri mengenai kaki ku yang tak beralaskan dan membuatku menjerit pelan. Sialnya, pria itu bisa mendengar pekikkan pelanku.

Tubuh pria itu perlahan berbalik. “Heh! Siapa itu?” teriaknya.

Gawat! Aku terdiam kaku. Kaki ku mati rasa. Aku berlari ke segala arah. Berusaha menjauh dan mencari jalan keluar. Tapi ladang ilalang ini seperti tak punya jalan keluar. Aku lupa dari mana aku datang. Aku gemetar. Berharap seseorang dapat menolong. Ya Tuhan! Aku takuuttt. Tangisku.

Aku bersembunyi dibalik ilalang yang rimbun. Sambil menangisi nasib ku kedepan. Aku tak mau berakhir seperti ini. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku tak mau mati konyol. Pikirku.

Wajahku panas. Aku putus asa. Aku lelah berlari. Aku hampir pingsan karna terus berlari tanpa tujuan. Habis sudah tenaga ku. Aku terus berdoa sambil terus menangis. Berharap pria itu tak menemukan keberadaanku.

Terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. Tangan ku gemetar. Aku takut mati. Aku belum mau mati. Ku rangkul kedua kaki ku. Lalu kutenggelamkan kepalaku kedalamnya. Aku tak sanggup melihat pria itu. Aku pasrah. Aku menyerah.

Sepasang sepatu hitam terlihat sudah didepanku. Mungkin pria itu sudah menemukanku. Aku memohon ampun sambil tetap merunduk. Namun, pria itu menarik tanganku kasar. Bulir-bulir air menyentuh kulit tanganku. Hei, dia menangis? Bingung campur takut menyelimutiku. Ku arahkan kepalaku ke wajahnya. Memastikan siapa rupanya pria mengerikan itu. Mataku terbelalak. Mulutku menganga. “Kamuuuu....!” aku kaget setengah mati.

“Kenapa? Kaget? Kamu harus mati bersama temanmu itu! Hahahahaha” ekspresinya menggambarkan kemarahan yang luar biasa.

Aku hanya bisa menyesali semuanya sambil menangis “Maaf... maafkan aku.”

Tanpa aba-aba, belati itu ia ayunkan ke arahku. Pandanganku seketika gelap. Aku tidak dapat merasakan semilir  angin. Pun tidak dapat mengingat siapa pria itu. Pandanganku teramat gelap.

Apa aku sudah mati?

Aku terbangun dengan nafas tak beraturan.

“Ternyata hanya mimpi.” Pikirku lega.

Aku bergegas dari tempat tidurku. Segera mencuci wajah, memastikan aku tidak lagi berada di dalam mimpi mengerikan itu. Ku pandangi wajahku dari pantulan cermin kamar mandi. Rasa takut itu masih terus membayangi. Mimpi yang seperti sebuah kenyataan. Jantungku masih berdebar kencang.

Semilir angin berhembus entah darimana. Padahal, yang ku tahu kamar mandi ini tak mempunyai ventilasi. Bulu kudukku seketika merinding. Terdengar sebuah suara seperti terbawa angin “Kamu harus mati.” Ku edarkan mata ke segala penjuru. Tak ada siapapun disini. Hanya aku. Keringat dingin mulai bercucuran. Aku berlari ketakutan. Namun, sesuatu menghalangi jalanku. Aku tersandung. Dan saat itulah muncul sosok bayangan putih yang melayang di udara. Sosok itu tak mengatakan apapun. Ia hanya menangis tersedu-sedu. Kain putih yang ia kenakan bersimbah darah. Perlahan, sosok itu mendekat. Menampakkan wajahnya yang penuh kesedihan dan kesakitan.

Aku menjerit ketakutan. Aku bangkit sekuat tenaga. Aku mencoba berlari sekencang mungkin. Tapi sosok itu masih terus mengikutiku. Suasana menjadi sangat mencekam ketika ia mengeluarkan suara tangisan khas hantu sejenisnya. Suasana diluar sangat sepi sekali. Aku tak tahu harus minta tolong pada siapa.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjumpai sahabatku, Arel. Sesampainya disana, rumah Arel terlihat sepi tak berpenghuni. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah.

Tiba-tiba saja, nafasku pengap. Seseorang seperti mendekap mulut dan hidungku dari belakang. Seketika itu penglihatanku menjadi gelap.

Setelah lama terpejam, akhirnya aku mulai membuka mata. Hawa dingin menusuk kalbu. Sudah malam ternyata. Ku perhatikan sekeliling ku. “Hei, aku tahu tempat ini. Ini seperti... deja vu...”

Aku seperti tengah mengulang adegan demi adegan yang pernah aku alami di mimpi. Semua ini benar nyata sekarang. Aku hanya ingin terbangun dan memastikan bahwa aku sedang bermimpi lagi. Tapi sial, ternyata ini bukan mimpi.

Ku lihat Arel dengan sangat mengenaskan dengan tangan terikat juga tubuh yang penuh darah dimana-mana. Aku bertanya-tanya “Apa yang sebenarnya terjadi pada Arel? Dan siapa pria mengerikan itu.”

Arel mati dengan mengenaskan di depan mataku. Aku ketakutan. Ketakutan ku memuncak saat pria itu sudah didepan mata. Ku pandangi dengan berani sosok pria pembunuh itu. Tapi tenyata, “Kamuuu....!” kagetku tak tertahankan.

Pria itu hanya menatap penuh amarah.

“Kenapa kamu membunuh Arel? Apa salah dia?” tanya ku dengan nada penuh ketakutan.

“Kamu masih bertanya? Setelah apa yang kamu perbuat pada Mila? IYA?!” dia berteriak.

“Mila? Itu sebuah kecelakaan. Aku dan Arel tak bermaksud membunuh Mila. Ku mohon, lepaskan aku.” tangisku tak tertahankan.

            Rey tersungkur diatas tanah. Ia mengeluarkan air mata. “Aku dan Mila sudah memutuskan akan menikah bulan depan. Tapi kalian? Kalian menghancurkan mimpi kita berdua. Puas kalian HAH?!”

            “Rey, ku mohon maafkan aku. aku dan Arel tak sengaja menabrak Mila. Itu murni sebuah kecelakaan.”

            “Kecelakaan katamu? Lalu, kenapa kalian tidak membawa Mila ke rumah sakit segera? Kalian malah mengubur Mila secara tak layak. Apa itu patut dinamakan sebuah kecelakaan?!”

            “Maafkan kami Rey, kami hanya bingung. Kami terlalu takut untuk berpikir jernih. Kumohon lepaskan aku...” aku hanya menagis penuh sesal.

            “Kamu harus mati bersama temanmu itu! Hahahahaha” ekspresinya menggambarkan kemarahan yang luar biasa.

Aku hanya bisa menyesali semuanya sambil menangis “Maaf... maafkan aku.”

Tanpa aba-aba, belati itu ia ayunkan ke arahku.

Pandanganku seketika gelap.

Aku tidak dapat merasakan semilir  angin.

Pandanganku teramat gelap.

Jiwa ku seakan ikut terbawa angin.

Ketakutanku seketika hilang.

Aku,


Melayang.

Senin, 25 Juni 2018

Cerpen "Ber-un-tung"


Ber-un-tung
Oleh: Yenti Siti Nuryaman

 Kicauan burung-burung camar membuat pagi semakin hidup. Helaan angin yang berhembus menabrak helai demi helai rambut Meisaki yang sengaja dibiarkan terurai. Kain abu-abu selutut yang ia kenakan seolah ikut tersapu angin. Namun Mei seperti enggan untuk menegur ataupun memberontak. Ia tetap berjalan dengan kokoh dan dengan langkah yang semakin dipercepat.

“Ah sial! Aku terlambat lagi.” Gerutu Mei dalam hati.

            Kali ini, bukan hanya angin yang ia hiraukan. Batu-batu yang tergeletak disekitar jalan yang akan ia tempuh juga tak ia pedulikan. Ia terus melaju dengan ganasnya. Sampai tiba saat ia harus terluka karena sebuah kulit pisang yang tergeletak disela-sela batu itu.

            Gubrakkk!

            Shittt! Sakit banget!” Mei kesakitan sambil mencoba bangkit dari jatuhnya. Ia seka sisa-sisa tanah yang menempel pada tumit dan lutut yang sedikit mengeluarkan darah itu.

            Ia bangkit dengan sekuat tenaga. Kali ini langkahnya agak sempoyongan menahan sakit. Namun, ternyata tekad untuk tiba lebih cepat amat sangat berpengaruh dibanding rasa sakit yang terus-menerus menghantui.

            Setelah sekitar 15 menit ia bergelut dengan rasa sakit pada bekas luka yang beberapa waktu lalu mendera, akhirnya ia tiba di tempat yang seharusnya ia datangi 60 menit lebih awal.

            Matanya ia edarkan ke seluruh penjuru. Mencari satu dari sekian ribu manusia yang tengah berlalu-lalang. Ia bukan perempuan bodoh, jika saja handphone nya sempat ia bawa sebelum berangkat pasti ia akan segera menghubungi orang yang akan ditemuinya itu.

            “Apa dia udah pulang yah?” tanya Mei pada dirinya sendiri.

            Setelah lelah mencari sesuatu yang tak kunjung ia temukan, akhirnya Mei memutuskan untuk tetap membeli tiket masuk sebuah event Jepang yang tadinya akan ia datangi bersama rekannya itu.

            Semua berjalan diluar ekspektasi. Mei menikmati keseruan event hanya seorang diri. Sorak-sorak orang bergembira hanya seperti teriakan seekor semut yang sedang meneriaki dirinya. Sunyi, sepi. Itu yang ia rasakan.

            Wajah yang sengaja ia poles dengan make up agar terlihat lebih cantik ia bentuk tertekuk seolah tak semangat. Hingga tiba di penghujung acara. Saat Tulus menyanyikan sebuah lagu penutup berjudul “Monokrom”, Mei berdiri di barisan tengah sambil sesekali tersenyum membayangkan hal-hal indah jika saja saat ini ia ditemani rekannya itu.

            “Mei?!” sebuah suara pria menghentikan lamunannya itu. Sontak matanya langsung tertuju pada kemungkinan arah suara itu berasal.

            Dahi nya bergeming. Alisnya yang agak tebal sengaja ia naikkan dari posisi asal. Mulutnya ia biarkan sedikit terbuka.

            “Alvin?” nada suara Mei agak meninggi karena masih tidak percaya akan bertemu dengan pria itu ditempat seperti ini.

            Bukannya Alvin yang mendekat ke arah Mei, melainkan Mei yang mendekat ke arah Alvin. “Vinnnn...” ucap Mei sambil masih setengah tidak percaya.

            “Apa kabar?” tanya Alvin ketika jarak Mei dan dirinya hanya beberapa centi.

            Kedua mata Mei berbinar. Cahaya lampu-lampu yang ada di sekitar yang memantul pada bayangan mata Mei membuat matanya semakin bercahaya. Mei tidak menjawab pertanyaan Alvin. Yang ia lakukan hanya menatap mata Alvin dan membisu.

            Alvin terheran dengan tingkah Mei yang seperti itu. Sekilas ia melihat luka pada tumit dan lutut Mei yang sudah terlihat samar-samar. Diraihnya tangan Mei secara seketika dan berhasil membuat kebisuan dan lamunan Mei terpecah belah.

            “Tumit kamu kenapa? Lutut kamu juga!” tanpa basa-basi Alvin segera menghujani Mei dengan berbagai pertanyaan.

            Degh...

            “Tadi akuuu...”

            Belum sempat Mei menjawab, tiba-tiba saja tangan nya ditarik paksa oleh seseorang yang entah datang dari arah mana.

            “Mei! Kamu kemana aja? Aku khawatir. Handphone kamu kenapa gak bisa dihubungi? Aku kira kamu gak jadi dateng?” ucap pria bertubuh standar dengan kulit sedikit cokelat ke timur-timuran serta berparas lumayan itu.

            “Lielllll... yaampun daritadi aku cari kamu, handphone ku ketinggalan dirumah. Tadi aku juga kesiangan. Aku kira kamu yang gak jadi dateng, jadi aku beli tiket sendirian.”

            “Yaampunnnn, ceroboh banget sih Mei ku iniiii.” Gemas Liel-pacar Mei sambil mencubit kedua pipi Mei secara bersamaan.

            Melihat itu, Alvin segera berpamitan kepada Mei dan juga Liel.

            Mei yang baru sadar dengan kepergian Alvin segera mengejar langkah Alvin karena merasa tidak enak sudah menghiraukan keberadaannya. Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Alvin kembali melangkah pergi meninggalkan Mei dan juga Liel.
           
Setelah pertemuan tak terduga itu, Alvin dan Mei menjadi sering berkomunikasi intents. Malah tak jarang, Alvin sering menemani Mei melepas jenuh ketika Liel tak bisa menemaninya.

Keduanya seolah tengah de javu. Mengulang semua masa-masa indah yang pernah mereka rangkai tatkala masih bersama dulu. Membuat perhatian Mei teralihkan sepenuhnya pada Alvin sehingga Liel sudah tak ia anggap keberadaannya lagi.

Menyadari ada yang berubah pada diri Mei, Liel bertanya-tanya dan sebisa mungkin mencari tahu apa penyebab Mei seperti itu.

Awan cerah seolah berubah jadi mendung, suara ramai burung-burung bersahutan seolah lenyap begitusaja, semilir angin yang menyejukkan hati juga seolah terhenti. Semangatnya benar-benar hilang. Jiwa nya benar-benar melemah. Ia begitu mencintai Mei dengan setulus hati. Perempuan pertama yang membuat ia merasa jadi manusia paling beruntung. Bagaimana tidak? Perempuan secantik dan sebaik Mei mau ketika ia ajak berkencan meskipun dengan keadaan diri yang jauh dari kata sempurna.

“Mei...” desah nya pelan sambil memandang kosong ke arah lapangan bola yang terletak di depan nya.

Dari kejauhan, terlihat Mei sedang berjalan kearah Liel. Mei tersenyum, tapi senyum itu terasa asing bagi Liel.

Mei mengambil posisi duduk tepat disebelah Liel. Diraihnya tangan Mei dengan lembut. Tapi Mei seolah menjauhkan tangannya dan menjaga jarak. Membuat rasa bingung Liel kian membesar.

“Mei...” Liel membuka percakapan.

“Liel... maaf.” Sergah Mei.

“Aku udah gabisa lanjutin hubungan kita. Maaf...”

Liel tak terlalu kaget mendengar pernyataan Mei yang secara tiba-tiba itu. Ia sudah menduga hal seperti ini akan segera datang. Hanya saja, rasa tak pernah bisa sekalipun berdusta. Ia masih ingin Mei terus bersamanya. Meskipun ia tahu, segala hal tentang ia dan Mei sudah tidak lagi berarti bagi kekasih yang sudah menemani selama 2 tahun itu.

Matanya ia palingkan lagi pada arah lapangan. Berharap Mei tidak melihat bulir-bulir bening yang sudah menghias dikedua kelopak matanya itu. Diam. Tersenyum. Tabah. Hanya itu yang mampu ia persembahkan.

Melihat tidak ada respon dari Liel, Mei segera beranjak pergi meninggalkan Liel yang terdiam tanpa melontarkan salam perpisahan.

Dengan langkah yang kokoh dan berat hati, Mei menyeka sisa-sisa air mata yang tumpah dari kelopak matanya. Ia yakin keputusan ini yang terbaik untuk mereka berdua. Ia juga yakin, Alvin lebih baik daripada Liel.

Dua tahun berlalu, bangunan-bangunan kota semakin banyak berubah. Suara kicauan burung-burung kala pagi menyapa sudah jarang ia dengar. Udara yang bersih sudah terganti dengan partikel-partikel debu yang semakin merajalela.

Dengan kemeja putih dilengkapi rok hitam selutut, Mei duduk di sebuah ruang tunggu sebuah kantor untuk keperluan interview. Menit berganti menit, tiba gilirannya untuk masuk ke ruang HRD. Tok.. tok.. pintu diketuk. Suara dari balik pintu memerintahkan untuk langsung masuk. Ketika pintu dibuka, Mei sedikit tercengang. Namun ia berusaha untuk bersikap profesional dan segera duduk di hadapan sang HRD.

Pertanyaan demi pertanyaan dilayangkan kepada Mei. Dan setelah pertanyaan terakhir terjawab. Mei spontan mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi ingin dikeluarkan.

“Apa kabar, Liel?”

Sekilas Liel tersenyum, tapi masih bersikap profesional. “Baik, kamu?”

“Aku juga. Kamu bukannya bekerja di daerah Jakarta Timur?” tanya Mei.

“Satu tahun yang lalu di mutasi ke sini.” Jawab Liel masih dengan senyum.

“Kamu sudah menikah?” tanya Mei tiba-tiba.

Liel hanya tersenyum membisu dengan bola matanya ia arahkan pada cincin di jari manis sebelah kanan yang terpasang ditangannya seolah memberikan jawaban penuh atas pertanyaan Mei.

Mei terpaku. Rasa sesak seketika menguasai hati nya. “Ah ya selamat kalau begitu.”

“Alvin, apa kabar?” tanya Liel.

“Aku sudah tidak bersama Alvin. Dia tidak sebaik kamu.”

“Cintai seseorang apaadanya jika kamu ingin bahagia.” Ungkap Liel.

“Liel... maaf dulu aku jahat dan aku bodoh.”

“Sudah, yang berlalu biarlah berlalu. Justru saya ingin berterimakasih, terimakasih telah melepas dan menyadarkan saya. Berkat kamu saya bisa bertemu dengan istri saya. Terimakasih, Mei.”

Kata-kata yang diucapkan Liel seakan menusuk. Sesegera mungkin Mei pamit dan keluar dari ruangan itu. Menyeka dan sebisa mungkin menyembunyikan air mata yang hampir pecah. Ia menyesal atas apa yang dulu ia sia-siakan. Ia sadar telah meninggalkan orang baik demi apa yang ia anggap baik.

             “Adalah aku, manusia beruntung yang selalu meniadakan keberuntungan itu.” -Mei


Rabu, 19 Juli 2017

Cerpen "Ashilla"

Ashilla
Oleh: Yenti Siti Nuryaman

“Mungkin ini alasannya kenapa kamu gak boleh jatuh cinta sama aku.”

Aku Ray, bernama lengkap Rayhard Delnoa. Aku tumbuh seperti remaja kebanyakan. Yaaa... tampangku bisa dibilang lumayan, apalagi aku dianugerahi hidung mancung yang membuat sebagian warga Indonesia iri karna kabarnya penduduk Indonesia sebagian besar berhidung pesek. Entahlah? Keluarga ku terbilang kaya raya. Harta kami berlimpah, rumah kami mewah, mobil kami beberapa buah. Hanya saja, aku miskin dalam hal lain. Yaitu miskin kasih sayang. Ayah dan ibuku pebisnis yang sukses sehingga menjadikan mereka sibuk setiap detiknya dan karna mereka sudah berbeda visi dan misi lagi jadi mereka memutuskan berpisah ketika aku masih berumur 7 tahun. Aku memilih tinggal dengan Ibuku. Sementara Ayah ku kabarnya menikah lagi tak lama setelah perceraian. Meskipun begitu, kegiatan Ibuku tak berubah sama sekali. Ia masih tetap sibuk setiap harinya.  Jika kebanyakan para pekerja menganggap kantor adalah rumah kedua setelah rumah sesungguhnya, maka lain halnya dengan ibuku. Ia malah menjadikan rumah kita adalah rumah kedua setelah kantor. Ibu jarang pulang, aku hanya bisa melihat Ibu kurang lebih dua kali dalam seminggu. Sehingga membuat jarak diantara kami semakin lebar. Tapi, aku tak lagi peduli. Aku sudah terbiasa hidup sendiri tanpa perlu teman, bahkan pacar. Aku terlalu malas untuk terlibat dalam cinta atau persahabatan konyol yang berujung pengkhianatan. Sampai tiba saat... aku jatuh cinta.

Hatiku untuk pertama kali dicuri oleh gadis sederhana dengan kelembutan hati dan keramahan sikapnya. Entah kenapa dia yang terpilih dari sekian banyak gadis cantik dan baik yang mendekatiku. Yang jelas, ini pertama kalinya aku memutuskan untuk terlibat dalam hidup seseorang. Pertama kalinya aku menyerah atas alasan cinta. Dan pertama kalinya aku ingin mengubah haluan hidupku.

“Ashilla, aku suka kamu.” Ungkap ku padanya memberanikan diri ditengah rintik saat hari menuju penghabisan. Berharap suara ku terdengar meskipun harus bersaing dengan bising nya ibu kota. Serta menguatkan diri meskipun tahu aku akan ditolak saat itu juga.

“Kamu lucu, tapi maaf aku tidak akan semudah perempuan-perempuan yang berbaris minta kamu pacari.” Jawab dia sadis tetapi sambil memberikan senyum indah diujung kalimatnya.

Aku tercengang, kaget aku dibuatnya. Ini pertama kalinya dia mengeluarkan kata yang tajam sampai menusuk hati. Tapi anehnya aku sedikit lega, pasalnya dengan begitu aku tahu bahwa dia perempuan baik-baik yang tidak dengan mudah menerima sembarang pria untuk jadi pacarnya dengan dalih sebagai koleksi.

“Kamu lebih lucu, aku jadi makin suka.” Ucap ku seraya tersenyum sumringah sambil memusatkan penglihatanku pada paras nya yang ayu.

“Ray, berhenti bercanda. Tujuan kita kesini untuk tugas observasi kan?” Ashilla memalingkan wajahnya sambil menyibukkan jari nya pada sebuah buku yang terus-menerus dibolak-balik lembar per-lembarnya.

“Suatu saat nanti kamu harus mau yah jadi pacar aku.” Goda ku padanya.

“Tau ah!” singkat Ashilla.

Sekilas aku melihat ada rona merah dikedua pipinya sebelum kemudian ia beranjak pergi dari hadapanku dengan tampang sebal.

**

“Shilla!”  teriakku pada seseorang yang jaraknya hanya berkisar beberapa meter saja.

“Hei,” sapa balik Ashilla ramah masih dengan senyuman andalannya.

“Tuhan seolah tahu, aku perlu lihat kamu tiap hari.” Goda ku tak tertahankan.

“Apasih Ray, bercanda mulu. Ada perlu apa?” tanya Shilla.

“Enggak, Cuma mau nyapa aja hehe.” Jawabku asal. Padahal harusnya “Karna aku kangen hehe.” Tapi aku tak mampu mengeluarkan kata itu karna aku terlalu malu.

“Emm gitu, yaudah aku duluan yah bye.” Lambaian tangan Shilla seolah menghipnotis ku. Dalam beberapa detik setelahnya, mataku terdiam diposisi lurus dengan posisi Shilla. Melihat kepergian nya sampai punggung nya hilang dari jangkauan penglihatanku. Ah ditinggal lagi. Gerutu ku dalam hati.

**

Langit keorenan. Ah aku suka itu. Matahari sudah berada di posisi setengah pamit. Itu tandanya seluruh keindahan alam semesta tergambar dengan nyata dengan waktu yang singkat. Entah kenapa aku paling suka menunggu dan menatap senja. Senja bagiku bukan hanya orange, tapi teduh dan damai. Seolah apa yang terjadi hari ini akan lenyap bersamaan dengan tenggelamnya sang mentari. Dan mengisyaratkan untuk beristirahat sejenak bersama dengan tebaran bintang yang berkedip-kedip sambil menunggu hari esok yang ditandai dengan munculnya sinar mentari baru sebagai pertanda dimulainya pelajaran baru.

Senja yang ku nikmati kali ini berbeda. Meskipun dengan langit yang sama. Tapi, ada pelengkap jiwa yang menambah kenikmatan senja kali ini. Aku dan Shilla menghabiskan senja bersama di atas bukit tepi sungai yang menjadi tempat favorite kami. Secara tiba-tiba saja aku membelah senja dengan perkataan yang mungkin tidak tepat. Tapi apa boleh buat? Aku sudah tidak tahan karna terus menerus menahan rindu dan luka sendirian.

“Shil, kira-kira kapan kamu bales perasaan aku?” tanya ku asal.

“Apasih Ray, jangan mulai deh.” Cuek Shilla.

“Emang kenapa sih ko kamu gak mau coba buat suka sama aku? Apa kedekatan kita selama ini masih kurang? Apa perhatian yang aku beri selama ini masih buat kamu gak sadar kalo aku sungguh-sungguh suka kamu.” Tanya ku dengan nada sedikit tinggi.

“Karna aku terlalu pengecut buat ambil resiko! Dan kamu gak akan pernah bisa ngerti!” seketika saja tangis Ashilla pecah. Ia berlari begitu saja tanpa penjelasan meninggalkan luka dan tanya yang begitu besar.

**

Semenjak kejadian itu, Ashilla seolah menghindar dariku. Ia tak pernah lagi mau membalas pesan singkat yang terus menerus ku kirim. Bahkan ia kerap kali memilih jalan lain agar tak berpapasan dengan ku. Aku merasa sangat kehilangan. Rindu dan luka yang ia tinggalkan semakin membesar.

Sampai tiba saat Ibuku yang jatuh cinta lagi pada duda satu anak yang tak lain akan menjadi saudara ku. Beruntungnya, cintanya tidak sepihak sepertiku. Ia dan kekasihnya memutuskan untuk menikah. Dan hari ini tepat hari lamarannya. Jantungku berdegub kencang. Aku akan punya ayah baru. Aku akan punya saudara baru. Aku akan punya keluarga baru.

*ting tong

Bel rumah ku berbunyi, menandakan bahwa pihak pelamar yang tak lain adalah calon Ayah baru ku sudah datang. Aku sesegera mungkin membuka pintu dan menyambut hangat mereka.

Tetapi tiba-tiba langitku seketika runtuh. Senja ku seketika terampas. Bahagia ku seolah tidak akan pernah muncul lagi. Selama prosesi lamaran berlangsung aku hanya diam mematung tak percaya. Rasa sesak didada terasa sangat nyata.

“Hei,” aku memutuskan untuk menyapa calon adikku.

Dia menoleh sambil membalas sapaan ku dengan ramah, “Hei”

“Apa kabar?” tersirat kepedihan dan luka lama yang tersentuh kembali saat aku bertanya.

“Lucu yah, ternyata aku rindu.” Jawab gadis itu seolah tak menghiraukan luka yang dengan susah payah ku kubur.

Aku hanya terdiam tak sanggup meneruskan perbincangan. Akhirnya aku memutuskan untuk beranjak karna tak kuasa menahan pedih.

“Mungkin ini alasannya kenapa kamu gak boleh jatuh cinta sama aku.” Tiba-tiba saja perkataannya menghentikan langkahku. Aku hanya bisa menoleh memberikan senyuman terbaik sambil menahan sakit yang lagi-lagi terasa.

Ashilla yang aku cintai, Ashilla yang berhasil membuka hati ku untuk yang pertama kalinya. Ashilla yang ku harap jadi cinta terakhir. Ashilla yang ku harap akan menjadi jodohku. Ternyata dia akan jadi adik tiriku. Adik yang harus aku jaga. Adik yang hanya boleh dicintai sebatas “Adik”. Adik yang tidak bisa menjadi jodohku.

Semua tentangmu masih jadi topik utama di pikiran ku, Ashilla.